Haidar Bagir: Dunia Tasawuf, Buku, dan Sekolah

Share Article

Tulisan koran yang wajib anda baca hari ini, Jumat (7/6/2013), adalah tulisan di Harian Kompas di rubrik sosok yang mengulas Haidar Bagir. Pergulatan antara dunia tasawuf, buku, dan sekolah. Tulisan di Kompas ini sengaja kami tampilkan di sini sebagai bahan belajar dan renungan kita semua. Anda layak membacanya. Bersyukurlah bagi yang telah berlangganan Kompas, namun bagi yang tak sempat menemukan korannya, berikut tulisan di Kompas cetak. (red)

+++++

Sumber tulisan: Kompas cetak, Jumat (7/6/2013),
URL: http://cetak.kompas.com/read/2013/06/07/02553349/dunia.tasawuf.buku.dan.sekolah

Nama Dr Haidar Bagir (56) tidak bisa dipisahkan dengan Penerbit Buku Mizan atau Mizan Publishing House, induk perusahaan sejumlah penerbit buku di Bandung yang dia dirikan 30 tahun lalu bersama dua temannya. Tetapi, dia lebih dikenal dan lebih suka disebut dosen filsafat Islam atau pengajar tasawuf daripada presiden direktur pada perusahaan itu.

Oleh ST SULARTO

Alasan dia, manajemen bisnis perusahaan sudah dijalankan karyawan dengan baik. Haidar tinggal memonitor dan menikmati bergelut dengan pemikiran-pemikiran filsafat, khususnya filsafat agama.

”Dari sarjana Teknologi Industri ITB, Anda lantas mendalami filsafat agama, tidak salahkah?” Pertanyaan itu dijawabnya dengan tangkas, ”Hal yang salah bukan pada studi magister dan doktornya, tetapi ketika di ITB saya salah tempat.” Lalu lanjutnya, ”Semula saya ingin belajar di jurusan ekonomi, tetapi sebenarnya minat saya juga bukan ke sana.”

Berjumpa di kantornya di Jalan Simatupang, Jakarta, pertengahan Mei lalu, berdiskusi dengan Haidar terasa mengasyikkan. Pernyataan dan penjelasannya mengalir, inspiratif, mendalam, tetapi mudah dicerna oleh siapa pun.

Pernyataannya juga selalu menyisakan rasa ingin tahu. Bukan tentang dunia perbukuan, apalagi tentang Mizan, melainkan tentang keyakinannya bahwa Islam adalah agama cinta. Islam juga akrab dengan konsep cinta.

Bagi Haidar yang sudah menulis puluhan buku tentang keberagamaan, tasawuf menjawab persoalan spiritual tentang makna kehidupan: dari mana, untuk apa, dan mau ke mana.

Tasawuf bagi dia adalah pemahaman spiritual pada agama yang didasarkan atas hubungan cinta kasih timbal balik antara manusia dan Tuhan, antarsesama manusia dan alam semesta.

Di antara banyak rujukan, ia paling tertarik pada pemikiran Ibn ’Arabi (1165-1240) yang lahir di Murcia, Spanyol, dan meninggal di Damaskus.

Bagi dia, Ibn ’Arabi mampu menggabungkan berbagai aliran pemikiran esoterik yang berkembang di dunia Islam pada masanya dalam satu sintesis yang luas dengan ajaran Al Quran dan hadis. Buku Haidar yang akan diluncurkan Juni ini dimaksudkan menjadi pintu masuk sekaligus peta kehidupan Ibn ’Arabi.

Tokoh berpengaruh

Entah karena aktivitas Haidar dalam mengembangkan dan menyampaikan pemikiran Islam yang serba toleran dan sejuk atau sebab aktivitas dia dalam mengembangkan lembaga pendidikan pada beberapa sekolah di bawah Yayasan Lazuardi yang dipimpinnya, Haidar selama bertahun-tahun termasuk dalam daftar ”500 Most Influential Muslims” (The Royal Islamic Strategic Studies Centre, 2011). Tentang hal ini, dia berkilah, ”Ah, itu hanya kebetulan saja.”

Sejak mahasiswa, Haidar tertarik dan bergelut dengan pemikiran tasawuf. Tahun 1982, misalnya, ia membuat para mahasiswa kagum dengan pengetahuannya yang mendalam tentang filsafat Islam dan pemikir Islam. Padahal, baru beberapa tahun kemudian ia kuliah di Pusat Studi Timur Tengah Universitas Harvard. Ia lulus S-2 pada 1992.

