Samudra Arktik: Perubahan Iklim Membanjiri Lautan Utara yang Terpencil dengan Cahaya dan Spesies Baru

Share Article
Samudra Arktik. Foto: Wikimedia Commons
Samudra Arktik. Foto: Wikimedia Commons

Jørgen Berge, University of Tromsø; Carlos Duarte, King Abdullah University of Science and Technology; Dorte Krause-Jensen, Aarhus University; Karen Filbee-Dexter, Université Laval; Kimberly Howland, Université du Québec à Rimouski (UQAR), dan Philippe Archambault, Université Laval

Dengan luas lebih dari 14 juta kilometer persegi, Samudra Arktik adalah samudra terkecil dan terdangkal di dunia. Samudra ini juga terdingin.

Lapisan es laut yang luas mengapung, melebar saat musim dingin yang panjang, dingin, dan gelap, dan menyusut kala musim panas, ketika matahari tinggi.

Setiap tahun, biasanya pada bulan September, lapisan es laut menyusut ke level terendah.

Pada tahun 2020 hanya 3,74 juta kilometer persegi lapisan es laut, ini ukuran terkecil kedua dalam 42 tahun dan kira-kira setengah dari ukuran pada tahun 1980.

Setiap tahun, saat iklim menghangat, es di Arktik semakin sedikit.

Efek pemanasan global dirasakan di seluruh dunia, tapi tidak ada tempat lain di Bumi yang mengalami dampak sedramatis di Arktik.

Arktik menghangat 2 hingga 3 kali lebih cepat daripada tempat lain di Bumi, membawa perubahan luas ke Samudra Arktik, ekosistem serta 4 juta orang yang tinggal di kawasan tersebut.


Artikel ini adalah bagian dari serial Oceans 21
Lima profil samudera dunia membuka serial kami mengenai lautan global, menyelami jaringan perdagangan kuno Samudrra Hindia, polusi plastik di Samudra Pasifik, cahaya dan kehidupan di Samudra Arktik, perikanan Samudera Atlantik, dan dampak Lautan Selatan terhadap iklim global. Nantikan artikel-artikel terbaru menjelang COP26. Semua ini persembahan dari jaringan internasional The Conversation.

Beberapa perubahan tersebut tidak terduga.

Air yang lebih hangat menarik beberapa spesies lebih jauh ke utara, ke garis lintang yang lebih tinggi.

Es yang lebih tipis membawa lebih banyak orang melewati Arktik dengan kapal pesiar, kapal kargo, dan kapal penelitian.

Es dan salju hampir bisa menggelapkan air di bawahnya, tapi perubahan iklim memungkinkan lebih banyak cahaya untuk masuk.

Cahaya buatan di malam kutub

Cahaya sangat penting di Arktik.

Alga yang menjadi dasar pembentukan jaring makanan di Samudra Arktik mengubah sinar matahari menjadi gula dan lemak, menyediakan makanan bagi ikan dan, pada akhirnya, bagi paus, beruang kutub, serta manusia.

Pada lintang tinggi di Arktik selama musim dingin, matahari berada di bawah cakrawala selama 24 jam.

Ini disebut malam kutub, dan di Kutub Utara, tahun terbagi dua: yaitu siang hari yang berlangsung selama enam bulan, diikuti oleh malam hari selama enam bulan juga.

Para peneliti yang mempelajari efek hilangnya es mengerahkan observatorium yang ditambatkan yang dengan pelampung di fjord/lelehan gletser Arktik pada musim gugur 2006, sebelum membeku.

Saat pengambilan sampel dimulai pada musim semi 2007, tambatan terpasang selama hampir 6 bulan, mengumpulkan data sepanjang malam kutub yang panjang dan dingin.

Penemuan mereka mengubah segalanya.

Pria berdiri di atas kapal dengan obor, mengamati malam kutub.
Malam kutub dapat berlangsung selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan di dataran tinggi Arktik. Michael O. Snyder, Author provided

Kehidupan dalam kegelapan

Pada saat itu, para ilmuwan berasumsi bahwa malam kutub sama sekali tidak menarik.

Periode mati saat kehidupan tidak aktif dan ekosistem tenggelam ke dalam situasi kaku yang gelap dan dingin.

Tidak banyak yang diharapkan dari pengukuran ini, jadi para peneliti terkejut ketika data menunjukkan bahwa kehidupan tidak berhenti sama sekali.

