Gani Abdul Ghani, Mantan Dirut Rekanan PLN, Dijerat Korupsi

Share Article

Mantan Direktur Utama PT Netway Utama, Gani Abdul Ghani, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu (26/6), didakwa telah melakukan kongkalikong korupsi dalam pengadaan outsourcing Roll Out Customer Information System-Rencana Induk Sistem Informasi (CIS RISI) di PT PLN Disjaya dan Tangerang pada 2004-2006. Kasus ini merupakan pengembangan dari perkara korupsi yang menyeret mantan Direktur PLN Eddie Widiono.

Jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi, mendakwa Gani dengan kerugian negara Rp 46,1 miliar. Jaksa Risma Ansyari mengatakan Eddie melakukan penunjukan langsung kepada PT Netway untuk menjalankan proyek tersebut. Eddie telah divonis lima tahun penjara di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta beberapa waktu lalu.

Risma mengatakan, proyek yang sama sudah berjalan di PT PLN Disjaya dan Tangerang sejak tahun 1994 dan dihidupkan kembali pada sekitar tahun 2000. Gani pun menyanggupi permintaan Eddie untuk membuat proposal pelaksanaan proyek tersebut PT PLN Disjaya dan Tangerang.

Gani mempresentasikan proposal kegiatannya di hadapan Eddie dan beberapa pejabat PT PLN Pusat serta PT PLN Disjaya dan Tangerang. Atas presentasi tersebut, Eddie pun menyetujuinya dengan meminta Gani mengajukan penawaran ke PT PLN Disjaya dan Tangerang.

Gani lantas menyampaikan surat penawaran PT Netway Utama. Lalu pada Januari 2004, General Manager PT PLN Disjaya Fahmi Mochtar membuat surat penunjukan PT Netway Utama sebagai pelaksana pekerjaan jasa Outsourcing Roll Out CIS RISI di seluruh area pelayanan dan kantor distribusi PT PLN Disjaya dan Tangerang.

Kemudian diterbitkanlah perjanjian kerjasama pengadaan dengan nilai proyek setelah dipotong pajak dari tahun 2004-2006 seluruhnya berjumlah Rp92,2 miliar. Padahal, nilai sebenarnya hanya Rp 46,1 miliar sehingga markup-nya mencapai Rp 46,1 miliar yang menguntungkan perusahaan Gani.

“Sehingga selisihnya sebesar Rp46,1 miliar telah memperkaya Gani Abdul Gani atau PT Netway Utama yang mengakibatkan kerugian negara sejumlah tersebut,” kata jaksa Risma. Terdakwa dijerat Pasal 2 Ayat (1) jo. Pasal 18 dan atau Pasal 3 jo. Pasal 18 UU Pemberantasan Korupsi jo. Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUH Pidana.

Dalam sidang Eddie, yang telah divonis, disebutkan ia terbukti melakukan tindak pidana korupsi secara sendiri ataupun bersama-sama dengan eks General Manager PLN Disjaya Tangerang Margo Santoso, Fahmi Mochtar, serta Direktur Utama PT Netway Utama Gani Abdul Gani. Eddie melakukan penunjukkan langsung terhadap PT Netway Utama sebagai pelaksana proyek CIS-RISI tersebut.

Pada Januari 2004, General Manager PT PLN Disjaya Fahmi Mochtar membuat surat penunjukan PT Netway Utama sebagai pelaksana pekerjaan jasa Outsourcing Roll Out CIS RISI di seluruh area pelayanan dan kantor distribusi PT PLN Disjaya dan Tangerang dengan nilai pekerjaan Rp 137,1 miliar.

Di saat yang sama tim penyusunan kontrak pun dibentuk Fahmi. Lalu, keluarlah perjanjian kerja sama pengadaan dengan nilai proyek setelah dipotong pajak dari tahun 2004-2006 seluruhnya berjumlah Rp 92,2 miliar. Padahal pembebanan biaya pengadaan sebenarnya hanya Rp 46,1 miliar. (Endonesia.com)

loading...

Leave a Reply