Untuk Pertama Kalinya, Petani Terima Sertifikat Kebun Sawit Berkelanjutan

Share Article
Credit Photo: WWF Indonesia

Di tengah serangan terhadap maraknya invasi perkebunan kelapa sawit yang merusak, sebuah kelompok petani yang menamakan Asosiasi Petani Sawit Swadaya Amanah asal Riau menerima sertifikat kabun sawit yang berkelanjutan. Sertifikat tersebut tak main-main karena diterbitkan oleh lembaga kredibel Roundtable of Sustainable Palm Oil atau RSPO.

Para petani dari Kecamatan Ukui, Kabupaten Palalawan, Riau, ini mengklaim pengakuan ini adalah yang pertama kalinya yang diberikan RSPO untuk kelompok tani di Indonesia. Kesan bahwa kelompok tani dianggap tak berdaya dan acuh terhadap isu keberlanjutan atau sustainable terpatahkan dengan pemberian sertifikat ini.

Asosiasi petani ini beranggotakan 349 petani swadaya yang dibentuk oleh WWF-Indonesia dan didaftarkan ke RSPO dalam mekanisme sertifikasi kelompok. Anggota asosiasi ini memiliki lahan di luar Taman Nasional Tesso Nilo.

Sertifikasi RSPO untuk Asosiasi Petani Sawit Swadaya Amanah asal Riau ini menjadi bukti petani dapat menghasilkan kelapa sawit secara efisien dan lestari, begitu rilis yang disampaikan pendamping para petani dari WWF-Indonesia. Disebutkan, Sertifikat yang dikeluarkan 29 Juli 2013 ini menjadi yang pertama bagi petani swadaya di Indonesia dan kedua di dunia.

“RSPO menyambut baik pencapaian proyek petani swadaya di Indonesia, dimana petani berkontribusi sebesar 40% dari produksi kelapa sawit nasional,” kata Sekretaris Jenderal RSPO Darrel Webber.

Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian, lebih dari 40% total produksi kelapa sawit Indonesia berasal dari perkebunan rakyat. Di Riau sendiri, sekitar 1,1 juta hektar lahan kebun kelapa sawit dikelola oleh petani dimana 76% diantaranya dikelola oleh petani swadaya.

Salah satu hambatan terbesar bagi petani untuk menuju pengelolaan berkelanjutan adalah kurangnya informasi dan pemahaman mengenai teknologi pertanian. Alternatif untuk mengatasi hambatan tersebut adalah melalui peningkatan pengetahuan dan produktivitas petani swadaya. Melalui upaya ini diharapkan perluasan lahan kebun sawit dengan cara tidak lestari dapat ditekan.

“WWF-Indonesia memandang petani swadaya sebagai bagian penting dalam industri sawit di Indonesia. Kami menaruh harapan besar agar program sertifikasi RSPO yang ditempuh Asosiasi Amanah dapat di adopsi lebih luas dan menjadi contoh pengelolaan kebun sawit yang berkelanjutan bagi petani swadaya lainnya di Indonesia,” kata Efransjah, CEO WWF-Indonesia.

Dengan dukungan dari Kementerian Pertanian, Pemerintah Daerah Riau, RSPO, Carrefour Foundation International dan PT. Inti Indosawit Subur, WWF-Indonesia memfasilitasi pembentukan Asosiasi Petani Sawit Swadaya Amanah sebagai perintis sertifikasi RSPO bagi petani swadaya setelah melalui proses identifikasi yang dilakukan sejak 2011. Sebanyak 349 petani swadaya yang memiliki lahan lebih dari 763 ha di sekitar Taman Nasional Tesso Nilo bergabung dengan Asosiasi Amanah.

Sekretaris Jenderal RSPO Darrel Webber memaparkan, aktivitas petani swadaya berhubungan langsung dengan sumber daya alam sehingga mereka perlu memahami manfaat sertifikasi, misalnya akses terhadap permintaan internasional untuk kelapa sawit berkelanjutan; serta manfaat jangka panjang seperti efisiensi produksi, peningkatan produktivitas dan biaya pengelolaan yang efektif. “Inilah yang mendorong kami untuk membuat program RSPO’s Smallholders Fund Initiative, untuk mendukung pembiayaan sertifikasi petani swadaya.”

Manfaat langsung telah dirasakan oleh petani anggota, seperti diungkapkan oleh Haji Sunarno, Manager Asosiasi Amanah, “Sebelum pelatihan diberikan, produksi rata-rata petani 20 ton tandan buah segar (TBS) per tahun. Dalam empat bulan pertama setelah pelatihan, hasil meningkat dengan proyeksi lebih dari 24 ton per tahun. Perlu dicatat empat bulan pertama ini adalah musim kering, sehingga produktivitas lebih rendah, tapi tetap saja hasilnya lebih baik daripada sebelumnya,” ungkap Sunarno.

Melalui pelatihan implementasi prinsip dan kriteria RSPO, petani swadaya memperoleh pemahaman mendalam mengenai lingkungan hidup. “Faktor lingkungan menjadi pertimbangan anggota Amanah dalam perluasan kebun kelapa sawit. Mereka hanya akan memperluas lahan ke kawasan yang diperuntukkan bagi perkebunan, bukan kawasan bernilai konservasi tinggi maupun daerah perlintasan satwa,” lanjut Sunarno.

Menurutnya, 132 petani swadaya lainnya telah menyatakan keinginan mereka untuk bergabung dengan RSPO melalui Amanah. “Pada awalnya mereka meragukan manfaat yang diberikan oleh sertifikasi RSPO. Setelah mereka melihat peningkatan kemampuan dan produktivitas anggota Amanah, mereka tergerak untuk bergabung dengan kami, sebagai petani swadaya yang tersertifikasi oleh RSPO.” (*/adm)

loading...

Leave a Reply