Zooplankton Arktik, hewan mikroskopis kecil pemakan alga, berperan dalam aktivitas yang dinamakan diel vertical migration di bawah es dan saat malam kutub.

Makhluk laut di semua samudra di dunia melakukan ini.

Mereka bermigrasi ke kedalaman pada siang hari untuk bersembunyi predator dalam gelap dan muncul ke permukaan pada malam hari untuk mencari makan.

Organisme menggunakan cahaya sebagai petunjuk untuk melakukan ini, jadi mereka seharusnya tidak bisa melakukannya selama malam kutub.

Kami sekarang memahami malam kutub sebagai aktivitas ekologis yang sangat sibuk.

Irama normal kehidupan sehari-hari terus berlanjut dalam temaram.

Kerang membuka dan menutup secara berulang, burung laut berburu di kegelapan yang nyaris total, udang transparan dan siput laut berkumpul di hutan rumput laut untuk berkembang biak, dan spesies air dalam seperti ubur-ubur muncul ke permukaan saat cukup gelap agar tetap aman dari predator.

Untuk sebagian besar organisme yang aktif selama periode ini, bulan, bintang, dan Aurora Borealis kemungkinan besar memberikan petunjuk penting yang memandu perilaku mereka, terutama bagian Arktik yang tidak tertutup es laut.

Namun, seiring dengan iklim Arktik menghangat dan meningkatnya aktivitas manusia di kawasan itu, sumber cahaya alami ini akan menjadi tidak terlihat, dikalahkan oleh cahaya buatan yang jauh lebih kuat.

Cahaya berwarna biru kehijauan di bawah fjord di Norwegia.
Cahaya utara menari di langit Tromsø, Norwegia. Muratart/Shutterstock

Cahaya buatan

Hampir seperempat dari seluruh daratan terpapar cahaya buatan yang tersebar di malam hari, saat dipantulkan kembali ke permukaan Bumi dari atmosfer.

Hanya sedikit tempat yang benar-benar gelap; dan cahaya dari kota, garis pantai, jalan, dan kapal terlihat hingga ke luar angkasa.

Bahkan, di daerah berpenduduk jarang di Arktik, polusi cahaya tetap terlihat.

Rute pelayaran, eksplorasi minyak dan gas, dan perikanan meluas ke wilayah tersebut seiring berkurangnya es laut, memantulkan cahaya buatan ke malam kutub yang hitam pekat.

Kapal besar dengan cahaya kuning memantul di perairan es.
Makhluk yang telah beradaptasi dengan malam kutub selama jutaan tahun tiba-tiba terkena cahaya buatan. Michael O. Snyder, Author provided

Tidak ada organisme yang memiliki kesempatan untuk beradaptasi dengan baik terhadap perubahan ini. Evolusi membutuhkan waktu yang lebih lama.

Sementara itu, gerakan harmonis dari Bumi, Bulan, dan Matahari telah memberikan petunjuk yang dapat diandalkan bagi hewan Arktik selama ribuan tahun.

Banyak peristiwa biologis, seperti migrasi, mencari makan, dan berkembang biak sangat selaras dengan kemampuan prediksi hewan.

Dalam studi terbaru yang dilakukan di kepulauan Svalbard, wilayah paling utara Arktik, antara daratan utama Norwegia dan kutub utara, lampu dari kapal penelitian ternyata mempengaruhi ikan dan zooplankton setidaknya 200 meter di bawah laut.

Terganggu oleh intrusi cahaya yang tiba-tiba, makhluk yang berputar-putar di bawah permukaan bereaksi secara dramatis, beberapa dari mereka berenang ke arah sinar dan yang lain berenang menjauh.

Sulit untuk memprediksi efek cahaya buatan dari kapal-kapal yang baru menjelajahi Arktik yang tanpa es bagi ekosistem malam kutub yang telah mengenal kegelapan lebih lama daripada manusia modern.

Bagaimana kehadiran manusia yang bertambah pesat di Arktik akan mempengaruhi ekosistem memang memprihatinkan, tapi ada juga pertanyaan yang tidak menyenangkan bagi para peneliti.

Jika banyak informasi yang telah kami kumpulkan tentang Arktik berasal dari para ilmuwan yang ditempatkan di perahu yang terang benderang, seberapa “alami” keadaan ekosistem yang telah kami laporkan?

