| Jakarta, Kominfo Newsroom -
Gubernur DKI Jakarta Fauzi
Bowo dan Dubes Australia untuk
Indonesia, Bill Farmer
menandatangani nota
kesepahaman (MoU) program
bantuan kerjasama HIV
Cooperation program for
Indonesia di wilayah DKI
Jakarta untuk periode
2009-2012 sebagai upaya
penanggulangan HIV/AIDS di DKI
Jakarta.
Menuru
t Fauzi Bowo yang juga Ketua
Komisi Penanggulangan AIDS DKI
Jakarta, penandatanganan MoU
ini sebagai upaya pembelajaran
dalam menangani HIV/AIDS, juga
mencari modus penanggulangan
yang paling tepat, bukan hanya
nasional, tetapi juga untuk
masing-masing daerah yang
memiliki karakter
tersendiri.
''S
aya yakin hal ini dapat
bermanfaat karena akan
melibatkan para penderita
secara aktif di 31 puskesmas
kecamatan di mana telah
tersedia terapi, khususnya
untuk mereka yang terkena
HIV/AIDS akibat penggunaan
narkoba suntik,'' katanya di
Balaikota Jakarta, Kamis
(12/2).
Menurut
nya, infeksi penularan HIV
tertinggi terjadi pada
pengguna jarum suntik. Hingga
Oktober 2008, di Indonesia
terdata sebanyak 23.000 orang
menggunakan narkoba suntik,
sementara Departemen Kesehatan
menyebutkan, di Jakarta
sebanyak 47.000 orang lebih
telah terinfeksi HIV dan 70
persen di antaranya adalah
pengguna jarum
suntik.
Dalam
kesempatan tersebut, Dubes
Australia untuk Indonesia,
Bill Farmer mengatakan,
kesepakatan ini memungkinkan
layanan pencegahan HIV dan
perwawatannya melalui 30
puskesmas di Jakarta, termasuk
dua program terapi metadhone
baru.
Perluasan
bantuan ini juga akan mencakup
wilayah di luar DKI Jakarta.
Dalam waktu dekat, katanya,
akan dilakukan di Banten, Jawa
Tengah, Yogyakarta dan Jawa
Timur. Penyediaan layanan bagi
penderita HIV/AIDS dilakukan
pada 100 puskesmas yang ada di
Pulau Jawa dan
Bali.
''Austral
ia bangga dapat membantu
Indonesia menjalankan
komitmennya untuk memerangi
penyebaran HIV dan mendukung
mereka yang hidup dengan
HIV/AIDS. Australia telah
memberikan bantuan hingga 100
juta dolar Asutralia kepada
kemitraan
Australia-Indonesia,''
katanya.
Berbag
ai kegiatan yang didanai dan
diimplementasikan melalui
kemitraan ini, di antaranya,
program jarum suntik,
metadhone, pendidikan sebaya
dan sosialisasi konseling dan
tes, promosi kesehatan
reproduksi dan perawatan HIV,
termasuk terapi
ARV/antiretroviral.
p> Di tempat sama,
Sekretaris Komisi
Penanggulangan AIDS Nasional
(KPAN), Nafsiah Mboi,
mengungkapkan, DKI Jakarta
merupakan satu-satunya
provinsi, di mana 70 persen
biaya penanganan HIV/AIDS
didanai oleh Pemda dan sisanya
dari bantuan luar
negeri.
Namun
menurutnya, kurangnya sarana
untuk pengobatan
ketergantungan (adiksi)
narkoba menyebabkan kasus
HIV/AIDS terus meningkat.
Untuk itu ia berharap agar di
waktu mendatang dapat
diperbanyak sehingga para
pengguna narkoba yang
mengalami ketergantungan bisa
mendapat pengobatan.
(T.Jul/ysoel)
|