Samudra Atlantik : Kekuatan Pendorong Sirkulasi Laut dan Kegemaran Manusia pada Ikan Kod

Share Article
Kapal memancing memasuki Le Guilvinec, Brittany, Prancis. Photoneye/Shutterstock

Suzanne OConnell, Wesleyan University dan Pascal Le Floc’h, Université de Bretagne occidentale

Apakah Samudra Atlantik tertutup dan kemudian terbuka kembali?”

Itulah pertanyaan yang diajukan dalam makalah tahun 1966 oleh ahli geofisika asal Kanada, J. Tuzo Wilson.

Jawabannya? Ya, selama jutaan tahun.

Dan, pecahnya benua Pangaea sekitar 180 juta tahun yang lalu yang mulai menciptakan cekungan Samudera Atlantik seperti yang kita kenal sekarang.

Permukaan Bumi terbentuk dari lempeng tektonik yang berpotongan.

Dalam sebagian besar sejarah planet Bumi, lempengan-lempengan ini bertabrakan satu sama lain membentuk rantai pegunungan dan gunung berapi, dan kemudian pecah, membentuk lautan.

Ketika Pangaea ada, sangat mungkin berjalan kaki dari sisi timur Amerika Utara ke sisi barat Benua Afrika.

Ahli geologi tidak tahu apa yang menyebabkan benua terpecah, tapi kita tahu bahwa ketika retakan terjadi, benua menipis dan terpisah. Magma menyusup ke batuan benua.


Artikel ini adalah bagian dari serial Oceans 21
Lima profil samudera dunia membuka serial kami mengenai lautan global, menyelami jaringan perdagangan kuno Samudrra Hindia, polusi plastik di Samudra Pasifik, cahaya dan kehidupan di Samudra Arktik, perikanan Samudera Atlantik, dan dampak Lautan Selatan terhadap iklim global. Nantikan artikel-artikel terbaru menjelang COP26. Semua ini persembahan dari jaringan internasional The Conversation.

Bagian tertua dari kerak di Samudra Atlantik terletak di Amerika Utara dan Afrika, yang dulu bergabung dalam Pangaea.

Bagian ini menunjukkan bahwa kedua benua ini terpisah sekitar 180 juta tahun yang lalu, membentuk cekungan Samudra Atlantik Utara.

Bagian lain dari Afrika dan Amerika Selatan terpecah sekitar 40 juta atau 50 juta tahun kemudian, menjadi cekungan Samudra Atlantik Selatan.

Magma mengalir ke atas dari bawah dasar laut di Mid-Atlantic Ridge, menciptakan kerak baru di area lempengan-lempengan itu bergerak terpisah.

Beberapa dari kerak lautan ini lebih muda dari Anda atau saya dan lebih banyak lagi yang sedang terbentuk saat ini. Atlantik masih tumbuh.

Peta dunia dengan warna menunjukkan usia lempengan lautan
Peta ini menunjukkan bagaimana kerak lautan naik ke atas pada celah antara lempeng tektonik dan menyebar keluar. Di Atlantik, kerak biru muda mulai terbentuk 180 juta tahun yang lalu ketika Amerika Utara dan Afrika terpisah. Kerak hijau terbentuk 128 juta hingga 84 juta tahun yang lalu ketika Afrika dan Amerika Selatan terpisah. Kerak merah tua adalah yang termuda, terbentuk hingga 10 juta tahun lalu. NOAA NGDC

Angin dan arus

Setelah cekungan samudra terbentuk akibat Pangaea terpisah, air hujan dan sungai masuk. Angin mulai menggerakkan permukaan air.

Berkat pemanasan permukaan Bumi yang tidak seimbang dan rotasi planet, angin ini bertiup ke arah yang berbeda.

Bumi lebih hangat di khatulistiwa daripada di dekat kutub, sehingga membuat udara bergerak.

Di khatulistiwa, panas planet menyebabkan udara lembab menjadi hangat, mengembang, dan naik.

Di daerah kutub, terjadi udara dingin, kering, dan udara lebih berat bergerak menurun.

Gerakan ini membentuk “sel” udara naik dan turun yang mengontrol pola angin global.

Rotasi Bumi menyebabkan berbagai belahan dunia bergerak dengan kecepatan berbeda.

Di suatu kutub, sebuah molekul udara hanya akan berputar-putar, sementara sebuah partikel udara di ekuator dapat menempuh jarak 12.742 kilometer dalam satu hari.

Gerakan yang berbeda ini menyebabkan sel udara terpisah.

Misalnya, di Sel Hadley, udara tropis, yang naik di ekuator, mendingin di atmosfer bagian atas dan turun sekitar 30 derajat lintang utara dan selatan, kira-kira, di dekat ujung utara dan selatan Afrika.