Dilihat dari lapisan es, kapal besar di cakrawala mengeluarkan cahaya putih ke langit.
Penelitian di Arktik bisa berubah drastis selama beberapa tahun mendatang untuk mengurangi polusi cahaya. Michael O. Snyder, Author provided

Ilmu lautan Arktik akan memasuki era baru dengan platform yang otonom dan dioperasikan dari jarak jauh, mampu beroperasi tanpa cahaya apa pun, melakukan pengukuran dalam kegelapan total.

Hutan bawah laut

Saat es laut bergerak menjauh dari pantai Greenland, Norwegia, Amerika Utara dan Rusia, periode waktu perairan terbuka semakin lama dan lebih banyak cahaya mencapai dasar laut.

Ekosistem pesisir yang telah tersembunyi di bawah es selama 200.000 tahun terpapar cahaya, secara tiba-tiba.

Ini bisa menjadi kabar baik bagi tanaman laut seperti kelp, rumput laut berwarna coklat besar yang tumbuh subur di air dingin dengan cukup cahaya dan nutrisi.

Berlabuh di dasar laut dan mengapung mengikuti ombak dan arus, beberapa spesies rumput laut dapat tumbuh hingga 50 meter , hampir 3 kali tinggi Monumen Selamat Datang di Bundaran HI, Jakarta.

Tapi, kelp biasanya dikecualikan dari daerah tertinggi karena bayangan yang ditimbulkan oleh es laut dan efek gerusannya terhadap dasar laut.

Rumput laut berwarna hijau kecokelatan di dasar laut.
Badderlocks, atau rumput laut bersayap, di lepas pantai Nunavut di Arktik Kanada. Ignacio Garrido/ArcticKelp, Author provided

Hutan bawah laut yang rimbun ini akan tumbuh dan berkembang saat es laut menyusut.

Kelp memang bukan pendatang baru di Arktik.

Tumbuhan ini pernah menjadi bagian dari makanan tradisional di Greenland dan peneliti kutub serta penjelajah telah mengamati tumbuhan di sepanjang pantai utara lebih dari satu abad yang lalu.

Beberapa spesies rumput laut mungkin telah menjajah pantai Arktik setelah zaman es terakhir atau menyebar dari kantong kecil tempat mereka bertahan.

Namun, sebagian besar hutan kelp di Arktik lebih kecil dan terbatas pada sepetak wilayah kecil di perairan lebih dalam dibandingkan dengan petak rumput laut yang melapisi pantai seperti di California di AS.

Penyelam melewati hamparan rumput laut.
Seorang penyelam menjelajahi hutan kelp setinggi 4 meter di lepas pantai Pulau Southampton, Kanada. Ignacio Garrido/ArcticKelp, Author provided

Bukti terbaru dari Norwegia dan Greenland menunjukkan hutan kelp sudah meluas dan menjangkau kutub.

Tanaman laut ini diperkirakan menjadi lebih besar dan tumbuh lebih cepat saat Arktik menghangat, menciptakan lebih banyak celah bagi spesies untuk hidup.

Seberapa luas hutan ini di Arktik masih belum terlihat dan terpetakan, namun pemodelan dapat membantu menentukan seberapa banyak mereka telah bergeser dan tumbuh di Arktik sejak 1950-an.

Peta dari Arctic Circle menunjukkan expansi hutan kelp ke utara saat Bumi menghangat.
Lokasi hutan kelp yang sudah diketahui dan tren global perkiraan kenaikan suhu permukaan rata-rata di musim panas selama 2 dekade mendatang, menurut model IPCC. Filbee-Dexter et al. (2018), Author provided

Penyerap karbon baru

Meskipun kelp memiliki berbagai bentuk dan ukuran, banyak yang sangat mirip dengan pohon, dengan badan yang panjang, seperti batang, tetapi fleksibel yang disebut stipe.

Kanopi hutan kelp berisikan daun berbilah datar, dan holdfast (semacam akar pengikat) seperti akar yang menambatkan rumput laut ke bebatuan di bawahnya.

Beberapa jenis kelp Arktik dapat tumbuh lebih dari 10 meter dan membentuk kanopi besar dan kompleks yang tergantung di kolom air, dengan tumbuhan bawah yang teduh dan terlindungi.

Sama seperti hutan daratan, hutan lautan ini menyediakan habitat, area pembibitan, dan tempat makan bagi banyak hewan dan ikan, termasuk ikan kod, pollack, kepiting, lobster, dan bulu babi.

