Pledoi Endah Rumbiyanti Mengetuk Hati Majelis Hakim

Share Article

Pledoi Endah Rumbiyanti, pegawai PT Chevron Pacific Indonesia yang menjadi terdakwa dugaan korupsi bioremediasi fiktif, mencuri perhatian pengunjung sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, pada Rabu (19/6/2013). Salah satu bagian yang menyentuh adalah upaya Rumbi untuk mengetuk hati majelis hakim yang diketuai Sudharmawatiningsih dengan menceritakan nasib lima orang anak yang ia tinggalkan.

Rumbi mengungkapkan, anak-anaknyalah yang sebenarnya lebih terkena dampak atas kasus ini. Paling berat yang ia pikirkan adalah kondisi perkembangan anak-anak, kebutuhan mereka akan pelukan dan perhatian orangtuanya. “Serta kondisi Suami saya yang harus meninggalkan pekerjaan kantornya untuk mendampingi saya menghadapi masa-masa ini,” kata Rumbi.

Kepada majelis hakim, Rumbi mengungkapkan masih percaya bahwa pengadilan ini adalah satu-satunya tempat yang harus dipercaya dan ditunjukkan sebagai tempat menegakkan keadilan dan kebenaran. “Putusan bersalah Majelis Hakim yang terhormat akan diratapi, bukan hanya oleh anak-anak saya, termasuk yang masih di bawah umur, tetapi akan ditangisi oleh ribuan karyawan dan keluarganya, ribuan akademisi, ribuan ibu, karena melihat dan merasakan hukum belum berpihak kepada kebenaran,” kata Rumbi.

Namun, kata Rumbi, putusan babas akan disyukuri dengan sujud syukur oleh keluarga dan kolega, karena putusan bebas itulah putusan yang berpihak kepada kebenaran yang dikemukakan selama persidangan ini serta kenyataan sesungguhnya. “Saya menghormati Majelis Hakim, karena Hakim adalah Jabatan yang Mulia. Saya percaya ketika nurani kita gunakan untuk menilai satu perkara, suara nurani akan melahirkan keberanian untuk menegakkan keadilan,” kata Rumbi.

Air mata Rumbi tak terbendung lagi ketika ia memperkenalkan satu per satu anak-anak Rumbi. Saat bersamaan, mata para pengunjung sidang juga tampak berkaca-kaca, tak kuasa menahan haru dan derita Rumbi. Rumbi memperkenalkan anak-anaknya dengan disertai foto mereka.

Rumbi bercerita, ada seorang anak perempuan, berusia 13 tahun. Sang anak memiliki persepsi, hakim-hakim yang mengadili ibunya adalah Jahat. Kepada puterinya, sang ibu mengatakan berkali-kali , para hakim itu adalah orangtua yang bijaksana, mereka representasi Tuhan di dunia.

“Nak, para hakim, yang mengadili Ibu adalah orangtua juga, sama seperti Ibu, mereka adalah juga orangtua yang bijaksana, terlebih karena mereka mengadili nasib manusia. Mereka adalah representasi Tuhan di dunia. Maka dipilihlah orang-orang yang bijaksana dan bernurani untuk duduk sebagai hakim,” kata Rumbi.

“Yang Mulia, anak perempuan itu, bernama Carissa, dengan ibu bernama Rumbi. Ini anak saya yang mulia, yang selalu mengirimkan foto penuh senyuman untuk menyemangati ibundanya setiap akan maju sidang,” Rumbi terisak sambil mengangkat foto anaknya.

“Bapak, Ibu Hakim, mohon bantu saya, untuk meyakinkan Carissa, bahwa apa yang saya katakan tentang Bapak dan Ibu Hakim adalah orang yang bijaksana itu benar. Bantu saya Yang Mulia,” pinta Rumbi sambil menyeka air matanya.

Suasana makin hening, Rumbi kembali memperkenalkan anak bungsu. “Ada seorang anak berusia 2,5 tahun pergi ke penjara untuk bertemu ibunya. Anak itu sering pergi menemui ibunya, dan mengerti ketika melihat ada petugas berseragam mendekat, dia serta merta memeluk ibunya,” kata Rumbi.

“Ibu Hakim, tahu kenapa? Karena dia tahu, itulah saat dia harus berpisah dengan ibunya. Dan inilah anak itu, Gaza Ghifari Kertanegara, putera bungsu saya,” Rumbi mencium foto anaknya itu begitu dalam. Para pengunjung banyak yang tak kuasa menahan lelehan air mata ketika satu per satu anak-anak Rumbi diperkenalkan dengan cara yang menyentuh.

