| Jakarta, Kominfo-Newsroom -–
Departemen Kehutanan
mengusulkan pembangunan embung
sebagai upaya konservasi air
di daerah-daerah kering
terutama di wilayah Indonesia
bagian
timur.
Usulan
tersebut disampaikan Dephut
sebagai delegasi Indonesia
dalam pertemuan Commitee for
The Review of The
Implementation of The
Convention (CRIC) ke-5 yang
baru berakhir beberapa waktu
lalu di
Argentina.
''Pe
mbangunan embung sebagai
konservasi air dengan
menampung air dalam cekdam
kecil, diusulkan agar dapat
memperoleh input dana dari
dunia Internasional,'' kata
Kepala Bidang Analisis dan
Penyajian Informasi Dephut,
Ir. Mashyud, MM, saat ditemui,
di kantornya, di Jakarta,
Kamis
(22/3).
Keberha
silan pembangunan embung,
telah terbukti di beberapa
daerah di Provinsi Nusa
Tenggara Timur (NTT) sehingga
pada saat musim kemarau yang
lalu tidak mengalami
kekurangan air karena air
banyak tersimpan dalam embung
yang dapat bertahan dalam
waktu
lama.
Berhasiln
ya sistem embung ini karena
terjadi peresapan air secara
perlahan sehingga iklim mikro
di sekitar daerah embung juga
menjadi lebih basah, ''Namun
yang lebih penting, air yang
tertampung bisa dimanfaatkan
untuk pertanian,'' ujar
Mashyud.
Selain
usulan pembangunan embung,
pada pertemuan CRIC tersebut
Dephut juga menjelaskan
mengenai investasi pada
Gerakan Rehabilitasi Hutan dan
Lahan (Gerhan) yang selama ini
telah dilakukan Indonesia guna
memulihkan lahan-lahan yang
kristis.
Pada
tahun 2007 Dephut bersama
Gerhan berencana
merehabilitasi sekitar satu
juta hektare lahan kritis
dengan anggaran sebesar Rp5
triliun, namun karena laju
degradasi lahan lebih cepat
dari laju rehabilitasinya maka
sangat diperlukan dana
tambahan dari dunia
internasional.
Penjelasan terhadap upaya
penanaman lahan-lahan kritis
ini sangat penting untuk
diketahui dunia internasional
karena selama ini Indonesia
banyak disorot sebagai
penyumbang emisi gas rumah
kaca yang cukup
besar.
''Kedua
usulan tersebut menarik
perhatian negara peserta
lainnya, dan mereka mengagumi
dan memberikan apresiasi
terhadap keseriusan pemerintah
Indonesia mengatasi degradasi
hutan dan lahan,'' kata
Mashyud.
Pertem
uan CRIC merupakan pertemuan
internasional tahunan dan
diskusi antar anggota forum
dalam membantu berbagai pihak
menemukan sekaligus
mengimplementasi
program-program United Nation
Convention to Combat
Desertivication (UNCCD)
sebagai lembaga PBB di bidang
Kehutanan.
Pert
emuan tersebut diikuti 129
negara yang telah
menandatangani Konvensi UNCCD,
dan pada setiap pertemuan
Indonesia selalu menyuarakan
tentang pentingnya upaya
penyelamatan hutan, tanah, dan
air oleh seluruh dunia karena
kerusakan hutan satu negara
akan berdampak pada perubahan
iklim di negara lain.
(T.Tr/toeb/b)
|