Sebelum Pintu Hati Yang Mulia Tertutup

Share Article

“Untuk tanah-tanah yang dijadikan bukti di persidangan ini, bila

mereka bisa berbicara, pasti akan lantang untuk memohon tidak

dijadikan saksi kepalsuan, karena alam tidak pernah berdusta,” kata

Endah Rumbiyanti di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu

(19/6).

Berbagai macam logika, cerita, bahasa, dan perumpamaan dicoba gunakan

oleh Rumbi, nama akrab Endah Rumbiyanti, Manajer Lingkungan Chevron,

untuk mengetuk pintu hati para anggota Majelis Hakim yang diketuai

Sudharmawatiningsih. Kali ini, Endah berusaha berbicara kepada

tanah-tanah tercemar minyak tanah yang dijadikan alat bukti dalam

sidang dugaan korupsi bioremediasi fiktif PT Chevron Pacific

Indonesia.

“Suatu saat nanti, saya akan bertemu dengan tanah-tanah itu,

sebagaimana mereka juga akan bertemu kita semua, dan saat itulah dapat

diketahui apakah mereka merengkuh kita dalam damai, atau akan

menghantui kita dalam kekelaman karena kepalsuan yang dijadikan dasar

semua kezaliman ini,” papar Rumbi.

Dalam pledoi atau nota pembelaannya, Rumbi tak tahu dengan cara

apalagi ia bisa mengetuk nurani para hakim. Fakta sebelumnya, berbagai

bukti meringankan dan logika yang diajukan dua terdakwa dari

kontraktor Chevron telah gagal mengetuk nurani para hakim. Mereka

adalah Herlan bin Ompo dan Ricksy Premeturi yang telah divonis

bersalah dengan hukuman enam tahun dan lima tahun penjara.

Mengerikan sekaligus mengharukan ketika mendengarkan pledoi para

terdakwa yang kini sedang diambang pintu untuk menerima nasib Majelis

Hakim Yang Mulia. Selain Rumbi, dua terdakwa dari pegawai Chevron,

yaitu Kukuh Kertasafari dan Widodo, juga sedang mengajukan pledoi ke

hadapan majelis hakim.

Argumentasi hukum untuk ketiga terdakwa itu mirip satu sama lainnya,

tinggal bagaimana cara para terdakwa menyentuh nurani hakim. Kukuh

mengisahkan bagaimana harapan keluarganya yang akan pindah ke Amerika

Serikat untuk menduduki posisi bagus di Chevron akhirnya kandas karena

kasus ini.

Sebagai pengurus masjid di lingkungannya, tuduhan korupsi ini

meluluhlantakkan sendi-sendi kemanusiaan Kukuh. Selain pengurus

masjid, Kukuh adalah Lembaga Amil Zakat Nasional karyawan Chevron,

juga sebagai Rumah Hafalan Quran di Minas. Penetapan statusnya sebagai

tersangka, tak hanya diratapi keluarganya tapi juga oleh masyarakat

sekitarnya yang tahu kiprah Kukuh.

Dalam pembelaan Kukuh dan Rumbi, terungkap ketika pertama kali

diperiksa, para penyidik Kejaksaan Agung juga terkejut mengapa dua

orang tersebut yang jabatannya tak ada kaitannya dengan proyek

bioremediasi bisa menjadi tersangka. Widodo sendiri baru akan

menyampaikan pledoi pada Jumat (21/6).

Logika keras yang terkait perkara, memang sudah terbukti tak ada

pengaruhnya bagi majelis hakim karena mereka telah memutus bersalah

dua terdakwa lainnya. Karena itu, bisa dipahami pledoi Rumbi lebih

fokus pada bagaimana membuka nurani suci anggota majelis, nurani yang

tak mungkin bisa diintervensi pihak lain.

Rumbi memilih mengisahkan nasib lima orang anak yang ia tinggalkan

dengan bahasa yang santun, diksi yang kuat, dan ekspresif. Ia

mengungkapkan, anak-anaknyalah yang sebenarnya lebih terkena dampak

atas kasus ini.

Kepada majelis hakim, Rumbi mengungkapkan masih percaya pengadilan

ini adalah satu-satunya tempat yang harus dipercaya dan ditunjukkan

sebagai tempat menegakkan keadilan dan kebenaran. “Putusan bersalah

Majelis Hakim akan diratapi, bukan hanya oleh anak-anak saya, tetapi

akan ditangisi ribuan karyawan dan keluarganya, ribuan akademisi,

ribuan ibu, karena melihat dan merasakan hukum belum berpihak kepada

kebenaran,” kata Rumbi.