Sekumpulan udang di hutan kelp.
Hutan kelp menawarkan banyak ceruk dan celah serta permukaan untuk ditempati, menjadikannya kaya akan satwa liar. Ignacio Garrido/ArcticKelp, Author provided

Kelp adalah tanaman yang cepat tumbuh, menyimpan karbon di jaringan kasar mereka.

Jadi, apa arti ekspansi mereka di Arktik bagi iklim global?

Seperti halnya memulihkan hutan di daratan, menumbuhkan hutan kelp bawah air dapat membantu memperlambat perubahan iklim dengan mengalihkan karbon dari atmosfer.

Lebih lanjut, beberapa bagian kelp rumput laut pecah dan tersapu dari perairan pantai yang dangkal dan masuk ke laut dalam yang berarti keluar dari siklus karbon Bumi.

Memperluas hutan kelp di sepanjang pantai Arktik bisa menjadi penyerap karbon yang menangkap emisi CO₂ yang dikeluarkan manusia dan menyimpannya di laut dalam.

Apa yang terjadi dengan kelp di Arktik cukup unik. Hutan lautan ini dibasmi di sebagian besar belahan dunia.

Secara keseluruhan, luas hutan kelp di dunia cenderung menurun karena gelombang panas laut, polusi, suhu yang menghangat, dan wabah hewan seperti bulu babi.

Tidak mengherankan bahwa ini bukan kabar baik. Perambahan hutan kelp bisa mendorong keluarnya satwa liar unik dari Arktik.

Alga yang hidup di bawah es tidak akan punya tempat tujuan dan bisa menghilang sama sekali.

Spesies kelp yang dapat hidup di iklim sedang dapat menggantikan kelp Arktik endemik seperti Laminaria solidungula.

Kepiting berwarna orange di rumput laut berwarna cokelat gelap.
Kepiting berlindung di Laminaria solidungula, satu-satunya spesies rumput laut yang endemik di Arktik. Ignacio Garrido/ArcticKelp, Author provided

Tapi, kelp hanyalah satu set spesies di antara banyak spesies yang masuk lebih jauh dan lebih dalam ke wilayah tersebut saat es mencair.

Invasi Arktik

Lalu lintas laut di Milne Inlet, di utara Pulau Baffin, Nunavut, Kanada, cukup padat ketimbang di pelabuhan lain di Kanada Arktik.

Hampir setiap hari selama periode perairan terbuka, kapal sepanjang 300 meter meninggalkan pelabuhan dengan membawa bijih besi dari Tambang Sungai Mary.

Sebanyak 71 hingga 82 kapal melewati daerah itu setiap tahun.

Sebagian besar menuju atau datang dari pelabuhan di Eropa utara.

Kapal pesiar, kapal penjaga pantai, kapal pesiar rekreasi, kapal penelitian pemecah es, kapal pemasok kargo, dan perahu karet kaku yang penuh dengan turis juga melalui daerah tersebut.

Pemanasan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan penurunan es laut telah menarik industri baru dan aktivitas lain ke Arktik.

Komunitas seperti Pond Inlet telah menyaksikan lalu lintas laut meningkat 3 kali lipat dalam 2 dekade terakhir.

Kapal tertambat di es dengan beberapa penumpang berdiri di daratan.
Penumpang dari kapal pesiar tiba di Pond Inlet, Nunavut. Kimberly Howland, Author provided

Kapal-kapal ini datang ke Arktik dari seluruh dunia, membawa sejumlah penumpang gelap yang datang dari Rotterdam, Hamburg, Dunkirk, dan tempat lain.

Spesies-spesies ini, beberapa terlalu kecil untuk dilihat dengan mata telanjang, bersembunyi di air pemberat yang dipompa ke dalam tangki untuk menstabilkan kapal.

Mereka juga menempel pada lambung dan permukaan luar lainnya, yang disebut “biofouling.”

Beberapa selamat dari perjalanan ke Arktik dan lepas ke lingkungan saat air pemberat dibuang dan kargo dimuat.

Mereka yang mempertahankan cengkeraman di permukaan luar dapat melepaskan telur, sperma, atau larva.

Banyak dari organisme ini tidak berbahaya, namun beberapa mungkin pendatang baru yang invasif dan dapat menyebabkan kerusakan.

Penelitian di Kanada dan Norwegia telah menunjukkan spesies invasif yang bukan berasal dari tempat tersebut, seperti bay barnacle dan acorn barnacle yang dapat bertahan hidup saat transit kapal ke Arktik.

