Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by whitelisting our website.

Anime “Attack on Titan”: Bagaimana Penguasa Mengubur Masa Lalu dan Memicu Siklus Kekerasan

Share Article
(Wikimedia Commons/Altan Dilan), CC BY

Eunike G. Setiadarma, Northwestern University

PERINGATAN SPOILER: Penulis menggunakan beberapa contoh peristiwa dalam manga yang belum diungkap dalam adaptasi anime Attack on Titan.


Dua bulan terakhir, pencinta anime (animasi Jepang) menikmati musim terakhir cerita Shingeki no Kyojin atau Attack on Titan (AoT) yang tayang di Netflix.

Serial ini adalah adaptasi manga (komik Jepang) karya Hajime Isayama yang pertama diterbitkan pada tahun 2009. Hingga tahun 2019, penjualannya mencapai 100 juta komik dan anime-nya menjadi salah satu tayangan siap tonton yang paling populer.

Ide utama serial ini menceritakan tentang masyarakat “Eldia” yang hidup di suatu pulau bernama Paradis yang mengurung diri di balik tembok kerajaan. Mereka hidup ketakutan akan “titan” (makhluk raksasa misterius) di luar tembok yang mengancam kehidupan manusia.

Namun, aksi perang melawan titan raksasa tersebut perlahan-lahan menguak masa lalu masyarakat Eldia yang selama ini ditutupi oleh keluarga kerajaan. https://www.youtube.com/embed/o_go-8TFBXs?wmode=transparent&start=0 Trailer resmi untuk musim terakhir Attack on Titan.

Sebagai seorang peneliti sejarah, pembungkaman masa lalu tersebut adalah tema penting dalam serial ini.

Serial ini menjadi pintu masuk yang bagus untuk memahami bagaimana sejarah yang dibungkam – suatu hal yang sering terjadi bahkan di dunia nyata – bisa menimbulkan ketakutan dan keinginan masyarakat untuk menguasai kelompok lain, serta harga yang harus dibayar ketika itu terjadi.

Hilangnya sejarah memicu kekerasan dan mengubur penderitaan

Dalam bukunya yang berpengaruh, Silencing the Past: Power and the Production of the Past (1995), seorang antropolog dari Haiti, Michel-Rolph Trouillot mengatakan bahwa produksi cerita dan pengetahuan sejarah tidak pernah lepas dari kesenjangan kuasa.

Istilah populer “sejarah ditulis oleh pemenang” memberi gambaran bagaimana penguasa bisa menuliskan ulang masa lalu untuk melanggengkan kekuasaan mereka.

Di sisi lain, produksi sumber sejarah seperti arsip dan penulisan narasi sejarah – baik oleh sejarawan maupun penguasa – juga bisa dipelintir melalui peredaman atas kebebasan berpendapat dan akademik untuk membicarakan sejarah.


Ketidakjelasan sejarah akan suatu peristiwa berkelindan dengan hasrat untuk menguasai kelompok lain dan menjebak masyarakat dalam lingkaran kekerasan yang tiada henti.

Selama hampir separuh awal cerita AoT, misalnya, penonton dibuat bertanya-tanya tentang misteri asal-usul kehadiran sosok titan yang mencekam.

Ketika tembok yang melindungi masyarakat Eldia di Paradis diruntuhkan titan pada awal cerita, ketakutan yang timbul akibat minimnya pengetahuan mereka tentang titan, mendorong masyarakat untuk mengerahkan kekuatan militer.

Sebaliknya, hal ini juga terjadi dengan penduduk negara Marley, sebuah negara di seberang pulau yang membenci masyarakat Eldia karena misteri asal usul mereka.

Sejarah yang bukan hanya tidak lengkap, namun juga dipelintir menjadi propaganda oleh pemerintah, menuntun masyarakat Marley menyerang warga Eldia.

