728x90 AdSpace

Latest News
Senin, 09 Februari 2015

Senjakala Bulan Madu Jokowi-Netizen

Di balik rutinitas netizen yang sepele, seperti kirim tweet dan unggah foto, lembaga-lembaga pemantau pergerakan suhu politik di media sosial serius mengerahkan kekuatan mesin-mesin analisis untuk membaca percakapan. Salah satu yang menarik dipantau adalah terkait Presiden Joko Widodo.

Dari kantor di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, analis media sosial Awesometrics, Yustina Tantri, terus memelototi pergerakan kurva yang merekam percakapan terkait Joko Widodo. Dari komputer jinjing, menggunakan pustaka Awesometrics, Tantri tertegun melihat pergerakan grafik percakapan yang dihimpun dari ratusan media massa dan media sosial.

Dari pekan ke pekan, bulan ke bulan, sesuatu yang besar sedang terjadi. Tantri memulai analisis sejak tiga hari sebelum Jokowi dilantik sebagai Presiden hingga kini. Jokowi adalah Presiden yang dilahirkan netizen dan dikenal percaya pada kekuatan media sosial sejak dia memenangkan pemilihan Gubernur DKI Jakarta.

Apa yang dikhawatirkan Yustina terkait terus meningkatnya sentimen negatif atas Jokowi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Jokowi, sentimen negatif melebihi sentimen positifnya. Sentimen negatif mulai mendominasi sejak memasuki bulan ketiga kepemimpinan Jokowi.
Lebih tepat lagi, kenaikan sentimen negatif dimulai 8 Januari 2015 dengan 2.784 percakapan, 10 Januari berlipat menjadi 4.868 percakapan, naik lagi pada 13 Januari sebanyak 6.911 percakapan, dan tertinggi 15 Januari sebanyak 9.967 percakapan.

“Sentimen negatif meningkat tajam pada 15 Januari karena Jokowi akan melantik Budi Gunawan sebagai Kapolri, padahal jelas-jelas sudah ditetapkan KPK sebagai tersangka 13 Januari,” kata Yustina. Netizen cemas, sebagian masih menahan diri yang membuat laju sentimen negatif tertahan sementara.

Total selama 100 hari, sentimen negatif untuk Jokowi mencapai 74.346 percakapan, sentimen positif 71.048 percakapan, dan 627.652 posisi netral. Padahal, pada awalnya, di bulan pertama 17 Oktober – 18 November 2014, sentimen negatif hanya 66.526 berbanding 155.212 sentimen positif, dengan sentimen netral 2 juta.

Pendiri Provetic, Iwan Setyawan, juga menemukan analisis serupa. Pemilik akun Twitter @Iwan9S10A ini sependapat bahwa untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir, di tanggal 15 Januari, sentimen negatif Jokowi lebih tinggi dari positifnya.

Sebelum memasuki 15 Januari, rata-rata dalam tiga bulan terakhir, sentimen positif selalu lebih tinggi dari sentimen negatif, berkisar 25 persen berbanding 17% persen.

Topik pembicaraan yang paling mendominasi selama Januari 2015, yang menyumbangkan sentimen negatif besar, adalah terkait Kapolri (22.497), disusul topik BBM (8.088). “Perbincangan Jokowi juga dikaitkan dengan KPK (14.756) dan Megawati (6,782),” kata Iwan.

Yustina Tantri mengatakan, sentimen negatif Jokowi terus terkikis terlebih memasuki bulan ketiga. Sempat menyurut setelah Jokowi menunda pengangkatan Budi Gunawan sebagai Kapolri. Namun, drama belum berakhir karena Jumat, 23 Januari, Bareskrim Polri menangkap Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto.

Tiada ampun, manuver Bareskrim yang tak diketahui Pelaksana Tugas (Plt) Kapolri Komjen Badrodin Haiti langsung menyumbang sentimen negatif Jokowi. Energi positif dengan cepat berpindah untuk KPK.

Penurunan sistematis
Reputasi dan popularitas Jokowi di mata netizen dari bulan ke bulan konsisten dan bahkan terlihat sistematis turun dan hal ini sebenarnya membahayakan Jokowi. Selama ini sentimen positif atau dukungan penuh kepada Jokowi banyak disumbangkan dari relawan dan pendukung di media sosial.

