Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by whitelisting our website.

Pemanasan Global dan Pembangunan Bisa Menghentikan Peran Lahan Gambut Menjaga Karbon Keluar dari Atmosfer

Share Article
Lebih bernilai dibanding kelihatannya. David Stanley/Flickr, CC BY

Julie Loisel, Texas A&M University

Lahan gambut adalah jenis lahan basah di mana terdapat tanaman kering yang tidak sepenuhnya terurai karena terlalu basah.

Dalam ekosistem ini, gambut terbentuk sebagai tanah agak gelap bertekstur seperti spons.

Selama ribuan tahun, lapisan tebal gambut terus bertambah dan menangkap sejumlah besar karbon, membantu mendinginkan iklim dalam skala global.

Namun, peran ini mungkin tidak akan bertahan lebih lama lagi.

Suhu yang memanas dan aktivitas manusia, seperti mengeringkan rawa gambut dan mengubahnya menjadi lahan pertanian, bisa mengubah lahan gambut dari penyerap karbon menjadi sumber karbon.

Dalam studi terbaru, tim kami yang terdiri dari 70 ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu dari seluruh dunia, menganalisis riset yang sudah ada dan melakukan survei pada 44 ahli terkemuka untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang bisa mengubah kadar karbon lahan gambut saat ini dan di masa depan.

Kami menemukan bahwa degradasi ibun abadi (permafrost) atau lapisan tanah es, suhu menghangat, naiknya permukaan laut dan kekeringan menyebabkan banyak lahan gambut di seluruh dunia kehilangan karbon yang sudah tersimpan.

Belum lagi, degradasi sangat cepat terjadi akibat aktivitas manusia. Apabila tidak ada langkah-langkah diambil untuk melindungi lahan gambut, jumlah hilangnya karbon bisa semakin cepat.

Peta menunjukkan distribusi global dari lahan gambut.
Lahan gambut diperkirakan dapat ditemukan di lebih dari 180 negara. Beberapa masih belum terdeteksi dan terpetakan. Levi Westerveld/GRID-Arendal, CC BY-ND

Menjadi sumber emisi karbon

Meskipun hanya mencakup 3% dari areal lahan global, lahan gambut mengandung sekitar 25% karbon global, dua kali lebih banyak dari hutan-hutan dunia.

Lahan gambut ada di setiap benua, bahkan Antarktika.

Ekosistem ini terbentuk dari sebagian bahan organik yang membusuk terakumulasi di tanah dingin yang hampir selalu basah, yang secara dramatis memperlambat dekomposisi. https://www.youtube.com/embed/sMawMMtME7g?wmode=transparent&start=0 Manusia menggunakan gambut untuk bahan bakar sejak lama, dan juga perasa wiski.

Namun, perubahan iklim telah mengubah kondisi tersebut.

Sebagai contoh, di beberapa wilayah Arktik, lapisan es sangat cepat mencair dan mendorong aktivitas mikroba yang melepaskan gas rumah kaca ke atmosfer.

Mikroba-mikroba ini mengonsumsi gambut kaya karbon yang sebelumnya beku.

Penyebab lainnya adalah kebakaran lahan gambut secara masif.

Kebakaran hutan baru-baru ini, seperti di Rusia, melepaskan karbon dalam beberapa bulan setara dengan total emisi karbon dioksida manusia dalam satu tahun.

Kebakaran gambut juga sulit dipadamkan.

Bara dalam bahan organik yang padat dapat menyala kembali berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun kemudian.

Aktivitas manusia juga bisa meningkatkan pelepasan gas rumah kaca dari ekosistem gambut yang kaya akan karbon.

Misalnya, di Inggris, mengolah gambut untuk kebun telah menyebabkan lahan gambut untuk melepaskan sekitar 16 juta ton karbon setiap tahun.

Ini kira-kira setara dengan emisi gas rumah kaca tahunan lebih dari 12 juta mobil.

Di Indonesia dan Malaysia, karena lahan subur semakin jarang, lahan gambut dibakar, dikeringkan, dan dialihfungsikan.

Saat ini, sebagian besar lahan gambut Indonesia telah dihancurkan untuk perkebunan kelapa sawit.

Lahan gambut kering
Gambut terpotong menjadi blok dan dikeringkan di rak di Tierra del Fuego, Argentina. Julie Loisel, CC BY-ND

World Resources Institute memperkirakan bahwa pengeringan lahan gambut di Indonesia dan Malaysia menghasilkan total emisi tahunan setara dengan hampir 70 pembangkit listrik batu bara.

Kegiatan ini juga membahayakan populasi satwa rentan, seperti orang utan dan berbagai jenis ikan air tawar.

Degradasi lahan gambut karena aktivitas manusia menyumbang 5-10% emisi karbon dioksida tahunan dari aktivitas manusia, terlepas dari jejak geografis dari zona-zona ini.