Rumbi mengisahkan anaknya yang lain. Suatu kali, ada anak laki-laki berusia 8 tahun, yang selalu ingin memastikan kondisi ibunya aman ketika disidang. Dalam benaknya, ibunya duduk sendiri di tengah, seperti yang pernah dia lihat di TV, dan ibunya dimarahi banyak orang dari berbagai sisi.

“Nalurinya membuat dia ingin melihat ibunya langsung, memohon datang ke sidang dan berusaha masuk, namun diusir karena usianya tidak cukup. Deraan beban yang besar harus ditanggung anak sekecil itu,” kata Rumbi. Akhirnya, anak itu pun kemudian jatuh sakit dan dalam baringnya, tanpa pendampingan Ayah Ibunya, ia masih sering bertanya tentang Ibunya kepada yang menjaganya.

”Apakah Ibu saya masih dimarahi di sidang?” begitu Rumbi mengisahkan anaknya yang bernama Dio. “Ini anak saya yang ketiga Yang Mulia, saat dia terbaring sakit tanpa orangtuanya di sisinya,” kata Rumbi sambil mengangkat foto anaknya.

Pendidikan anak

Rumbi juga mengisahkan bagaimana ia mendidik anak. “Bekerja bagi saya tidak untuk hari ini, tapi untuk masa depan, tidak saat saya masih bisa menghirup udara ini, namun setelah saya tidak ada lagi di dunia. Saya ingin, anak-anak dan cucu-cucu saya hidup dengan baik. Karena itu juga, saya bekerja dengan nilai-nilai integritas dan kearifan, saya ingin, saat saya tiada nanti, anak saya memiliki nilai integritas, yakin akan kearifan serta tidak memiliki musuh karena ulah saya,” kata Rumbi.

Karena itu, kata Rumbi, ia tidak akan pernah mengajarkan anak-anak melalaikan tugas mereka. Bahkan Gaza, anak paling kecil sudah diajarkan untuk melakukan tugas-tugas kecil. “Tidak akan pernah pula kami mengajarkan anak-anak kami untuk mencuri, berbohong dan hidup berfoya-foya,” kata Rumbi.

Konservasi gajah

Rumbi adalah aktivis lingkungan hidup, ia juga mengisahkan kegiatannya dalam konservasi gajah. “Saya, suami saya (yang juga bekerja untuk Chevron), dan anak-anak kami, secara rutin mengunjungi pusat latihan gajah, dan kami ikut serta dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam di Riau, melakukan upaya-upaya penyelamatan bagi gajah sumatera yang semakin punah karena hutan mereka banyak digunakan untuk perkebunan liar,” kata Rumbi.

Anak-anak Rumbi ikut menikmati dalam konserveri gajah, paling suka dengan jam intai malam, untuk memastikan gajah yang sakit tetap bisa dirawat. “Gajah-gajah itu secara alami mendatangi camp kami di Duri ataupun Lapangan Chevron, yang masih memiliki hutan asri bagi mereka untuk bertahan hidup,” kata Rumbi.

Namun, kebersamaan dengan anak-anak itu sekarang sudah terenggut karena kasus ini. “Hal-hal yang saya lakukan dengan anak-anak saya tersebut,saat ini adalah hal yang langka, karena saat ini saya tidak bisa berada di Sumatera, tidak saja untuk mendampingi anak-anak saya, namun juga untuk melakukan upaya-upaya penyelamatan bagi lingkungan,” kata Rumbi.

Kepada tanah

Selain ingin mengetuk hati majelis hakim, Rumbi juga berbicara saol tanah-tanah yang dijadikan alat bukti oleh kejaksaan. “Untuk tanah-tanah yang dijadikan bukti untuk persidangan ini, bila mereka bisa berbicara, pasti akan berbicara lantang untuk memohon tidak dijadikan saksi kepalsuan, karena alam tidak pernah berdusta,” kata Rumbi.

“Suatu saat nanti, saya akan bertemu dengan tanah-tanah itu, sebagaimana mereka juga akan bertemu kita semua di ruang ini…dan saat itulah, dapat diketahui apakah mereka merengkuh kita dalam damai, atau akan berbalik menghantui masa-masa panjang kita dalam kekelaman karena kepalsuan yang dijadikan dasar semua kezaliman ini,” papar Rumbi. (Amir Sodikin dikutip dari amirsodikin.com)

loading...

Leave a Reply