Namun, kata Rumbi, putusan babas akan disyukuri dengan sujud syukur

oleh keluarga dan kolega, karena putusan bebas itulah putusan yang

berpihak kepada kebenaran yang dikemukakan selama persidangan ini

serta kenyataan sesungguhnya. “Saya menghormati Majelis Hakim, karena

Hakim adalah Jabatan yang Mulia. Saya percaya ketika nurani kita

gunakan untuk menilai satu perkara, suara nurani akan melahirkan

keberanian untuk menegakkan keadilan,” kata Rumbi.

Air mata Rumbi tak terbendung lagi ketika ia memperkenalkan satu per

satu anak-anak Rumbi. Saat bersamaan, mata para pengunjung sidang juga

tampak berkaca-kaca, tak kuasa menahan haru dan derita Rumbi. Rumbi

memperkenalkan anak-anaknya dengan disertai foto mereka.

Rumbi bercerita, ada seorang anak perempuan, berusia 13 tahun. Sang

anak memiliki persepsi, hakim-hakim yang mengadili ibunya adalah

Jahat. Kepada puterinya, sang ibu mengatakan berkali-kali , para hakim

itu adalah orangtua yang bijaksana, mereka representasi Tuhan di

dunia.

“Nak, para hakim, yang mengadili Ibu adalah orangtua juga, sama

seperti Ibu, mereka adalah juga orangtua yang bijaksana, terlebih

karena mereka mengadili nasib manusia. Mereka adalah representasi

Tuhan di dunia. Maka dipilihlah orang-orang yang bijaksana dan

bernurani untuk duduk sebagai hakim,” kata Rumbi.

“Yang Mulia, anak perempuan itu, bernama Carissa, dengan ibu bernama

Rumbi. Ini anak saya yang mulia, yang selalu mengirimkan foto penuh

senyuman untuk menyemangati ibundanya setiap akan maju sidang,” Rumbi

terisak sambil mengangkat foto anaknya.

“Bapak, Ibu Hakim, mohon bantu saya, untuk meyakinkan Carissa, bahwa

apa yang saya katakan tentang Bapak dan Ibu Hakim adalah orang yang

bijaksana itu benar. Bantu saya Yang Mulia,” pinta Rumbi sambil

menyeka air matanya.

Suasana makin hening, Rumbi kembali memperkenalkan anak bungsu. “Ada

seorang anak berusia 2,5 tahun pergi ke penjara untuk bertemu ibunya.

Anak itu sering pergi menemui ibunya, dan mengerti ketika melihat ada

petugas berseragam mendekat, dia serta merta memeluk ibunya,” kata

Rumbi.

“Ibu Hakim, tahu kenapa? Karena dia tahu, itulah saat dia harus

berpisah dengan ibunya. Dan inilah anak itu, Gaza Ghifari Kertanegara,

putera bungsu saya,” Rumbi mencium foto anaknya itu begitu dalam. Para

pengunjung banyak yang tak kuasa menahan lelehan air mata ketika satu

per satu anak-anak Rumbi diperkenalkan dengan cara yang menyentuh.

Rumbi mengisahkan anaknya yang lain. Suatu kali, ada anak laki-laki

berusia 8 tahun, yang selalu ingin memastikan kondisi ibunya aman

ketika disidang. Dalam benaknya, ibunya duduk sendiri di tengah,

seperti yang pernah dia lihat di TV, dan ibunya dimarahi banyak orang

dari berbagai sisi.

“Nalurinya membuat dia ingin melihat ibunya langsung, memohon datang

ke sidang dan berusaha masuk, namun diusir karena usianya tidak cukup.

Deraan beban yang besar harus ditanggung anak sekecil itu,” kata

Rumbi. Akhirnya, anak itu pun kemudian jatuh sakit dan dalam

baringnya, tanpa pendampingan Ayah Ibunya, ia masih sering bertanya

tentang Ibunya kepada yang menjaganya.

“Apakah Ibu saya masih dimarahi di sidang?” begitu Rumbi mengisahkan

anaknya yang bernama Dio. “Ini anak saya yang ketiga Yang Mulia, saat

dia terbaring sakit tanpa orangtuanya di sisinya,” kata Rumbi sambil

mengangkat foto anaknya.

Lewat kegetiran anak-anaknya, Rumbi berusaha mengetuk pintu hati hakim

sebelum benar-benar tertutup. Palu Majelis Hakim akan segera diketok.

Bersalah atau tidak nantinya mereka, akan bergantung pada keyakinan

majelis hakim. (Amir Sodikin)

loading...

Leave a Reply