Review Pengalaman Berinvestasi di iGrow Setelah 2 Tahun

Share Article
iGrow, platform pendanaan crowdfunding.

ENDONESIA.com – Banyak cara menginvestasikan dana kita ke berbagai instrumen investasi yang dianggap akan sesuai dan memberikan return menarik. Saya mencoba hal baru selain investasi di reksadana, pasar saham, dan kripto yaitu dengan investasi langsung ke pemilik usaha melalui platform pendanaan investasi crowdfunding yaitu iGrow.

Apa itu iGrow? iGrow adalah aplikasi peer to peer lending pertanian pertama di Indonesia. Saat ini, iGrow sudah menyalurkan lebih dari Rp 500 miliar dana ke para pengusaha. Jika kamu ingin tahu apa itu iGrow, baca Apa Itu iGrow? Platform Peer to Peer Lending Pertanian Pertama di Indonesia. Lender adalah sebutan untuk mereka yang meminjamkan dana, sedangkan borrower adalah sebutan untuk mereka yang mendapat pendanaan atau pinjaman.

Hingga hari ini, saya sudah menggunakan iGrow kurang lebih dua tahun. Review ini saya buat tanpa dibayar oleh pihak iGrow dan tanpa sepengetahuan iGrow. Murni sebagai upaya berbagi pengalaman dengan para pembaca.

Baca juga: Inilah 133 Fintech Pinjol P2P Lending Ilegal versi Satgas Waspada Investasi per Januari 2021

Lakukan riset sebelum berinvestasi

Sebelum menemukan igrow, saya memulainya dengan riset terkait platform pendanaan crowdfunding. Ternyata banyak lho di Indonesia. Satu per satu saya baca dan saya cek perizinannya. Kemudian satu per satu yang memenuhi syarat saya install aplikasinya dan saya apply sebagai lender atau investor.

Syarat pertama yang harus terpenuhi adalah perizinannya harus lengkap. Syarat kedua adalah aplikasinya sudah mengadopsi ketentuan OJK terbaru. Dan yang terakhir, saya baca juga ulasan orang-orang baik di website maupun di komentar AppStore.

Dari riset itu, akhirnya pilihan jatuh ke iGrow. Saya mulai mencoba investasi di iGrow akhir 2020, tepatnya di bulan Desember. Usaha yang saya danai waktu itu adalah proyek pendanaan pembiayaan penjualan pakan ikan air tawar sebesar Rp 5 juta, dan proyek pendanaan penjualan ikan mas jumbo batch 2 sebesar Rp 10 juta. Oh iya, di iGrow, nilai investasi minimal per slot berkisar Rp 2 juta atau Rp 2,5 juta.

Baca juga: Mau Investasi atau Pinjam Uang? Cek Dulu Daftar Fintech Legal dan Berizin di OJK Ini

Summary setelah menggunakan iGrow

Sebelum lebih jauh membahas pengalaman investasi pertama, saya perlu sampaikan juga motivasi saya mengapa memilih model pembiayaan crowdfunding seperti iGrow. Selama ini, jika kita berinvestasi di pasar saham apalagi di kripto, seolah kita berinvestasi ke sektor imajiner yang kita tidak tahu dampak positifnya atau tak tahu apakah itu akan bermanfaat bagi seseorang atau bagi perubahan sosial.

Nah, di iGrow dan pendanaan lainnya yang berbasis crowdfunding, investasi yang kita berikan langsung memberikan dampak pada sektor riil dan bisa dirasakan manfaatnya oleh pemilik usaha. Misalnya, kita mendanai pengusaha budidaya ikan, ya dampaknya kita ikut menggerakkan sektor perikanan plus memberi efek positif pada dukungan bagi pengusaha perikanan yang kita danai. Jadi, impact nya langsung terasa. Si pemilik usaha hepi, kita yang berinvestasi juga ikut hepi jika usaha tersebut lancar.

Tapi, sebagai sesama jenis instrumen investasi, model investasi di iGrow tetap memiliki risiko. Ini yang harus ditekankan dari awal. Meski iGrow memasang return tinggi misal 18 persen per tahun, tapi risiko bagi investor tetap ada. Risiko itu adalah gagal bayar dari pengusahanya. Itu terjadi jika pengusahanya gagal panen atau ada kendala misalnya dalam produksi atau distribusi. Jika gagal panen, bisa-bisa dana kita tidak kembali.

