Kita Mestinya Lebih Sering Membicarakan Toilet di Indonesia, Mengapa Penting?

Share Article
Toilet
Ilustrasi toilet. (PEXELS/Hafidz Alifuddin)

Juhri Selamet, Universitas Multimedia Nusantara

Artikel diterbitkan untuk memperingati Hari Toilet Sedunia, 19 November.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan 19 November sebagai Hari Toilet Sedunia untuk meningkatkan kesadaran bahwa 4,2 miliar orang hidup tanpa akses ke sanitasi yang aman, termasuk di Indonesia.

Di Indonesia, sekitar 25 juta orang tidak menggunakan toilet saat buang air besar. Di negeri ini satu dari tiga orang tidak memiliki akses ke toilet flush (siraman), kakus atau sistem septik. Sebagai gantinya, mereka membuang air besar di ladang, semak-semak, hutan, parit, jalan, kanal, atau ruang terbuka lainnya.

Padahal, buang air besar sembarangan bisa menimbulkan risiko yang sangat besar dan kesehatan masyarakat seperti penyakit menular kolera, diare, disentri, hepatitis A dan tifus.

Sebuah riset menyatakan buruknya sanitasi menyebabkan ancaman kesehatan anak seperti diare di Bandung dan infeksi penyakit giardiasis (gangguan pencernaan akibat infeksi parasit pada usus halus) di Timur Leste.

Riset lainnya di Jakarta dan Nusa Tenggara menunjukkan kurang memadainya fasilitas dan infrastuktur toilet di sekolah menyebabkan siswa perempuan jarang mengganti pembalut saat menstruasi. Dampak ikutannya, mereka berisiko mengalami gangguan kesehatan reproduksi dan sebagian kemudian tidak melanjutkan sekolah.

Membicarakan toilet bukan sekadar masalah buang air. Ini soal kesehatan dan masa depan kita semua.

Kita perlu menyusun kampanye yang efektif untuk mengubah pandangan dan perilaku masyarakat, juga pengelola sekolah dan lembaga publik, terkait pentingnya toilet untuk kesehatan keluarga dan masyarakat.

Komunikasi kesehatan untuk toilet

Komunikasi punya peran penting untuk mengubah pandangan dan perilaku individu dan masyarakat yang belum punya toilet. Masalahnya, kampanye manfaat toilet kurang terdengar di Indonesia, terutama dari pemerintah. Tanpa ada program kampanye yang besar, sulit mengevaluasi apakah sebuah pesan komunikasi itu efektif atau tidak dalam mengubah perilaku masyarakat.

Padahal, kampanye pentingnya toilet sehat sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran untuk mengatasi krisis sanitasi global. Langkah ini untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 6 yang menyatakan akses air dan sanitasi yang aman untuk semua orang pada 2030.

UNICEF menyediakan panduan kampanye program komunikasi yang bisa digunakan oleh pemerintah dan organisasi non-pemerintah terkait sanitasi agar berhasil dengan model sirkel model ACADA: Assessment, Communication Analysis, Design, and Action. Model ini bisa kita kombinasikan dengan prinsip komunikasi kesehatan dan risiko yang melibatkan komunitas (community engagement).

Tahapan assessment menjadi langkah awal bagi pembuat program dan kampanye untuk mengetahui konteks, situasi dan budaya di komunitas sebelum menganalisis masalah, perilaku, partisipan dan saluran komunikasi.

Pemerintah dan organisasi non-pemerintah yang punya program sanitasi perlu memahami peran adat, kepercayaan dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan fasilitas untuk meningkatkan kualitas lingkungan permukiman.

Ada mitos yang berkembang di berapa daerah, misalnya, tidak boleh ada lubang di dalam kampung sehingga tidak ada toilet atau WC di dalam kampung tersebut.

Dalam tahapan desain, strategi komunikasi perlu terintegrasi dengan pelibatan komunitas melalui advokasi dan program sebelum melakukan aksi kampanye. Setelah itu baru bisa kita monitoring dan evaluasi.

Kita perlu menyusun kampanye dan model komunikasi yang mudah dipahami masyarakat di tengah kurangnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya toilet untuk kesehatan.

Kita harus menghindari praktik mempermalukan dalam program promosi kesehatan toilet dan sanitasi yang tidak sensitif dan selaras dengan budaya masyarakat lokal.

Tentang desain toilet, kita bisa belajar dari India. Sekitar 600 juta orang di India membuang air besar sembarangan. Untuk mengatasi masalah toilet, India berinovasi dengan membangun toilet cetak 3D, yang juga bisa menghasilkan biogas.