Rotasi Bumi membelokkan udara yang turun ini, menciptakan angin pasat yang berhembus dari timur ke barat melintasi Atlantik dan kembali ke ekuator.

Pada lintang lebih tinggi di Atlantik Utara dan Selatan, gaya yang sama menciptakan sel lintang tengah dengan angin yang bertiup dari barat ke timur.

Diagram sirkulasi atmosfer
Sirkulasi atmosfer Bumi, yang menunjukkan Hadley, garis lintang tengah dan sel kutub, serta pola angin yang dihasilkan. NASA/Wikimedia

Saat udara berhembus melintasi permukaan laut, udara ini menggerakkan air.

Hal ini menciptakan sistem sirkulasi pusaran, atau arus berputar, yang bergerak searah jarum jam di Atlantik Utara dan berlawanan arah jarum jam di Atlantik Selatan.

Pusaran ini adalah bagian dari global conveyor belt atau siklus termohalin yang mengangkut dan mendistribusikan kembali panas dan nutrisi ke lautan di seluruh dunia.

Arus Teluk, yang mengikuti Pantai Timur AS sebelum menuju ke timur melintasi Atlantik Utara, adalah bagian dari pusaran Atlantik Utara.

Karena arus membawa air hangat ke utara, mudah untuk melihat pada warna semu citra satelit inframerah saat arus ini mengangkut panas ke utara.

Seperti sungai, arus ini juga berkelok-kelok.

Menggerakkan massa air

Arus permukaan yang tertiup angin ini penting karena berbagai alasan, termasuk navigasi manusia, tapi hanya memengaruhi sekitar 10% volume Atlantik.

Sebagian besar lautan beroperasi dalam sistem yang berbeda, yang disebut sirkulasi termohalin karena digerakkan oleh panas (thermo) dan garam (saline).

Seperti banyak proses di lautan, salinitas terkait dengan cuaca dan sirkulasi.

Misalnya, angin pasat menghembuskan udara lembab dari Atlantik melintasi Amerika Tengah dan ke Samudra Pasifik, yang memusatkan salinitas di perairan Atlantik.

Akibatnya, Atlantik sedikit lebih asin daripada Pasifik.

Salinitas ekstra ini membuat Atlantik menjadi kekuatan pendorong dalam sirkulasi laut.

Saat arus menggerakkan air permukaan ke kutub, air mendingin dan menjadi lebih padat.

Akhirnya di dataran tinggi, air asin yang dingin ini tenggelam ke dasar laut.

Dari sana, air ini mengalir di sepanjang bagian bawah dan kembali ke kutub yang berlawanan, menciptakan arus yang didorong kepadatan dengan nama-nama seperti Perairan Dalam Atlantik Utara dan Perairan Bawah Antarktika.

Peta sirkulasi termohalin
Sirkulasi termohalin global didorong, terutama oleh pembentukan dan tenggelamnya air dalam. Sirkulasi ini memindahkan panas dari ekuator ke kutub. Hugo Ahlenius, UNEP/GRID-Arendal, CC BY-ND

Saat arus dalam ini bergerak, arus-arus ini mengumpulkan organisme permukaan yang telah mati dan jatuh ke dasar. Seiring waktu, organisme membusuk, mengisi air dalam dengan nutrisi yang esensial.

Di beberapa lokasi, air yang kaya nutrisi ini naik kembali ke permukaan, suatu proses yang disebut upwelling.

Ketika mencapai zona laut yang diterangi matahari, dalam jarak 200 meter dari permukaan, organisme kecil yang disebut fitoplankton memakan nutrisi ini.

Pada gilirannya, organisme kecil ini menjadi makanan bagi zooplankton dan organisme yang lebih besar di bagian atas rantai makanan.

Beberapa daerah penangkapan ikan terkaya di Atlantik, seperti Grand Banks di sebelah tenggara Newfoundland di Kanada dan Kepulauan Falkland/Malvinas di Atlantik Selatan, merupakan daerah upwelling.

Banyak hal tentang Atlantik masih harus dipelajari, terutama di tengah iklim yang berubah. Akankah peningkatan kadar karbon dioksida dan pengasaman laut mengganggu rantai makanan laut?

Bagaimana samudra yang menghangat mempengaruhi sirkulasi dan intensitas badai?

Yang kami tahu adalah bahwa angin, arus, dan kehidupan laut Atlantik terhubung erat secara rumit, dan mengacaukan hubungan ini dapat menimbulkan dampak yang luas.

Penangkapan ikan kod Atlantik

Sekarang, mari kita kembali ke permukaan dan naik ke perahu layar pertama yang berangkat memancing ikan kod di sepanjang pantai Kanada.

Kapal perintis ini membuka jalan untuk eksploitasi yang lebih besar dari kekayaan sumber daya perikanan Atlantik, terutama ikan kod.

