| Jakarta, Pos Kota - Sampel
virus flu burung yang dikirim
Indonesia ke laboratorium
rujukan WHO (Namru) di
Hongkong diam-diam dijual ke
perusahaan pembuat vaksin di
negara
maju.
Harga
virus flu burung asal
Indonesia sekitar Rp90 triliun
per jenis virus. Sementara
Indonesia sudah mengirim 58
jenis sampel virus ke WHO.
Jika seluruh virus dijual,
maka uang yang dikeruk dari
penjualan virus milik
Indonesia sebesar Rp 5.220
triliun. Angka yang sangat
fantastis.
Prak
tik penjualan virus diungkap
Menkes, Siti Fadilah Supari,
kemarin. ''Saya baru tahu
setelah kita bolak-balik
mengirimkan sample virus ke
WHO,'' tutur Menkes disela
peluncuran buku ''Saatnya
Dunia Berubah. Tangan Tuhan di
Balik Virus Flu Burung'' yang
ditulisnya
sendiri.
Menkes
mengaku sejak tahu praktik
kotor tersebut, ia memutuskan
untuk tidak lagi mengirimkan
sampel virus flu burung ke
Namru. Ia mengaku keputusan
tersebut sedikit terlambat
karena Indonesia sudah
mengirimkan 58 jenis virus ke
WHO.
''Saya
sudah menanyakan ke WHO,
kemana 58 virus milik
Indonesia tersebut,'' lanjut
Menkes. Praktik virus sharing
(pertukaran virus) tersebut
sudah berlaku lebih dari 50
tahun. Ini menurut Menkes
sangat merugikan negara miskin
dan negara berkembang asal
virus.
Sementar
a perusahaan vaksin yang
dimiliki negara maju dengan
mudahnya mengambil virus tanpa
seizin pemilik dan
mengembangkannya menjadi
vaksin serta produk diagnostik
lainnya. Selanjutnya mereka
menjual ke negara miskin dan
berkembang dengan harga yang
sangat
mahal.
LEBIH
SETARA
Atas
dasar itulah, Menkes mengubah
sistem virus sharing yang
sangat merugikan negara
berkembang tersebut dengan
sistem yang lebih transparan,
adil dan setara. Ide tersebut
kemudian terus diperjuangkan
menjadi usulan Indonesia pada
sidang majelis kesehatan dunia
(WHA) di Jenewa
Swiss.
Kini
Indonesia tidak lagi wajib
mengirimkan sampel virus flu
burung. Pemeriksaan spesimen
flu burung cukup dilakukan 2
laboratorium di dalam negeri
yakni Laboratorium Badan
Litbangkes dan Laboratorium
Eijkman.
Meski
demikian, Indonesia tetap
membuka akses bagi para
peneliti dunia dengan
menempatkan data flu burung
pada gen bank (public domain).
''Demi kepentingan umat
manusia, pemerintah Indonesia
menyatakan bahwa data genom
pada virus flu burung bisa
diakses semua orang,'' tandas
Menkes.
(inung/nk/j)
|