Hal ini meningkatkan risiko ekosistem Arktik mengingat spesies invasif adalah salah satu penyebab utama kepunahan di seluruh dunia.

Rute yang diperluas

Kekhawatiran tentang spesies invasif jauh melampaui komunitas Pond Inlet.

Sekitar 4 juta orang tinggal di Arktik. Kebanyakan hidup di sepanjang pantai yang menyediakan nutrisi dan habitat penting bagi beragam hewan, mulai dari ikan char Arktik dan anjing laut bercincin hingga beruang kutub, paus kepala busur, dan jutaan burung migran.

Saat es laut Arktik mencair selama musim panas, rute pelayaran dibuka di sepanjang pantai Rusia dan melewati Northwest Passage. Beberapa orang mengatakan rute trans-Arktik mungkin segera bisa dijelajahi. Shutterstock

Saat perairan menghangat, musim pengiriman lewat pelayaran menjadi lebih lama dan rute baru, seperti Jalur Barat Laut (Northwest Passage) dan Rute Laut Utara (Northern Sea Route di sepanjang pantai Arktik Rusia), terbuka.

Beberapa peneliti memperkirakan rute trans-Arktik melintasi Kutub Utara mungkin bisa dijadikan rute pelayaran pada pertengahan abad.

Lalu lintas kapal yang meningkat memperbesar jumlah dan jenis organisme yang diangkut ke perairan Arktik.

Kondisi yang semakin ramah meningkatkan peluang mereka untuk bertahan hidup.

Pencegahan adalah cara nomor satu untuk menghindari keberadaan spesies invasif di Arktik.

Sebagian besar kapal harus mengolah air pemberat mereka dengan bahan kimia atau proses lain, dan/atau menukarnya untuk membatasi pergerakan organisme berbahaya ke lokasi baru.

Berbagai panduan juga merekomendasikan kapal menggunakan lapisan khusus pada lambung dan membersihkannya secara teratur untuk mencegah biofouling.

Namun, tindakan pencegahan ini tidak selalu dapat diandalkan dan belum jelas kemanjurannya di lingkungan yang lebih dingin .

Pendekatan terbaik berikutnya adalah mendeteksi penyusup sesegera mungkin setelah mereka tiba untuk meningkatkan peluang pemberantasan atau supresi.

Tapi, deteksi dini membutuhkan pemantauan luas, yang bisa menjadi tantangan dilakukan di Arktik.

Mengawasi kedatangan spesies baru bisa seperti mencari jarum di tumpukan jerami, tetapi komunitas di utara mungkin bisa menawarkan solusi.

Para peneliti di Norwegia, Alaska dan Kanada telah menemukan cara untuk mempermudah pencarian dengan menyeleksi spesies yang telah menyebabkan kerusakan di tempat lain dan dapat bertahan dalam kondisi lingkungan Arktik.

Hampir 2 lusin spesies invasif potensial menunjukkan peluang tinggi untuk menguasai Arktik Kanada.

Kepiting raja merah sengaja dibawa ke Laut Barents pada tahun 1960-an, tetapi sekarang menyebar ke selatan di sepanjang pantai Norwegia. Shutterstock

Contohnya, kepiting raja merah yang beradaptasi dengan suhu dingin.

Hewan ini berasal dari Laut Jepang, Laut Bering dan Pasifik Utara dan sengaja diperkenalkan ke Laut Barents pada 1960-an untuk membangun perikanan.

Sekarang, spesies ini telah menyebar ke selatan di sepanjang pantai Norwegia dan di Laut Putih.

Kepiting ini merupakan predator berukuran besar dan rakus yang mengakibatkan penurunan panen kerang, bulu babi, dan spesies besar dan lambat di dasar laut lainnya, dengan kemungkinan besar untuk bertahan hidup di dalam air pemberat.

Spesies lain adalah siput laut (periwinkle), yang merumput di tanaman air yang subur di habitat garis pantai, meninggalkan bebatuan gundul atau berpermukaan keras.

Satwa ini juga telah membawa parasit di pantai timur Amerika Utara yang menyebabkan penyakit bintik hitam pada ikan, yang membuat ikan dewasa stres dan tidak enak saat dikonsumsi, membunuh ikan kecil dan menyebabkan kerusakan usus pada burung dan mamalia yang memakannya.

Melacak sisa-sisa genetik

Spesies baru seperti ini dapat memengaruhi ikan dan mamalia yang diburu dan dimakan oleh manusia, jika mereka tiba di Pond Inlet.

