| Surabaya, Indonews -- Rektor
Institut Teknologi 10 Nopember
(ITS) Surabaya, Prof Ir Priyo
Suprobo, MS, PhD mengemukakan
bahwa Fakultas Teknik
Perkapalan di lembaganya akan
menjadi satu-satunya fakultas
terkuat di
Indonesia.
''Ap
alagi saat ini ITS mempunyai
pusat desain kapal nasional.
Bersamaan dengan itu, saat ini
ada `booming` kebutuhan kapal
tanker di dunia,'' katanya
dalam sarasehan untuk
menyemarakkan dies natalis
ke-47 ITS di Surabaya,
Kamis.
Pada
sarasehan bertema, ''Bersama
ITS Menuju Indonesia Emas''
itu juga tampil sebagai
pembicara, pimpinan
''Emotional Spiritual Quotient
(ESQ) Leadership Center'', Ary
Ginanjar Agustian dan
budayawan Emha Ainun Nadjib
(Cak
Nun).
Menurut
Suprobo, saat ini hingga 2015
seluruh galangan kapal di
dunia sudah penuh order dan
tidak akan melayani pesanan
baru. Karena itu di Indonesia,
khususnya di Jatim akan
dibangun beberapa dok kapal
yang digerakkan oleh tim dari
ITS.
Dikatakann
ya, pembangunan kelautan lewat
pengembangan teknik perkapalan
menjadi salah satu bidang yang
ingin dipacu oleh ITS. Kedua
bidang lainnya adalah, energi
dan
permukiman.
''M
engenai energi ini kami
mendukung agar seluruh
nusantara ini dapat teraliri
listrik. Saat ini sedang
dibicarakan mengenai
kelistrikan antara ITS dengan
direksi dari PT PLN,''
katanya.
Untuk
permukiman sendiri, tim ITS
kini selalu terlibat dalam
mengatasi akibat bencana di
tanah air, khususnya untuk
pengadaan rumah baru bagi para
korban, seperti di Aceh dan
Nias akibat tsunami dan
gempa.
Pada
kesempatan itu, Suprobo juga
mengakui bahwa tidak mudah
untuk menjadikan perguruan
tinggi teknik itu sebagai
universitas berkerlas dunia
sebagaimana diharapkan oleh
Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono.
''Un
tuk mewujudkan harapan itu
sangat bergantung pada semua
pemangku kepentingan di ITS
ini. Saya teringat ketika
tahun 1959 pimpinan Singapura
Lee Kuan Yeuw mengajak
rakyatnya bangkit dan 20 tahun
kemudian pendapatan perkapita
rakyatnya naik 60 kali
lipat,''
katanya.
Demiki
an juga dengan Finlandia,
China dan Korea Selatan yang
semuanya bisa bangkit dengan
cepat. Kuncinya adalah,
negara-negara itu membersikan
porsi yang besar untuk
anggaran
pendidikannya.
''Anggaran pendidikan di
Indonesia sekarang baru
mendekati 12 persen dari total
anggaran belanja,'' katanya.
*** B007/ant
|