Pengetahuannya tentang Islam tak kalah dengan pengetahuannya tentang dunia perbukuan. Sewaktu mengisi acara stan Ikatan Penerbit Buku Indonesia di Frankfurt Book Fair, Oktober 2010, stan yang sebelumnya sepi lantas dipadati pengunjung. Haidar tak hanya bicara tentang tasawuf, tetapi juga tentang buku-buku keagamaan dalam konstelasi perbukuan internasional. Saat diingatkan pada peristiwa itu, ia hanya tertawa.

Kurikulum 2013

Selain tasawuf dan dunia buku, Haidar mengaku terlibat sejak awal dalam proses rencana penyusunan Kurikulum 2013. Ia termasuk anggota kelompok independent review dan berkali-kali bertemu Wakil Presiden Boediono.

”Sejak awal berkali-kali saya katakan persiapannya tidak rapi, bukunya juga belum siap. Bila perlu, kita bikin pilotproject dulu,” ujar Haidar tentang apa yang terjadi di balik proses Kurikulum 2013. Namun, pemerintah memilih jalan terus.

Oleh karena keputusan politis menyebutkan program itu harus jalan, buku—khususnya untuk sekolah dasar (SD)—harus segera disiapkan. Ia lalu membentuk tim penulis. Sebanyak 50 orang pun bekerja keras dalam waktu satu setengah bulan.

Konsep tematik terintegrasi menjadi panduan buku yang dia siapkan bersama tim sebagai bentuk pendekatan yang tak lagi terfragmentasi dalam sejumlah mata pelajaran. Pendekatan ini baru dan revolusioner untuk praksis pendidikan di Indonesia.

Hal seperti itu sudah dipraktikkan di banyak negara maju. Selain mutlak, perlu kebijakan pendidikan yang jauh dari kepentingan politik yang pragmatis dan sesaat.

Selain buku, faktor guru juga harus dipersiapkan. Agar maksimal hasilnya, training bagi para guru untuk pendekatan ini menjadi strategis dan penting. Kalau semua persiapan tersebut matang, dijalankan dengan benar, dan tak direcoki kasus-kasus penyelewengan, Haidar yakin, kurikulum ini bisa membuat perubahan luar biasa pada cara belajar siswa SD.

Dasarnya adalah aktivitas belajar. Ini serupa praksis pendidikan yang pernah dipraktikkan di Indonesia, seperti Cara Belajar Siswa Aktif.

Membantu menulis buku untuk Kurikulum 2013 bukannya bebas dari kritik. Kata Haidar, ”Jawaban saya sederhana, pemerintah mau ini jalan terus atau berhenti? Kalau pemerintah bilang berhenti, mari kita berhenti. Kalau pemerintah bilang kurikulum baru jalan terus, kita ikut membantu yang terbaik.”

”Mari kita bikin bukunya sebaik yang bisa dibuat meskipun tidak ideal karena waktunya mepet. Tetapi, menurut istilah Pak Wapres, setidaknya tujuh setengah,” ia menambahkan.

Dunia tasawuf, buku, dan sekolah adalah tiga wilayah yang terus dia geluti. Seolah ketiganya dia organisasi dalam satu tarikan napas, yakni toleransi dan pengembangan karakter.

Penerbit Mizan bulan ini genap 30 tahun. Awalnya usaha ini hanya menerbitkan buku-buku agama Islam, lalu diperluas. Dari puluhan ribu judul yang diterbitkan, yang menonjol, antara lain, buku terjemahan karya Karen Armstrong, mantan biarawati Katolik asal Inggris dan penulis lebih dari 22 buku yang laris selama 10 tahun terakhir. Armstrong menulis tentang keagamaan dan kemanusiaan.

Dalam perayaan 30 tahunnya, Mizan mendatangkan Armstrong ke Indonesia pada 13-15 Juni 2013. Ia akan menyampaikan dua kali kuliah umum di Jakarta dan meluncurkan terjemahan karyanya tahun 2008, Compassion: 12 Langkah Menuju Hidup Berbelas Kasih.

+++

Biodata:
HAIDAR BAGIR
• Lahir: Solo, Jawa Tengah, 20 Februari 1957
• Istri: Lubna Assegaf
• Anak:
– Muhammad Irfan
– Mustafa Kamil
– Ali Riza
– Syarifa Rahima
• Kakek dari dua cucu
• Pendidikan: S-3 Filsafat Islam dari Universitas Indonesia, 2004
• Pekerjaan:
– Presiden Direktur Mizan Publishing House
– Mengajar pada sejumlah perguruan tinggi
– Aktif berceramah tentang pemikiran dan keberagamaan

Sumber tulisan: Kompas cetak, Jumat (7/6/2013),
URL: http://cetak.kompas.com/read/2013/06/07/02553349/dunia.tasawuf.buku.dan.sekolah

Leave a Reply