Ridwan Hakim Berbelit-belit

Share Article
Photo: Kilasfoto.com

Sidang perkara dugaan penyuapan pengurusan kuota impor daging sapi dengan terdakwa Ahmad Fathanah mengungkap fakta baru tentang tunggakan Rp 40 miliar untuk Hilmi Aminudin atau Engkong dari Direktur PT Indoguna Utama Maria Elizabeth Liman. Namun saksi yang dihadirkan, Ridwan Hakim, tampak berbelit-belit dalam memberikan keterangan di depan persidangan.

Fakta baru tersebut bisa terungkap ketika jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi memutar rekaman percakapan antara Fathanah dengan Ridwan Hakim di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (29/8). Ridwan adalah putra dari Hilmi Aminudin, Ketua Dewan Syuro Partai Keadilan Sejahtera. Tunggakan itu ternyata belum sampai di tangan Hilmi, padahal menurut Fathanah sudah dibayarkan.

Dalam percakapan itu, Fathanah mengatakan bahwa uang Rp 40 miliar sudah sampai tujuan yaitu ke Hilmi Aminudin. Namun, dengan nada yakin, Ridwan mengatakan belum sampai. Hal itu diperkuat dengan tak adanya komentar dari Hilmi kepada Ridwan terkait uang tersebut.

“Sudah beres 40 kok,” kata Fathanah. “Belum sampai bos,” Ridwan menjawab. “Enggak mungkin lah,” Fathanah meyakinkan. Ridwan memberi argumentasi, “Engkong sendiri nggak kasih komentar.” “Sudah nyampe ditenteng sendiri sama Ibu,” begitu Fathanah memastikan yang dijawab lagi Rdiwan, “Enggak nyampe.”

Dalam percakapan, Fathanah sempat ingin tahu sebenarnya berapa kewajiban bayar Elizabeth kepada Hilmi. “Kewajiban Bu El ke Engkong berapa?” tanya Fathanah. “Nanti deh,” jawab Ridwan.

Di persidangan, saksi Ridwan memberi keterangan berbelit-belit. Ridwan mengaku tak tahu menahu soal uang Rp 40 miliar yang dibicarakan Fathanah, juga ia tak tahu soal bisnis kuota impor daging. Namun, diakui Ridwan, Fathanah menganggap dirinya terlibat dan tahu soal pengurusan kuota impor daging di masa lalu.

Uang Rp 40 miliar yang dibicarakan diduga terkait komisi pengurusan kuota impor yang dibayarkan PT Indoguna kepada Hilmi. Pada akhirnya, Ridwan mengakui jika memang ada uang Rp 40 miliar namun uang tersebut diduga diterima oleh orang lain yang disebut dengan nama Sengman.

“40 dikirim lewat Sengman dan Hendra waktu itu,” begitu kata Fathanah seperti dalam sadapan. “Belum ada yang nyampe, bos,” Ridwan menjawab. “Nggak mungkinlah. Udah beres, bener. Engkong sendiri waktu itu pernah ketemu dan tidak ada komentar,” jawab Fathanah.

Ditanya soal nama Sengman, Ridwan mengatakan, “Sengman sendiri sudah saya jelaskan ke penyidik. Jadi kalau mau tahu Rp 40 miliar itu tanyakan saja ke Sengman,” kata Ridwan.
Ketua Majelis Hakim Nawawi Pomolango mencecar Ridwan dengan pertanyaan siapa sebenarnya orang yang disebut Sengman. “Sengman itu utusan Presiden,” jawab Ridwan.

“Presiden apa?” tanya Nawawi. “Ya presiden kita, Presiden SBY,” jawab Ridwan.

Bunda Putri
Dalam sidang, terungkap nama baru yaitu Bunda Putri, yang diakui Ridwan sebagai mentor atau guru yang mengajari soal bisnis kepada Ridwan. Namun, jaksa KPK memutar rekaman penyadapan percakapan yang melibatkan Bunda Putri.

Dalam rekaman, tergambar jelas bagaimana sosok Bunda Putri ini yang bisa memanggil Luthfi Hasan Ishaaq ke rumahnya. Bahkan, Luthfi mengatakan Bunda Putri adalah orang yang mampu mempengaruhi para pengambil kebijakan atau decission maker di negeri ini.

Hakim I Made Hendra Kusuma mengejar Ridwan untuk menjelaskan siapa sebenarnya Bunda Putri ini. “Siapa Bunda Putri?” tanya Made. “Itu mentor saya,” jawab Ridwan.

“Sampai-sampai presiden partai memberi laporan kepada dia, bahkan Ustaz Luthfi menganggap dia bisa mengkondisikan decission maker di negeri ini. Siapa dia?” tanya Made. “Saya tidak paham,” kata Ridwan.

Banyak pertanyaan yang tak terjawab oleh Ridwan. Termasuk pertemuan di Kuala Lumpur yang membahas tunggakan Rp 17 miliar juga tak diakui oleh Ridwan. Ridwan menganggap pertemuan dengan Fathanah dan Elda Devianne Adiningrat di Kuala Lumpur hanyalah kebetulan belaka.

Terhadap keterangan Ridwan yang banyak tak logis, Ketua Hakim Nawawi Pomolango mempersilakan penuntut umum untuk mempergunakan instrumen hukum yang berlaku atau tidak.

Nawawi akan mendukung jika penuntut umum akan menjerat Ridwan dengan sumpah palsu atau memberi keterangan yang tidak benar di persidangan. “Kasus korupsi itu harus diusut tuntas,” kata Nawawi. (AMR)

loading...

Leave a Reply