| Surabaya, Kominfo-Newsroom --
Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Provinsi Jawa Timur
mengeluarkan Taushiyah Nomor:
27/TAUS/MUI/JTM/VIII/2007
tentang Hemat Energi, yang
sebelumnya juga dikeluarkan
fatwa MUI tentang pengharaman
pencurian
listrik.
Taushi
yah tersebut dikeluarkan
karena akhir-akhir ini
penggunaan energi listrik,
baik yang digunakan
perorangan, instansi, umum
maupun perusahaan skala kecil,
menengah maupun besar sudah
tidak peduli himbauan hemat
dari
PLN.
Secara
nasional, komposisi penggunaan
energi bahan bakar minyak
(BBM) pada 2006 masih 22
persen dan telah menghabiskan
sebesar 70 persen dari biaya
operasi pembangkitan.
Sehingga, untuk menekan biaya
itu, dibangun pembangkit
listrik non
BBM.
''Diperkir
akan 2009, kapasitas
pembangkit yang memakai BBM
tinggal 3 persen,'' kata Ketua
Umum Dewan Pimpinan MUI Jatim,
KH Abdusshomad Buchori ditemui
saat acara Rapat Koordinasi
Antar Daerah (Rakorda) MUI
Wilayah III Tahun 2007 (Jatim,
Bali, NTB dan NTT) di
Sidoarjo, Selasa
(21/8).
MUI
Jatim menyerukan dan mengajak
segenap umat Islam khususnya
masyarakat Jatim untuk
bersama-sama menghemat
pemakaian listrik, sebagaimana
himbauan PLN Jatim sesuai
dengan Instruksi Presiden RI
Nomor 10 Tahun 2005 tentang
Hemat
Energi.
Ini
karena penghematan pemakaian
listrik sesuai dengan tuntutan
Islam dan membantu pemerintah
yang belum pulih dari krisis
di segala bidang. ''Pemakaian
listrik secara berlebihan
merupakan pemborosan.
Pemborosan merupakan tindakan
dzalim yang harus dihindari
demi masa depan bangsa,''
imbaunya.
Juru
Bicara PT PLN Distribusi
Jatim, Ir Faisal Ashyari MT
menambahkan, gerakan hemat
listrik dilakukan khususnya
pada jam-jam beban puncak,
yakni mematikan minimal dua
titik lampu (100 watt) pada
pukul 17.00-22.00
malam.
Sebagai
ilustrasi, pelanggan PLN Jatim
saat ini berjumlah 6,635 juta,
jika dapat menghemat pada
beban pucak selama 5 jam
(pukul 17.00-22.00) maka
menghemat Rp2.040.418.000 per
hari atau Rp744,752 miliar per
tahun.
''Biaya
operasional untuk penggunaan
BBM bagi pembangkitan
Jawa-Bali saat ini sebesar
Rp62 triliun. Diharapkan
dengan beroperasinya PLTU
Cilacap dan Tanjung
Jati-Jepara pada tahun ini
bisa dihemat sehingga menjadi
Rp50 triliun. Dulunya banyak
pembangkitan yang memakai
energi solar harganya Rp6.000
per liter diubah menjadi
minyak bakar Rp3.500 per
liter. Maka, bisa menghemat Rp
2.500 per liter,'' tuturnya.
(www.d-infokom-jatim.go.id/hsn
/toeb)
|