728x90 AdSpace

Latest News
Senin, 09 Februari 2015

Menanti Jokowi yang Sudah Merapal Mantra

Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti…

Itulah status Presiden Joko Widodo di akun Facebook pada Minggu (25/1) pukul 16.04 di tengah-tengah santernya konflik KPK vs Polri. Hingga kini, status itu masih yang terkini di akun Facebook Jokowi dan disukai sebanyak 71.488 kali.

Bagi orang Jawa, kalimat tersebut bukan sembarangan dipilih. Ibaratnya, Jokowi telah bersimpuh sambil memusatkan perhatiannya pada sebuah peristiwa besar, kemudian dengan segala kekuatannya daya pikirnya ia merapalkan kata-kata seperti layaknya sebuah mantra sakti: Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti…

Segala kekuatan jahat, akan hancur oleh kebaikan atau kelembuatan hati. Itulah kira-kira tujuan dari ‘matek aji’ yang telah dilakukan Joko Widodo. Benarkah Jokowi telah menata hati untuk menyiapkan ajian pamungkas untuk menghancurkan orang-orang jahat yang telah mengelilinginya?

Dari pantauah di Media Sosial, tampaknya gambaran itu belum tampak. Pidata Minggu malam belum mampu meredakan konflik KPK vs Polari. Sentimen terhadap Jokowi masih bernuansa negatif karena ketegasan yang diharapkan netizen belum keluar dari Jokowi. Pidato-pidato Jokowi masih belum memenuhi harapan netizen.

Analis media sosial Awesometrics, Yustina Tantri, mencatat hingga Senin, 26 Januari 2015, kampanye dengan tagar #SaveKPK masih digaungkan. Bahkan, tak ada pertanda akan mereda. “Ada lebih dari 415.000 mention soal #SaveKPK, 99 persen dari Twitter,” kata Yustina.

Frave KPK vs Polri di Twitter masih mampu memuncaki topik paling tren di dunia. Sejak Budi Gunawan ditunjuk menjadi calon Kapolri, lalu ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, media sosial mulai mengamati perkembangan isu. “Sekaligus ikut menjaga KPK sebagai lembaga pemberantas korupsi, dan juga ikut mengawasi Polri,” kata Yustina.

Netizen hingga kini masih terus mengendus kriminalisasi terhadap pimpinan KPK setelah penangkapan Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto. Kekhawatiran itu makin realistis setelah Abraham Samad akhirnya juga dilaporkan ke kepolisian. Menyusul kemudian pimpinan KPK lainnya yaitu Adnan Pandu Praja dan Zulkarnaen yang santer diberitakana di media sosial juga akan dilaporkan ke kepolisian,

Kampanye #SaveKPK kali ini tak hanya menyerukan tuntutan agar Jokowi bersikap tegas, namun netizen terus menerus membandingkannya dengan cara mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat mengelola konflik sejenis pada 2012. Status-status yang mengkritisi Jokowi masih terlihat positif dan santun ketika membandingkannya dengan Jokowi.

Di tahun 2012, netizen menarik perhatian SBY dengan mengoperasikan tagar #PresidenKeMana yang dalam beberapa hari telah dikumandangkan 3.654 kali. Bersamaan dengan itu, tagar #saveKPK yang lebih dulu ada terpancar telah dikumandangkan lebih dari 27.000 kali.

Suasana sempat memanas dan sempat muncul tagar #savePolri yang bertujuan untuk meredakan suasana, tetapi waktu itu hanya dikumandangkan 605 kali. Diamnya Presiden SBY waktu itu menambah katalisator memanasnya situasi di jejaring sosial, hingga akhirnya SBY berpidato.

Namun, bedanya dengan Jokowi, pidato SBY langsung mampu meredakan amarah netizen. Isi pidato SBY langsung bersifat operasional dan politis, yaitu diserahkannya penanganan perkara dugaan korupsi simulator berkendara di Korlantas Polri kepada KPK. Keputusan SBY ini memang sesuai dengan harapan netizen sehingga situasi waktu itu langsung mereda.

Di bulan Oktober 2012 waktu itu, beberapa kali Polri salah langkah hingga membuat sentimen negatif terhdap polri terus merosot dibanding KPK. Misalnya, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Bengkulu Komisaris Besar Dedi Irianto yang datang ke KPK membawa surat perintah penangkapan dan pengeledahan penyidik KPK Novel Baswedan.

Novel adalah penyidik KPK yang menangani kasus dugaan korupsi proyek simulator berkendara di Korlantas Polri. Novel dituduh pernah terlibat penganiayaan tahanan di Bengkulu, delapan tahun sebelumnya.

Sama dengan perisitiwa 2012, para pimpinan KPK juga disangkakan dengan berbagai peristiwa bertahun-tahun sebelumnya. Misalnya, Bambang Widjojanto dikaitkan dengan peristiwa Pilkada Kota Waringin Barat pada 2010, Adnan Pandu Praja dikaitkan dengan peristiwa 2006, dan Zulkarnaen dikaitkan dengan peristiwa 2008. Hanya Abraham Samad yang dilaporkan terkait peristiwa yang masih aktual, yaitu dugaan sepak terjang politik Abraham Samad di 2014.

Hanya saja, kali ini serangan terhadap KPK semakin masif dan saat bersamaan pidato-pidato Presiden Jokowi tak mampu meredakan konflik ini. Hingga kini, netizen terus melancarkan gerakan kampanye untuk menyelamatkan KPK dari kriminalisasi.
Kampanye #SaveKPK masih terus berkumandang 460 kali tiap jamnya, berdasarkan mesin analisis Topsy. Untuk masalah ini, rapalan ajian pamungkas saja tak cukup. Jokowi harus belajar kepada SBY untuk memberikan solusi nyata, bukan janji . (Amir Sodikin)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Poskan Komentar

Item Reviewed: Menanti Jokowi yang Sudah Merapal Mantra Rating: 5 Reviewed By: Endonesia.COM