Yustina Tantri mencatat, selama tiga bulan pemerintahan, percakapan total tentang Jokowi mencapai 4,1 juta dari berbagai kanal media. Puncak percakapan 20 Oktober 2014, saat pelantikannya Presiden, yang menunjukan harapan baru.

Jika dibagi dalam tiga bulan, di bulan pertama jumlah percakapan Jokowi tertinggi, mencapai 2,3 juta di berbagai kanal. Penghargaan netizen terhadap Jokowi dengan sentimen positif sebenarnya mudah ditebak dan Jokowi menyadari potensi ini.

Misalnya, kata Yustina, tiga hari jelang dilantik, Jokowi mengunjungi Prabowo pada 17 Oktober 2014 saat ulang tahun Prabowo. “Ini mengundang simpati, termasuk dari pendukung Prabowo dan berdampak positif buat Jokowi. Favorabilitas (sentimen positif lebih tinggi dari negatif) terhadap Jokowi saat itu meningkat di media sosial,” kata Yustina.

Namun, teramat aneh jika kini Jokowi membiarkan manuver-manuver kotor yang dilakukan bawahannya, atau menempatkan orang-orang yang tak beres dalam lingkarannya. Jokowi yang paham dan percaya kekuatan media sosial pasti tahu akan risiko kehilangan dukungan di media sosial.

Jokowi pasti membaca analisis media sosial yang disodorkan kepadanya tiap pekan bahkan mungkin tiap hari di kala situasi kritis. Jokowi yang mendapat input dari relawan media sosial secara langsung, pasti menyadari bahwa kasus-kasus seperti Budi Gunawan ini telah menggerogoti reputasinya.

Simak saja pergerakan turunnya reputasi Jokowi yang terjadi secara gradual, artinya tidak terjadi secara tiba-tiba dan pasti dirasakan Jokowi. Antusiasme masih meningkat saat pelantikan menteri, 27 Oktober 2014. Namun, sentimen negatif tumbuh ketika dia tetap melantik nama-nama yang mendapat rapor merah KPK.

Saat Jokowi mengumumkan kenaikan harga BBM, 17 November 2014, sentimen negatif menguat. Tagar bersentimen negatif mulai menjadi topik tren Twitter seperti #SalamGigitJari. “Tapi, sentimen masih netral (51%), positifnya pun masih lebih tinggi yakni 26% dibanding negatifnya 22%,” kata Yustina.

Di bulan kedua, periode 17 November hingga 17 Desember 2014, popularitas Jokowi turun hingga 50 persen dibanding bulan pertama. Pecakapan tentang Jokowi hanya 1,1 juta di berbagai kanal. Awesometrics mencatat, pada 21 November 2014, Jokowi mengangkat M Prasetyo, anggota DPR dari Partai NasDem, sebagai Jaksa Agung.

Sudah tentu langkah itu memperburuk reputasi Jokowi. Aktivis Indonesia Corruption Watch, Emerson Yuntho, dalam kicauannya di Twitter menilai, pemilihan Prasetyo merupakan titipan partai, sehingga kejaksaan rawan diintervensi.

Itulah awal mengkristalnya kekesalan netizen terhadap Jokowi. Tinggal menunggu momentum buruk, Jokowi bisa kehilangan kepercayaan di bulan berikutnya. Tepatnya bulan ketiga 17 Desember 2014 - 17 Januari 2015, popularitas Jokowi merosot tajam dengan jumlah percakapan hanya 773.046 dari berbagai kanal.

Kebijakan Jokowi yang memilih Budi Gunawan sebagai Kapolri dianggap netizen sebagai pilihan sadar mengubur reputasi dan sentimen positif atas dirinya. Netizen marah kepada Jokowi yang dilampiaskan dengan gerakan #SaveKPK dan juga petisi daring di www.change.org/bebaskanbw.

Relawan telah terbelah. Loyalis tetap mendukung Jokowi, namun relawan kritis kini berjuang untuk melepaskan Jokowi dari belenggu partai. Netizen mengendus fenomena itu sebagai penanda menguatnya oligarki partai, seperti disampaikan aktivis media sosial Ulin Yusron dalam akunnya @ulinyusron.

