| Jakarta, Kominfo Newsroom -
Sedikitnya 50.000 orang
Indonesia melakukan bunuh diri
selama tiga tahun terakhir
(2005-2007), kemiskinan dan
himpitan ekonomi, menyebabkan
orang menderita gangguan
kesehatan jiwa dan banyak yang
memilih untuk mengakhiri
hidup.
Menurut
Sekjen Depkes Syafi’I Ahmad,
kedua faktor itu menjadi
penyebab tingginya jumlah
orang yang mengkahiri hidup
akibat menderita gangguan
jiwa, yang sangat rentan
terhadap stress, kecemasan,
ketergantungan obat, perilaku
seksual yang menyimpang serta
masalah psikososial
lainnya.
''Kesehatan jiwa saat
ini telah menjadi masalah
kesehatan global bagi setiap
negara termasuk di Indonesia,
dimana proses globalisasai dan
pesatnya kemajuan teknologi
informasi memberikan dampak
terhadap nilai-nilai sosial
dan budaya di masayarakat,''
katanya, di Jakarta, Kamis
(16/10).
Sementara, tidak semua
orang mempunyai kemampuan yang
sama untuk menyesuaikan diri
dengan berbagai perubahan
tersebut.
Dia menambahkan,
masalah kesehatan jiwa sangat
mempengaruhi produktifitas dan
kualitas kesehatan perorangan
maupun masyarakat, yang tidak
mungkin ditanggulangi oleh
sektor kesehatan saja.
''Gangguan
kesehatan jiwa walaupun tidak
langsung menyebabkan kematian,
namun akan menimbulkan
penderitaan yang mendalam bagi
individu dan beban berat bagi
keluarga, baik mental maupun
materi karena penderita tidak
lagi produktif,''
ujarnya.
Ia menyebutkan, hasil
survei kesehatan mental rumah
tangga (SKRMT) menunjukkan
gejala gangguan kesehatan jiwa
pada penduduk rumah tangga di
Indonesia yaitu 185 kasus per
1.000 penduduk.
Hasil SKMRT juga
menyebutkan, gangguan mental
emosional pada usia 15 tahun
ke atas mencapai 140 kasus per
1.000 penduduk, sementara pada
rentang usia 5-14 tahun
ditemukan 104 kasus per 1.000
penduduk.
Kejadian-kejadian
tersebut menurutnya,
dilatarbelakangi oleh
aspek-aspek kejiwaan seperti
agresifitas, emosi yang tidak
terkendali, ketidakmatangan
kepribadian, depresi karena
tekanan hidup, tingkat
kecurigaan yang meningkat juga
persaingan yang tidak sehat.
(T. Jul/id/c) |