Setelah hanya beberapa tahun pelayaran, telah ditemukan beberapa spesies yang mungkin bukan asli dari daerah tersebut, termasuk cacing lumpur insang merah (Marenzellaria viridis), dan amphipoda penghuni tabung yang berpotensi invasif.

Keduanya diketahui mencapai kepadatan tinggi, mengubah karakteristik sedimen dasar laut dan bersaing dengan spesies asli.

Kapala orange di tengah lautan es dengan gunung di belakangnya.
Sebuah kapal kargo melewati Milne Inlet, Nunavut. Kimberly Howland, Author provided

Baffinland, perusahaan yang menjalankan Tambang Sungai Mary, sedang berupaya untuk menggandakan produksi bijih besi tahunan.

Jika ekspansi berlanjut, sedikitnya 176 kapal pengangkut bijih melewati Milne Inlet selama musim perairan terbuka.

Meskipun masa depan pengiriman Arktik tidak pasti, ini adalah tren peningkatan yang perlu diwaspadai.

Di Kanada, para peneliti bekerja dengan komunitas masyarakat adat dengan aktivitas pelayaran tinggi, termasuk Churchill, Manitoba; Pond Inlet dan Iqaluit di Nunavut; Salluit, Quebec dan Nain, Newfoundland, untuk membangun jaringan pemantauan spesies invasif.

Salah satu pendekatannya adalah mengumpulkan dan menguji air untuk melacak sisa-sisa genetik yang terlepas dari sisik, feses, sperma, dan bahan biologis lainnya.

Sekelompok orang duduk di tepi pantai belajar menggunakan alat sample.
Anggota tim lapangan dari Pond Inlet dan Salluit menyaring eDNA dari sampel air yang dikumpulkan dari Milne Inlet di tahun 2019. Christopher Mckindsey, Author provided

DNA lingkungan (eDNA) ini mudah dikumpulkan dan dapat membantu mendeteksi organisme yang mungkin sulit ditangkap atau jumlahnya sedikit.

Teknik ini juga telah meningkatkan pengetahuan dasar tentang keanekaragaman hayati pesisir di wilayah dengan pelayaran tinggi lainnya.

Ini merupakan sebuah langkah mendasar dalam mendeteksi perubahan di masa depan.

Beberapa spesies non-asli telah terdeteksi di Pelabuhan Churchill dengan menggunakan eDNA dan metode pengambilan sampel lainnya, antara lain ubur-ubur, ikan ‘rainbow smelt’, dan spesies copepoda yang invasif.

Berbagai upaya sedang dilakukan untuk memperluas jaringan di seluruh Arktik sebagai bagian dari Strategi Spesies Asing Invasif Arktik dari Dewan Arktik untuk mengurangi penyebaran spesies invasif.

Arktik sering disebut garis depan krisis iklim.

Akibat laju pemanasan yang cepat, kawasan ini dilanda invasi segala jenis, dari spesies baru hingga rute pelayaran baru.

Kekuatan-kekuatan ini dapat sepenuhnya membentuk kembali cekungan lautan dalam masa hidup manusia saat ini, dari pemandangan beku yang diterangi bintang dihuni oleh komunitas unik organisme yang sangat mampu beradaptasi, menjadi sesuatu yang sangat berbeda.

Arktik berubah lebih cepat daripada yang dapat didokumentasikan oleh para ilmuwan.

Namun, ada peluang, seperti menumbuhkan penyerap karbon, yang dapat bermanfaat bagi satwa liar dan orang-orang yang tinggal di sana.

Tidak semua perubahan pada dunia kita yang menghangat sepenuhnya menjadi hal yang negatif. Di Arktik, seperti halnya di tempat lain, ada yang menang dan ada yang kalah.

Jørgen Berge, Vice Dean for Research, Arctic and Marine Biology, University of Tromsø; Carlos Duarte, Adjunct Professor of Marine Ecology, King Abdullah University of Science and Technology; Dorte Krause-Jensen, Professor, Marine Ecology, Aarhus University; Karen Filbee-Dexter, Research Fellow in Marine Ecology, Université Laval; Kimberly Howland, Research Scientist/Adjunct University Professor, Université du Québec à Rimouski (UQAR), dan Philippe Archambault, Professor & Scientific Director of ArcticNet, Université Laval

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

loading...

Leave a Reply