Mengukur karbon lahan gambut

Mengukur berapa banyak karbon yang akan lepas dari lahan gambut seluruh dunia sangat sulit dilakukan, terutama karena tidak ada model yang secara memadai bisa mewakili ekosistem ini dan banyak faktor yang memengaruhi kadar karbon.

Lahan gambut tidak termasuk ke dalam kebanyakan model sistem Bumi yang digunakan para ilmuwan untuk proyeksi perubahan iklim di masa depan.

Ada pandangan lama bahwa lahan gambut adalah faktor kecil dalam siklus karbon global secara tahun-ke-tahun.

Namun, studi kami dan banyak penelitian lain menunjukkan bahwa perubahan iklim dan intervensi manusia membuat ekosistem ini sangat dinamis.

Studi kami menyoroti perlunya mengintegrasikan lahan gambut ke dalam model-model ini; kami juga berharap ini dapat membantu mengarahkan penelitian baru.

Meskipun model belum siap, keputusan perlu diambil sekarang tentang bagaimana mengelola lahan gambut.

Oleh karena itu, kami melakukan survei ahli sebagai langkah awal terhadap prediksi nasib karbon lahan gambut seluruh dunia.

Berdasarkan respon mereka, kami memperkirakan bahwa ada 100 miliar ton karbon bisa terlepas dari lahan karbon di tahun 2100.

Ini jumlah yang sama dengan 10 tahun emisi dari seluruh aktivitas manusia, termasuk membakar bahan bakar fosil dan membuka hutan.

Para ahli yang kami tanyakan tidak bisa mencapai kesepakatan dan perkiraan kami sangat tidak pasti: Perubahan bersih karbon gambut selama 80 tahun ke depan dapat berkisar dari 103 miliar ton hingga kerugian 360 miliar ton.

Tidak semua negara terkena dampak dengan cara yang sama.

Lahan gambut pada ketinggian mungkin mengalami peningkatan penyimpanan karbon di bawah iklim yang menghangat karena peningkatan pertumbuhan tanaman dan akumulasi gambut yang lebih besar.

Gambut tropis, di sisi lain, lebih cenderung mengering dan terbakar karena suhu menghangat dan aktivitas manusia.

Faktor-faktor ini dan pilihan manusia tentang pengelolaan lahan gambut akan memengaruhi apakah daerah-daerah ini menjadi sumber atau penyerap karbon di masa depan.

Lahan basah tropis
Lahan gambut tropis di Panama. Angela Gallego-Sala, CC BY-ND

Secara keseluruhan, hasil kami menunjukkan bahwa pelepasan karbon akan melampaui penyerapan pada tahun-tahun mendatang, terutama karena dampak manusia di lahan gambut tropis.

Peralihan dari penyerap ke sumber emisi karbon ini akan mendorong positive feedback loop.

Lahan gambut melepaskan karbon yang membuat iklim Bumi lebih hangat, yang membuat lahan gambut melepaskan lebih banyak karbon, dan seterusnya.

Terlepas dari ketidakpastian dalam temuan kami, kami percaya hasil kami menunjukkan bahwa lahan gambut harus dimasukkan dalam model iklim dan negara-negara harus mengambil langkah-langkah untuk melestarikannya.

Menuju penggunaan berkelanjutan

Keseimbangan harus dicapai antara penggunaan lahan gambut yang bijak dengan kebutuhan ekonomi.

Mengingat banyak karbon dari lahan gambut dan kerentanan mereka, banyak ahli yang kami survei percaya bahwa orang-orang akan segera mengadopsi praktik yang lebih berkelanjutan untuk mengelolanya.

Tapi, tidak semua optimis.

Di wilayah seperti Amazon dan Kongo, di mana terdapat lahan gambut luas baru-baru ini ditemukan, sangat penting untuk mengambil tindakan untuk pelestarian.

Lahan gambut juga harus dipertimbangkan ke dalam model penilaian terintergrasi yang digunakan para ilmuwan menggunakan untuk memahami dampak perubahan iklim dan opsi mitigasi.

Model yang dapat memproyeksikan perubahan sosial ekonomi di masa depan dan jalur emisi karbon yang mampu membantu mengembangkan insentif, seperti harga karbon lahan gambut dan praktik penggunaan berkelanjutan.

Ini akan mengubah cara ekosistem gambut semakin dihargai dan dikelola.

Akan tetapi, langkah pertama adalah meningkatkan kesadaran di seluruh dunia tentang sumber alam yang berharga ini dan konsekuensi yang didapat bila terus mengeksploitasi.


Wiliam Reynold menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

Julie Loisel, Assistant Professor of Geography, Texas A&M University

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

loading...

Leave a Reply