728x90 AdSpace

Latest News
Kamis, 15 Januari 2015

Kisah Para Pengantar Perubahan

Tidak harus menjadi manusia hebat terlebih dulu untuk menjadi salah satu pengantar perubahan, terutama dalam demokrasi digital. Hampir semua yang terlibat dalam demokrasi digital awalnya adalah mereka yang tadinya apatis dan ragu. Ternyata, keraguan adalah jangkar dari keyakinan.

Mei 1998, Elisa Sutanudjaja salah satu sosok mahasiswi Universitas Tarumanegara yang apatis dan tak peduli situasi. Ia sebal dengan mahasiswa yang sering berdemo. Baginya, hanya tugas kuliah yang ia pikirkan saat itu.

Pada puncak demonstrai 12 Mei 1998, Elisa dan dua orang temannya justru menghindari demonstrasi untuk menuju tempat riset tangga. Dari kubu demonstran, mahasiswa Universitas Trisakti sedang turun menggelar demo besar, dengan koordinator lapangan saat itu John Muhammad.

John waktu itu Ketua Himpunan Mahasiswa Arsitektur Universitas Trisakti yang ditunjuk sebagai korlap demo 12 Mei 1998. Tanggal 12 Mei adalah aksi pertama dari Trisakti yang besar.

Sebelumnya, John bersama rekan-rekannya hampir gagal menggerakkan kampus untuk peduli politik. “Gue inget banget, upaya mempolitisasi kampus gagal. Kami justru dipermalukan dengan coretan tak layak di spanduk, misalnya turunkan harga velg mobil,” kata John.

Trisakti terlambat merespons krisis 1998. Menghadapi orang-orang apatis dari kelas menengah, membuat John frustasi. “Akhirnya, kami buat strategi baru, kami turunkan model-model seperti Alya Rohali dan Wanda Hamidah. Merekalah yang mengumpulkan massa,” kata John.

Kerumuman yang agak jauh menjadi mendekat. “Ini pasarnya orang-orang apolitis. Kami ingin sampaikan pesan, ini cewek-cewek manis saja ikut demo, masak loe kagak,” kata John mengenang.

Namun, pengalaman membanggakan itu ternyata membawa tragedi paling menyedihkan hingga kini, yaitu tewasnya para demonstran Trisakti karena ditembak. Jakarta pun mencekam.

Elisa yang pulang ke kos setelah riset tangga terkejut mendengar berita itu. Ia tertegun, tak menyangka di hari yang dia anggap biasa saja itu ternyata telah terjadi sesuatu yang besar. Keesokan harinya, 13 Mei 1998, Kompas menampilkan foto di halaman 1 yang makin mengguncang nuraninya.

Foto itu menggambarkan seorang gadis yang terbaring di tengah jalan dengan latar belakang situasi yang menyeramkan. Elisa sempat sadar sesuatu harus dilakukan, namun ia tetap nekad menyelesaikan tugas ‘Studi Tangga’.

Di Trisakti, hari itu rekan-rekan John menggelar demo lagi. Elisa dalam perjalanan pulang dari riset tangga, melihat berbondong-bondong mahasiswa menuju Trisakti, memperingati tragedi sehari sebelumnya. Ia tergerak, kemudian mengambil jaket almamaternya untuk bergabung.

“Saya termasuk yang kena gas air mata di Trisakti, merasakan ketakutan luar biasa saat helikopter militer terbang rendah mengintimidasi, melihat dan mendengar tembakan dari depan pos satpam Tarumanagara,” kata Elisa. Elisa jalan kaki sendirian saat maghrib di tengah kebakaran untuk pulang ke kos.

Beberapa hari kemudian, ia mendengar Gedung DPR/MPR berhasil diduduki mahasiswa. Elisa kembali bergabung dengan demonstran. Sesuatu yang sebelumnya tak pernah terpikirkan dan bahkan ia dilarang teman-temannya.

Elisa kali ini ingin mengambil bagian dalam perlawanan. Ia bersama rekannya yang sama-sama bermata sipit dan berkulit putih, naik bus menuju Gedung DPR/MPR. “Kami hanya berdua yang bermata sipit naik bus, bergabung dan masuk ke dalam gedung DPR/MPR,” kata Elisa.