Lingkar kekerasan kedua bangsa ini sama-sama ditimbulkan oleh memori sejarah yang dibungkam meski dengan cara yang berbeda – keturunan Eldia di Paradis akibat memori yang dihapus keluarga kerajaan, dan Marley akibat propaganda.

Lebih pentingnya lagi, lingkar kekerasan kedua masyarakat ini membuktikan bagaimana manipulasi sejarah menyembunyikan penderitaan yang terjadi di masa lalu.

Pada suatu titik dalam cerita AoT, kedua masyarakat tersebut akhirnya menguak asal usul titan yang sesungguhnya, yakni seorang nenek moyang bangsa Eldia yang bernama Ymir.

Bagi para keturunan Eldia pada masa lalu, Ymir menjadi pahlawan karena membuat bangsa Eldia sangat maju berkat kekuatanya sebagai titan yang pertama. Sedangkan menurut Marley, Ymir dan keturunannya adalah seseorang yang haus kuasa, ingin menguasai Marley dan seluruh dunia, serta harus dibasmi seutuhnya.

Selama cerita berlangsung, kedua narasi nasionalisme yang saling bertolak belakang ini membungkam fakta bahwa Ymir ternyata adalah seorang budak perempuan di bawah kekuasaan raja Eldia pertama, Karl Fritz.

Sekitar 2.000 tahun sebelumnya, Raja Fritz menyadari kekuatan titan dalam Ymir. Fritz kemudian mengeksploitasi kekuatan itu untuk mengerjakan tanah, membangun jembatan, mendirikan tembok, dan mengalahkan Marley di masa lalu.

Raja Fritz juga berujung memaksa Ymir mengandung dan melahirkan tiga orang anak, sebelum akhirnya memerintahkan ketiganya untuk membunuh dan memakannya. Untuk melanggengkan kekuasaannya, Fritz pun menutup sejarah tersebut sehingga cerita penindasan Ymir bergeser menjadi narasi tentang ekspansi wilayah kekuasaan menggunakan kekuatan titan.

Akibatnya, bangsa Eldia terjebak dalam lingkaran kekerasan yang diwariskan turun menurun.

Tugas kita kini bukan hanya mengingat sejarah

Konflik sejarah yang berujung kekerasan di AoT adalah gambaran bahwa sejarah sering digunakan untuk kepentingan moral dan politik.

Hal ini bukanlah sesuatu yang asing dalam sejarah dunia. Salah satu contohnya adalah apa yang terjadi di Jepang, negara di mana Isayama berasal.

Perdebatan narasi historis soal posisi ganda Jepang di Perang Dunia Kedua sebagai imperialis atau korban (terutama setelah pemboman Hiroshima dan Nagasaki) merupakan contoh konflik narasi sejarah yang memiliki dampak politik.

Nostalgia imperialisme mereka berdampak pada pengabaian sejarah kekerasan seksual terhadap perempuan

selama perang terjadi, termasuk usaha panjang mereka mencari keadilan.

Sekadar mengingat dan mengetahui sejarah tidak lagi cukup di tengah berbagai konflik narasi yang terjadi saat ini – Isayama menunjukkan dalam AoT bagaimana masa lalu bisa dipelintir menjadi alat untuk memelihara ketakutan dan melanggenggkan kekuasaan.

Oleh karena itu, penelitian dan penulisan sejarah tidak bisa lagi sekedar menemukan sumber baru atau mengisi kekosongan data, melainkan harus disertai interpretasi dan refleksi sejarah.

Misalnya, peneliti sejarah punya peran besar dalam menafsirkan ulang sumber sejarah untuk memberikan gambaran yang lebih baik dan akurat tentang kehidupan masa lalu di bawah penindasan.

Lewat upaya penggalian sejarah yang lebih inklusif dan reflektif seperti ini, kita bisa membayangkan dunia yang lebih adil dan tidak lupa akan dosa masa lalu.

Eunike G. Setiadarma, Mahasiswa Doktoral Sejarah, Northwestern University

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

loading...

Leave a Reply