Masyarakat sangat diuntungkan dari sumber daya ini selama berabad-abad hingga ancaman penangkapan ikan yang berlebihan menjadi tidak mungkin untuk diabaikan.

Sejarah penangkapan ikan di Atlantik seringkali dikatakan berawal dari penemuan perairan Kanada yang kaya ikan kod di Newfoundland, berkat navigator dan penjelajah Italia John Cabot, yang memimpin ekspedisi Inggris pada tahun 1497.

Sejak abad ke-16 hingga ke-20, pemancingan ikan kod menjamur di Eropa.

Antara 1960 hingga 1976, kapal-kapal dari Spanyol, Portugal dan Prancis bertanggung jawab atas 40% tangkapan.

Namun, pada tahun 1977 Kanada memperluas wilayah di lepas pantai sejauh 200 mil, mengambil alih perikanan kod Newfoundland, yang berkontribusi 70% dari produksi kod di Atlantik Barat Laut.

Nelayan di kapal dengan tangkapan ikan kod
Nelayan berada dalam perahu dengan tangkapan ikan kod. Georg Kristiansen/Shutterstock

Selama 5 abad, satu-satunya hal yang penting adalah ukuran hasil tangkapan.

Hal ini mendorong inovasi dalam desain dan peralatan perahu nelayan.

Industri perahu layar untuk penangkapan ikan kod di Newfoundland dan Islandia mencapai puncak pada akhir abad ke-19.

Dari tahun 1800 hingga 1900, Prancis sebagai operator penangkapan ikan utama, selain Inggris, telah menangani lebih dari 30.000 perahu layar.

Pada akhir abad ke-19, perahu dayung digantikan oleh dory, yaitu kapal kecil (untuk dua orang) dari Amerika Utara, yang meningkatkan produksi secara tajam.

Sebuah plakat yang mengomentari keamanan baru perahu nelayan di Museum Perikanan Prancis, di Normandia – yang didedikasikan untuk sejarah penangkapan ikan kod komersial – mencatat bahwa risiko hilangnya nyawa di laut adalah bagian dalam penangkapan ikan kod.

Tapi, pada awal abad ke-20, kapal uap mulai menggantikan kapal-kapal ini.

Produktivitas didapatkan dengan teknik baru, seperti menggunakan pukat belakang daripada pukat samping pada tahun 1950-an dan 1960-an, di samping mengurangi ukuran awak kapal.

Penangkapan ikan kod terbesar, hampir 1,9 juta ton, tercatat pada tahun 1968.

Setelah itu, produksi keseluruhan menurun dari tahun ke tahun, mencapai kurang dari satu juta ton pada tahun 1973.

Jumlahnya perlahan meningkat lagi pada tahun 1980-an setelah armada Eropa dikeluarkan dari Daerah Newfoundland, tapi peningkatan ini hanya sebentar.

Pada tanggal 2 Juli 1992, pemerintah Kanada mengumumkan moratorium penangkapan ikan kod, mengkonfirmasikan bahwa populasinya telah menurun.

Penurunan di Atlantik barat laut ini menjadi contoh nyata akan risiko penangkapan ikan berlebihan.

Tangkapan yang lebih luas

Produksi makanan laut di Atlantik meningkat dari sekitar 9 juta ton pada tahun 1950 menjadi lebih dari 23 juta ton pada tahun 1980 dan 2000, dan 22 juta ton pada tahun 2018. Keseluruhan produksi ini tetap stabil sejak tahun 1970.

Di Atlantik Utara, ikan whiting dan herring adalah dua spesies yang paling banyak ditangkap berdasarkan tonase.

Sarden dan sardinella menempati posisi teratas di Atlantik Tengah.

Di Atlantik Selatan, mackerel dan hake Argentina mendominasi tangkapan.

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) telah mengidentifikasi 6 area produksi di samudra Atlantik, dibagi secara kardinal, seperti yang ditunjukkan pada peta di bawah ini.

Pada tahun 1950, berbagai daerah ini menyumbang 52% dari tangkapan dunia.

Dari tahun 1960 hingga 1980, proporsi ini turun menjadi 37% menjadi 43%. Sejak 1990, seperempat produksi makanan laut global ditangkap oleh armada yang beroperasi di Atlantik.

Hampir 60% produksi makanan laut kini berasal dari perikanan di samudra Pasifik dan 15% dari Samudra Hindia.

FAO telah mengidentifikasi 6 area produksi di samudra Atlantik. Le Floc’h (diadaptas dari peta FAO, 2003), CC BY-NC-ND

Atlantik timur laut (FAO Area 27) mencakup perikanan yang dioperasikan oleh armada Eropa. Daerah ini, sejauh ini, adalah yang paling berlimpah dari seluruh zona Atlantik, dengan total tangkapan 9,6 juta ton pada tahun 2018.