Baca juga: Ingat, Investasi Saham Jangan Pakai Dana Pendidikan Anak

Apakah berinvestasi di iGrow aman ?

Ini adalah pertanyaan wajib yang harus ditanyakan terlebih dulu sebelum kita berinvestasi pada semua instrumen investasi yang akan dipilih. Sejauh yang saya riset, iGrow sudah berizin dan diawasi oleh OJK atau Otoritas Jasa Keuangan.

Sepanjang riset yang saya lakukan, tak ada insiden terkait konflik atau terkait kasus besar dengan lender. Perusahaan saya lihat juga sudah memenuhi anjuran OJK dalam memperlakukan data kita, misalnya dalam menerapkan keamanan data, menerapkan KYC (know your customer), dan melakukan pengamanan tanda tangan digital setiap ada penandatanganan kontrak antara borrower dengan lender. Dalam hal tanda tangan digital, iGrow bekerjasama dengan PrivyID untuk mengamankan tanda tangan kita.

Pada awalnya, tak ada proteksi dari investasi kita di iGrow jika terjadi gagal bayar. Namun pada akhirnya, untuk meminimalkan risiko gagal bayar tersebut, iGrow melengkapi diri dengan asuransi yang preminya sebesar 1,25 persen dari nilai investasi. Namun, pada tahun 2022 ini, saya lihat premi asuransinya turun menjadi 1 persen saja. Misal kita investasi Rp 2 juta, jika kita memilih ada asuransinya, maka kita harus menambah bayar Rp 20.000. Jika suatu saat ada gagal panen dan gagal bayar, maka dana investasi kita tetap dikembalikan oleh pihak asuransi sebesar maksimal 80 persen. Angka ini cukup fair mengingat risiko di kripto dan pasar saham kadang lebih sadis dari kehilangan atau loss 20 persen.

Perhitungan margin atau keuntungan atau return yang didapat dari iGrow

Langsung saja ke inti persoalan yaitu sharing pengalaman investasi di iGrow. Di bawah ini saya paparkan janji margin yang tertulis di kontrak dan realisasinya saat project berakhir. Saya memulainya dengan mendanai project penjualan pakan ikan air tawar.

Proyek Pertama: Penjualan pakan ikan air tawar

Modal pendanaan saya : Rp 5 juta (tanpa asuransi karena belum ada fasilitas asuransi)

Margin atau keuntungan atau return per tahun yang dijanjikan: 17 persen per tahun.

Durasi kontrak : 12 bulan sehingga akan mendapatkan margin Rp 850.000

Project berjalan dari Desember 2020 dan berakhir Desember 2021

Realisasi pembayaran margin: tercapai 17 persen atau Rp 850.000

Catatan pengembalian: Pembayaran margin Rp 850.000 dan pengembalian pokok Rp 5 juta terlambat 1 bulan. Mohon para pembaca belajar dari ini, bahwa selain ada risiko gagal panen atau gagal bayar, ada pula risiko molornya pengembalian. Hal itu terjadi karena di lapangan ternyata ada berbagai kendala yang harus dihadapi oleh pengusaha.

Proyek kedua: Penjualan ikan mas jumbo

Modal pendanaan saya: Rp 10 juta, plus asuransi dengan premi 1,25 persen dengan jaminan jika ada gagal bayar pihak asuransi akan mengembalikan maksimal 80 persen. Di awal-awal pengenalan asuransi, iGrow memberlakukan premi 1,25 persen. Saat ini, tahun 2022, premi asuransinya lebih ringan yaitu 1 persen.

Margin yang dijanjikan: 18 persen per tahun

Durasi kontrak: 6 bulan, sehingga akan mendapatkan margin Rp 900.000

Project dimulai Januari 2022 dan berakhir Juli 2022 (dari setup project ini, sebenarnya ini lebih dari 6 bulan atau 7 bulan)

Realisasi pembayaran margin: tercapai 18 persen per tahun dan dengan durasi 6 bulan project saya mendapat Rp 900.000, tapi durasi project sebenarnya molor menjadi 7 bulan. Seperti project pertama, pada project kedua yang saya danai ini, pihak pengusaha juga molor melakukan pembayaran margin maupun pengembalian pokok pendanaan.