Untuk Indonesia, kita memerlukan solusi desain toilet yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal.

Jalinan komunikasi antara pembuat program dan masyarakat lokal dapat memberikan peluang baik dalam proses pembuat prototipe toilet dari awal proses desain. Melibatkan masyarakat lokal dalam membuat visualisasi desain toilet pernah sukses dilakukan di toilet umum di Pune dan Mumbai, India.

Atasi hambatan

Merancang komunikasi kesehatan dan risiko yang melibatkan komunitas dapat menciptakan saluran komunikasi yang sensitif dengan budaya dan bahasa lokal.

Model komunikasi ini juga sejalan dengan teori Health Belief Model yang biasa digunakan dalam kampanye komunikasi kesehatan dan risiko.

Berdasarkan model ini, ada dua hal utama yang mempengaruhi apakah seseorang akan mengadopsi perilaku tertentu untuk melindungi kesehatannya.

Pertama, mereka secara pribadi harus merasa rentan terhadap penyakit tersebut, maka harus ada persepsi risiko. Kedua, orang tersebut harus percaya bahwa tindakan yang direkomendasikan akan efektif dalam mengurangi risiko dan manfaatnya lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan jika terkena penyakit.

Model ini juga mengidentifikasi hambatan yang mempengaruhi perilaku kesehatan, misalnya tidak membuat toilet di sebuah keluarga. Hambatan psikologis (misalnya rasa malu), struktural (misalnya kurangnya transportasi dan akses), atau keuangan perlu diatasi.

Studi kasus yang telah sukses menggunakan strategi dan taktik ini di antaranya di Slaeng, Kamboja. Di sana pemimpin desa berhasil mengkampanyekan kesehatan untuk mengubah perilaku masyarakat desa pakai toilet sejalan dengan budaya lokal.

Toilet bisa melindungi kesehatan

Setiap hari 14 ribu ton tinja mencemari badan air di Indonesia.

Hal ini terjadi karena tidak didukung adanya toilet yang terkelola dengan aman, toilet yang tidak memadai dan perilaku masyarakat yang melakukan buang air besar sembarang.

Selain itu, luapan dan kebocoran dari pipa dan sistem septik, pembuangan dan penanganan yang tidak tepat menyebabkan kotoran manusia tidak diolah mencemari lingkungan. Masalah ini menyebarkan penyakit mematikan dan kronis seperti kolera dan cacingan.

Meningkatkan akses ke fasilitas sanitasi dan toilet dapat mengurangi tingkat infeksi dan kematian, terutama dalam kesehatan ibu dan anak.

Kamar mandi dan toilet yang higienis dengan air bersih yang mengalir, wastafel, dan sabun dapat membantu perempuan dan anak perempuan melalui menstruasi dengan aman dan sehat.

Toilet dan sanitasi berkelanjutan

Efek perubahan iklim mengancam infrastruktur air, sanitasi, dan higinies. Ketika air banjir mencemari sumur yang digunakan untuk air minum atau ketika banjir merusak toilet, maka kotoran manusia dapat tersebar ke masyarakat dan tanaman pangan.

Insiden ini, yang semakin sering terjadi seiring dengan memburuknya perubahan iklim, menyebarkan limbah manusia ke lingkungan tempat tinggal manusia dan menyebabkan penyakit yang mematikan dan kronis.

Kita butuh sanitasi berkelanjutan.

Konsep ini mengacu pada sistem penangkapan, pembuangan, perawatan, dan penggunaan kembali feses yang andal dan efektif, yang tahan terhadap guncangan eksternal seperti banjir, kekurangan air, dan kenaikan permukaan laut.

Sekitar 80% dari air limbah (termasuk air tinja) yang dihasilkan masyarakat mengalir kembali ke ekosistem tanpa diolah atau digunakan kembali. Sistem sanitasi berkelanjutan menangkap, mengangkut, mengolah, membuang, dan menggunakan kembali limbah manusia dengan aman.

Selain dampak yang besar terhadap kesehatan dan kondisi kehidupan, air limbah yang dikelola dengan aman memiliki potensi besar sebagai sumber energi, nutrisi, dan air yang terjangkau dan berkelanjutan yang dapat mengurangi risiko iklim di sektor pertanian dan energi.

Karena itu pengelolaan limbah manusia melalui toilet yang aman dan ramah lingkungan adalah kunci untuk mengurangi dampak air limbah yang tidak diolah dengan baik.

Juhri Selamet, Lecturer, Universitas Multimedia Nusantara

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *