Soal Pemalsuan Tanda Tangan, Penjelasan Djoko Susilo Dianggap Tak Logis

Share Article
Credit Photo: Kilasfoto.com

Ketua Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta yang mengadili terdakwa Irjen Djoko Susilo, tampak tak puas mendengarkan penjelasan terdakwa Irjen Djoko Susilo terkait pemalsuan tanda tangan yang dilakukan anak buahnya, Komisaris Legimo. Penjelasan soal alasan Legimo memalsukan tanda tangan dianggap tidak nyambung dengan logika.

Hal itu terungkap dalam sidang lanjutan perkara dugaan korupsi pengadaan simulator berkendara Kors Lalu Lintas Polri pada Kamis (1/8) yang mengagendakan pemeriksaan Djoko Susilo sebagai terdakwa. Suhartoyo mencecar dua logika penjelas yang disampaikan Djoko yaitu terkait pemalsuan tanda tangan Djoko oleh Komisaris Legimo dan penjelasan soal kedatangan tim dari Bank BNI.

Djoko menjelaskan, ada pemalsuan tanda tangan dirinya dan juga tanda tangan Wakil Korlantas Brigjen Didik Purnomo yang dilakukan Komisaris Legimo. Legimo adalah Mantan Bendahara Korlantas yang juga orang kepercayaan Djoko.

Pemalsuan tanda tangan oleh Legimo tersebut dibubuhkan pada dokumen Surat Perintah Membayar yang dikirimkan ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) untuk pencairan anggaran. Pencairan anggaran ini juga ganjil karena dilakukan pada Maret 2011 ketika proyek belum dikerjakan dan baru saja selesai lelang pada Februari 2011.

Proyek simulator 2011 ini memiliki pagu anggaran Rp 56 miliar untuk pengadaan 700 unit simulator berkendara roda dua dan Rp 124 miliar untuk simulator berkendara roda empat sebanyak 556 unit.

Djoko bercerita soal tanda tangan palsu karena ditanya soal pembayaran 100 persen yang sudah dilakukan pada Maret 2011 ketika proyek belum selesai. Djoko menjelaskan, dokumen SPM yang diperlukan untuk pencairan dana proyek sudah dipalsu oleh Legimo sehingga dana bisa cair.

“Yang dipalsu SPM saya tanggal 17 Maret waktu pencairan untuk roda dua, karena tanda tangan ini yang dikirim ke KPPN,” kata Djoko. “Tahu dari mana kalau itu tanda tangan palsu?” tanya Suhartoyo.

“Dari pemeriksaan di Bareskrim,” jawab Djoko. “Apa tindakan Bareskrim setelah tahu itu tanda tangan palsu? Apa bisa dijadikan pembenar untuk jawaban Saudara? Kita cari argumentasi logis lah,” kata Suhartoyo.

Selain membahas soal pemalsuan tanda tangan, Djoko mengaku memang pernah tanda tangan satu berkas dokumen hanya saja lupa kapan tanggalnya. Djoko tak bisa menjelaskan apakah berkas yang dibawa ke KPPN tersebut versi tanda tangan Djoko yang asli ataukah memang yang benar-benar dipalsu Legimo.

“Apa kepentingan Legimo memalsukan? Sementara yang asli sudah tersedia? Sementara pemeriksaan soal tanda tangan palsu di Bareskrim tak ada perkembangan. Bareskrim diam saja sementara Legimo sudah membantah, bagaimana?” kata Suhartoyo. Terdakwa Djoko hanya terdiam. (adm)

loading...

Leave a Reply