Setelah dua kali melakukan pendanaan di iGrow, saya belajar beberapa hal, yaitu sbb:

Bahwa setiap usaha atau setiap instrumen investasi selalu memiliki risiko

Durasi project jangka panjang ternyata lebih membuat hati kita dagdigdug, apalagi jika ada notifikasi dari iGrow bahwa si pengusahanya ada kendala sehingga pembayaran tak bisa dilakukan tepat waktu. So, carilah project jangka pendek misal 6 bulan atau 3 bulan.

Project budidaya ternyata memiliki risiko lebih tinggi dibanding project penjualan. Karena itu, jika kamu pingin mendanai project budidaya, pastikan pengusaha tersebut benar-benar bisa dipercaya.

Mendanai project yang langsung berdampak pada sektor riil terutama pertanian dan peternakan, ternyata lebih menyenangkan karena bisa memberikan efek sosial-ekonomi langsung ke dunia nyata, dibanding bermain saham atau kripto.

Sejauh ini, dari pengalaman pribadi, investasi model iGrow ini bisa jadi harapan di tengah lesunya dunia saham dan kripto. Namun tetap ekstra hati-hati dan pahami risiko kegagalan setiap berinvestasi.

Pemberlakuan Pajak PPh 23 sebesar 15% atau 30%

Dari kasus dua investasi saya di atas, yaitu terkait penundaan pembayaran, saya akhirnya break dari dunia iGrow dan menarik semua dana saya ke rekening. Lebih dari 6 bulan saya gak ada minat coba investasi di iGrow. Tapi, mulai Mei 2022, saya mulai memberanikan diri untuk ikut mendanai project-project di iGrow.

Kali ini, saya mencoba ikut investasi di budidaya dan penjualan sapi perah bogor dan penjualan minyak tilam. Saat saya sedang menulis ini, saya juga sedang meriset untuk mendanai project penjualan minyak sereh dan penjualan daging sapi madura serta sapi boyolali. Semua project yang saya minati ini berdurasi tiga bulan.

Oh iya, ternyata sejak Mei, setiap investasi di iGrow makan dikenakan pajak penghasillan PPh 23. Besarnya pajak ini 15 persen dari margin yang akan kita dapat jika kita menyertaka NPWP. Namun jika tak menyertakan NPWP, kita akan dikenai pajak sebesar 30 persen. Besar banget ya sebenarnya dan ini membuat investasi di iGrow yang memilik risiko menjadi semakin berkurang sisi menariknya.

Tapi, ini memang sudah menjadi kebijakan pemerintah bukan kebijakan iGrow, so tak ada yang bisa kita lakukan selain menerima ini. Jadi, jika tertulis di sebuah projectnya ada margin 18 persen, jangan lupa nanti menguranginya dengan 15 persen untuk pajak PPH bagi yang melengkapi data dengan NPWP. Contoh, jika kamu berinvestasi Rp 10 juta dengan margin 18 persen selama setahun, maka kamu yang harusnya akan mendapatkan margin RP 1.800.000 tapi karena kebijakan ini akan dikurangi Rp 270.000 (jika kamu pakai NPWP) atau akan dapat Rp 1.530.000.

Saya akan upate project-project tersebut setelah project selesai. Jika Anda punya pertanyaan, silakan langsung komen di bawah atau kirim email ke apakabar@endonesia.com.

Baca juga: Dasar Hukum Peraturan Mata Uang Kripto sebagai Aset Investasi di Indonesia

WARNING!!!: Artikel ini dibuat dengan tujuan untuk edukasi terkait pengalaman menggunakan platform pendanaan crowdfunding. Endonesia.com tidak mengajak dan tidak memengaruhi pembaca untuk ikut berinvestasi atau tidak berinvestasi. Jika Anda ingin berinvestasi, Do Your Own Research, lakukanlah riset sendiri dan pertimbangkan masak-masak sebelum investasi. Jika Anda melakukan investasi dan Anda loss atau mengalami kerugian, sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda sendiri. Kami tidak ikut bertanggung jawab.

One thought on “Review Pengalaman Berinvestasi di iGrow Setelah 2 Tahun

Leave a Reply