Norwegia memimpin produksi makanan laut berdasarkan tonase (2,5 juta ton) pada tahun 2018, di atas Spanyol (sedikit di bawah satu juta ton). Ini juga merupakan zona yang paling beragam, dengan lebih dari 450 spesies komersial.

Atlantik barat laut (FAO Area 21) membentang dari garis pantai Rhode Island dan Teluk Maine di AS ke pantai Kanada, termasuk Teluk Saint Lawrence dan perairan Newfoundland dan Labrador.

Ikan kod mendominasi sejarah penangkapan ikan di daerah ini sejak abad ke-16.

Hasil tangkapan terbesar tercatat pada tahun 1970, lebih dari 4 juta ton.

Namun, setelah tahun 1990, angka tersebut menurun akibat moratorium tahun 1992.

Sejak tahun 2000, wilayah barat laut menyumbang sekitar 10% dari tangkapan Atlantik (1,7 juta ton pada 2018). Ada 220 spesies yang dipantau di area tersebut.

Atlantik Tengah Timur (FAO Area 34) membentang dari pantai Maroko hingga Zairian. Spesies yang ditangkap antara lain sarden, ikan teri dan herring.

Pada tahun 2018, area ini menyumbang seperempat dari total produksi makanan laut di 6 wilayah Atlantik.

Tahun yang sama, perikanan Afrika Barat mencatat tangkapan terbesar kedua setelah Atlantik timur laut.

Tingginya jumlah spesies komersial yang diidentifikasi oleh FAO, yaitu hampir 300, membuat kawasan ini berbeda.

Atlantik Tengah Barat (FAO Area 31) membentang dari AS bagian selatan hingga utara Brasil, termasuk Karibia.

Sejak tahun 1970, ukuran tangkapan tetap antara 1,3 juta dan 1,8 juta ton (5% sampai 10% dari seluruh tangkapan Atlantik). Lobster dan udang merupakan spesies target di perairan Karibia.

Atlantik Tenggara (FAO Area 47) menghubungkan garis pantai Afrika di Angola, Namibia, dan Afrika Selatan.

Produksi melampaui 2 juta ton pada tahun 1970 dan 1980, mencakup 10% dari total tangkapan Atlantik.

Sejak tahun 1990, hasil tangkapan stabil di angka 1,5 juta ton. Ini adalah wilayah yang paling tidak beragam di Atlantik, dengan 160 spesies yang terpantau oleh FAO.

Makarel, hake dan ikan teri mencakup 59% dari total produksi.

Atlantik Barat Daya (FAO Area 41), membentang di sepanjang garis pantai Brazil, Uruguay dan Argentina di Amerika Selatan, merupakan daerah paling rendah produksi dari 6 daerah sampai tahun 1980.

Kawasan ini mencatat tidak lebih dari 5% dari total tangkapan Atlantik. Tapi, dari tahun 1990, perikanan yang dihasilkan mencapai 1,8 juta hingga 2 juta ton (8% hingga 10% dari keseluruhan tangkapan).

Ini dapat dikaitkan dengan investasi dari pemerintah Argentina dalam armada penangkap ikan pada 1980-an.

Sekitar 225 spesies komersial yang dipantau, dengan 52% dari total produksi berasal dari hake, cumi-cumi pendek dan udang.

Tangkapan di Atlantik (1950-2018) menurut FAO. Le Floc’h, CC BY-NC-ND

Melindungi seluruh ekosistem

Penelitian ilmiah memperkirakan bahwa semua sumber daya laut akan habis pada tahun 2048, maka pendekatan perikanan baru diperlukan untuk menghindari tragedi baru, seperti yang menimpa populasi ikan kod di Atlantik barat laut.

Dalam konteks ini, melindungi ekosistem menjadi prioritas.

Semakin diakuinya dampak penangkapan ikan ini merupakan hasil langsung dari keberhasilan pekerjaan yang dilakukan oleh peneliti ekologi dan ilmu sosial sejak tahun 1970-an, yang menempatkan konsep ketahanan sebagai inti dari studi mereka.

Pendekatan pengelolaan berbasis ekosistem baru ini, yang sekarang dituangkan dalam undang-undang di Eropa dan Kanada, ternyata mendatangkan hasil positif.

Kebijakan serupa di AS telah dicabut oleh Presiden Donald Trump, tetapi kemungkinan besar akan dipulihkan oleh presiden yang akan datang Joe Biden.

Namun, masih ada pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengatasi tantangan utama – membuat pendekatan ini menjadi kenyataan di semua perikanan Atlantik.

Suzanne OConnell, Professor of Earth and Environmental Sciences, Wesleyan University dan Pascal Le Floc’h, Maître de conférences, économiste, laboratoire Amure (UBO, Ifremer, CNRS), Université de Bretagne occidentale

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

loading...

Leave a Reply