Sejak itu Elisa menjadi lebih aktif, setidaknya di kampus. Bahkan ia kemudian bersedia menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Sketsa, satu-satunya majalah arsitektur mandiri bikinan mahasiswa. “Di situ lah saya belajar betapa pena itu penting sebagai pengantar perubahan,” katanya.

Waktu telah berganti. John akhirnya lebih intensif di isu advoksai hak asasi manusia dan demokrasi. Ia kini menjadi Deputi Direktur Public Virtue Institute, sebuah lembaga di balik Change.org Indonesia. Sementara Elisa aktif di isu-isu perkotaan yang kini Direktur Program Rujak Center for Urban Studies.

Di tahun 2014, Elisa aktif menjadi relawan di kawal pemilu dan juga inisiator yang mengumpulkan formulir rekapitulasi suara pemilu (C1) yang janggal. “Kini yang saya upayakan adalah promosi open data dan open government sebagai upaya peningkatan kualitas keterbukaan informasi dan transparansi,” kata Elisa.

John dan Elisa adalah sosok ‘digital imigran’ yang kini menekuni aktivisme digital. Mereka tak lagi menggunakan jalanan dan toa sebagai pelantang tuntutan, namun sudah menggunakan medium yang sama sekali baru: dunia digital.

Berbeda dengan mereka, salah satu pendiri Change.org Indonesia, Arief Azis, dan juga Koordinator Regional Safenet Voice Damar Juniarto, merupakan sosok yang mengenal dunia digital sejak awal atau biasa disebut digital native.

Walaupun termasuk digital native, Arief yang pertama kali mendengar soal Change.org, sempat ragu ketika aktivisme digital dibawa ke dunia politik. “Sempat ragu, memangnya petisi ngaruh? Setelah saya dengar kisah-kisah sukses di luar Indonesia, saya mulai percaya,” katanya.

Terlebih setelah melewati tahun politik 2014, Arief makin yakin berbagai aktivisme dunia digital bisa diandalkan untuk membuat perubahan. Ia mencontohkan, dari tahun lalu saja bisa dilihat berbagai keberhasilan petisi daring.

“Mulai gerakan daring untuk ajak Jokowi #BlusukanAsap, atau dorongan koalisi #SaveAru dari Glenn Fredly untuk menghentikan penambangan di Kepulauan Aru, dan masih banyak lagi,” kata Arief.

Arief aktif juga di komunitas TEDxJakarta. Tujuannya sederhana: mencari dan menyebarkan ide-ide dari Indonesia yang patut disebarkan, dengan kisah-kisah menggugah. Dalam dunia kampanye sosial, yang paling efektif adalah yang dapat mengangkat cerita yang menggugah.

Damar Juniarto adalah sosok yang sejak 1998 aktif menekuni internet terutama untuk penerbitan. Aktivis dari Keluarga Besar Universitas Indonesia ini sejak 1996 aktif dalam radikalisasi pers kampus.

Damar juga aktif dalam Lembaga Penerbitan, Pendidikan dan Pengembangan Pers Mahasiswa. “Kami mendampingi teman-teman berdemo, kami meliput dan menyiarkan. Saat itu medianya sudah menggunakan internet,” kata Damar.

Di tahun 1998, gerakan mahasiswa sepakat memanfaatkan internet lebih masif. “Sejak 1998, internet betul-betul kita rasakan bermanfaat untuk gerakan. Internet adalah sahabat terbaik kita untuk dorong demokrasi,” kata Damar.

Damar kini aktif di Safenet Voice dan sejumlah forum gerakan demokrasi digital yang kini aktif mengkampanyekan revisi UU Informasi dan Transaksi Elektronik. Menurut Damar, usia demokrasi digital ini masih bayi sehingga harus ada yang menjaga agar tak jeri berlari. Dengan demokrasi digital, kini siapa pun bisa menjadi pengantar perubahan, tak harus percaya terlebih dulu. (Amir Sodikin)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Posting Komentar

Item Reviewed: Kisah Para Pengantar Perubahan Rating: 5 Reviewed By: Endonesia.COM