“PDI-P, NasDem sudah mengganti tradisi literasi menjadi kursi. Dalam kasus calon Kapolri, Megawati, Surya Paloh, PDI-P, NasDem memaksakan Budi Gunawan kepada Jokowi, meskipun harus sampai melemahkan KPK,” kata Ulin.

“Dulu Jokowi adalah kita. Sekarang jika Jokowi tetap melantik tersangka korupsi sebagai Kapolri, maka Jokowi adalah mereka,” kata Denny JA dengan akun @dennyJA_World.

"Ini komitmen kita untuk menarik dukungan setelah pilpres dan membentuk parlemen jalanan," kata Marzuki Mohamad pemilik akun @killthedj yang dikutip akun @jejakpelamun. Ulin Yusron, Denny JA, Marzuki “Kill the DJ” adalah beberapa contoh para pendukung Jokowi yang kini mengkritik keras Jokowi.

Abdee Negara, relawan konser “Salam 2 Jari”, bersama rekan-rekannya telah memprotes Jokowi terhadap pengangkatan Budi Gunawan. Abdee juga mengirimkan tagar #SaveKPK dari akun @AbdeeNegara. Namun, karena kondisinya yang masih sakit, gerakan memprotes kondisi yang ada belum tampak signifikan dari seorang Abdee “Slank” ini.

Rekan Abdee, Melanie Subono, dengan akun @melaniesubono, lebih dulu meluapkan kemarahannya. “Menanti seorang presiden bertindak sebagai presiden. Penangkapan ini adalah upaya mendelegitimasi kewenangan KPK dalam mengusut kasus Budi Gunawan,” kata Melanie.

Situasi saat ini jauh lebih rumit bagi Jokowi, namun jauh lebih mudah mengidentifikasi siapa lawan siapa kawan bagi para netizeb. Pada awal Oktober 2012, KPK dan Polri sempat berseteru, kala itu para pegiat antikorupsi juga melancarkan gerakan #SaveKPK.

Di tahun 2012, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tak terlibat dalam konflik kepentingan antara KPK vs Polri. SBY waktu itu memilih diam di awal konflik. Namun, posisi Jokowi saat ini justru menjadi bagian dari konflik yang kini terjadi. Bahkan, netizen menganggap Jokowi adalah awal mula terjadinya konflik ini.

Setelah ditunggu-tunggu, waktu itu 8 Oktober 2012, SBY akhirnya tegas memerintahkan Polri menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus hukum dugaan korupsi simulator mengemudi di Korps Lalu Lintas Polri kepada KPK. Keputusan itu sekaligus memutus polemik dualisme penanganan kasus oleh KPK dan kepolisian. (Kompas, 9 Oktober 2012)

Kini, situasi jauh berbeda karena hingga 24 Januari 2015, netizen sudah mempersepsikan Jokowi bukanlah “kita lagi”. Jokowi adalah bagian dari lingkaran partitokrasi, yaitu ketika partai begitu kuat berkuasa dan menghegemoni dirinya. Perlu keberanian lebih dari Jokowi untuk saat ini bisa memilih antara “mereka” atau “kita”. Karena itu, perjuangan #SaveKPK adalah titik awal dari #SaveIndonesia. (Amir Sodikin)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

1 comments:

  1. BISNIS PALING BERANI ABAD INI KOMISI 100% LANGSUNG MASUK REK ANDA

    KOMISI/PROFIT 100% LANGSUNG DI TRANSFER OLEH MEMBER ANDA KEREKENING ANDA,SETIAP SPONSORI 1 ORANG DI BAYAR RP 200.000,-tanpa Parkir di Admin 100% AMAN karena Admin tidak menapung dana anda. Jadi asumsi pendapatan anda jika:
    1 orang 200.000
    10 orang 2.000.000
    20 orang 4.000.000
    30 orang 6.000.000
    40 orang 8.000.000
    50 orang 10.000.000
    potensi gaji 6.000.000 perbulan jika terjadi transaksi 1 orang perhari,jika lebih silahkan hitung sendiri untuk selengkapnya silahkan ORDER di http://bisnispromember.com/?id=UANGBISNIS
    atau di http://bisnisbankinternet.com/?id=atmku

    BalasHapus

Item Reviewed: Senjakala Bulan Madu Jokowi-Netizen Rating: 5 Reviewed By: Endonesia.COM