728x90 AdSpace

Latest News
Rabu, 03 September 2014

Nazarudin Pojokkan Anas


Saksi Muhammad Nazaruddin, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, semakin memojokkan posisi terdakwa Anas Urbaningrum, mantan Ketua Umum Partai Demokrat yang dulu sempat menjadi koleganya. Nazaruddin menyebut Anas membangun kantong-kantong bisnis dari berbagai sektor untuk menghimpun dana dari berbagai sumber, mulai dari fee proyek hingga keuntungan proyek.


Dalam sidang perkara dugaan korupsi terkait proyek pembangunan kompleks olahraga Hambalang, Bogor, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (25/8), Nazaruddin yang menjadi saksi mengatakan, PT Anugerah yang disebut Nazar juga dimiliki bersama dengan Anas, bubar pada tahun 2009.

“Setelah itu Mas Anas buka beberapa kamar bisnis, yang pegang diantaranya Yulianis (mantan Wakil Direktur Keuangan Grup Permai) dan Rosa (Mindo Rosalina Manulang, mantan Direktur Keuangan Grup Permai),” kata Nazar.

Nazaruddin kemudian menyebut nama-nama lainnya yang dia katakan sebagai kantong bisnisnya Anas, diantaranya ada Fahmi, Willa dan Hilal Hamdi, Munadi Herlambang, Mahfud Suroso, Pasya, Lilur, dan Rahmat. “Semua ini kantong bisnis Mas Anas, saya sebagai bendahara semuanya,” kata Nazaruddin.

Hakim Haswandi balik bertanya, bukankah perusahaan Grup Permai dan Anugerah tersebut asli perusahaan Nazaruddin sendiri? “Itu kan atas perintah Mas Anas. Kan ada perubahan aktenya,” elak Nazaruddin.

Nazar mengatakan, PT Anugerah yang menjadi cikal bakal usaha di Jakarta, dikatakan di dalamnya ada nama dirinya dan Anas. Setelah mereka berdua menjadi anggota DPR, kemudian dibuat perusahaan yang tidak ada nama mereka berdua. “Kalau ada nama saya dan Anas kan dari awal ditangkap KPK,” kata Nazaruddin.

Nazaruddin membenarkan dakwaan jaksa bahwa Anas menerima uang berkali-kali dari Grup Permai. Banyak kesaksian Nazar berbeda dengan kesaksian Yulianis pada sidang sebelumnya. Nazar juga membantah uang untuk Marzuki Alie yang pada sidang sebelumnya diakui oleh Yulianis.

“Kalau untuk Mas Anas dia nggak ngomong, kalau untuk yang lain pasti dia ngomong. Karena habis kongres di Partai Demokrat di Bandung dia (Yulianis) dikasih rumah di BSD senilai Rp 1 miliar lebih,” kata Nazaruddin.

Minta disita asetnya
Dalam tanggapannya terhadap aset-aset yang dikatakan Nazar milik Anas, terdakwa Anas meminta majelis hakim untuk menyita aset-aset yang dikatakan Nazaruddin miliknya. “Kalau ada aset-aset saya di mana saja termasuk luar negeri yang katanya ada Rp 2,7 triliun di Singapura, mohon agar aset-aset itu disita untuk kepentingan negara, termasuk katanya aset Anugrah dan Grup Permai yang katanya ownernya saya, mohon bisa disita untuk kepentingan negara,” kata Anas.

Jika aset-aset yang disebutkan Nazaruddin dihitung, maka jumlahnya mencapai hampir Rp 6 triliun. “Itu bisa nutupi kerugian dari kasus Bank Century yang Rp 6,7 triliun, bisa recovery. Kalau itu milik saya, saya ikhlas disita untuk kepentingan negara,” kata Anas.

Pemenangan Anas
Nazaruddin juga membenarkan aliran dana ke Kongres Partai Demokrat untuk pemenangan Anas. Uang itu salah satunya dialirkan untuk perwakilan Dewan Pimpinan Cabang. “DPC-DPC kalau tidak dikasih (uang) nggak akan milih,” kata Nazaruddin.

Menurut Nazar, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ternyata tidak rela Anas menjadi Ketua Umum Partai Demokrat. SBY lebih menjagokan Andi Alifian Mallarangeng dibanding Anas. "Mas Anas kan masih muda, pemimpin masa depan, lebih baik jadi Sekjen dulu. Pak SBY maunya beliau Ketua Dewan Pembina, Marzuki Alie menjadi Wakil Ketua Dewan Pembina, ketua umum Andi Mallarangeng karena banyak pengalaman, Anas jadi Sekjen," ujar Nazar.

Nazar juga mengatakan Anas memiliki perusahaan tambang batubara di Kutai Timur, Kalimantan Timur, dengan nama PT Arina Kota Jaya. Nazar sempat menyebut Bupati Kutai Timur, Isran Noor, menerima uang Rp 5 miliar untuk mengurus izin tambang milik Anas yang dikelola lewat Lilur dan Totok.

Jaksa penuntut umum KPK, Yudi Kristiana, mengkonfirmasi siapa sebenarnya pemilik perusahaan tambang PT Arina Kota Jaya. “Ya Mas Anas lah,” kata Nazar.


SMS Bu Ani
Hakim menanyakan apakah Anas memerintahkan staf Grup Permai untuk menandatangani semacam perjanjian agar tak boleh menyebut nama Anas dalam setiap proyek. Nazar membenarkan dakwaan tersebut dan menekankan bahwa sempat ada SMS dari Bu Ani Yudhoyono ke Anas.

“Waktu itu ada SMS terkait kasus Universitas Negeri Malang, disebutkan Rosa bawa nama Anas. SMS-nya berisi informasi ada proyek Rosa yang katanya punya Anas ada tagihan yang belum dibayar ke vendor,” kata Nazaruddin. Posisi Bu Ani, kata Nazar, hanya menginformasikan jika ada persoalan tersebut dan Nazar menduga SMS itu dari orang lain kepada Bu Ani.

Jaksa Yudi mengorek peran terdakwa dalam anggaran proyek Hambalang. Nazar mengatakan, peran Anas bukan hanya membuat anggaran dari single year ke multi years. “Tapi dari awal Hambalang bisa jalan karena besarnya peran Mas Anas mengintervensi,” kata Nazar.

Anas, kata Nazar, juga memutuskan yang menang adalah PT Adhi Karya. Nazaruddin juga menyebut pejanat di Kemenkeu terkait proyek tersebut.

“Apakah sebagai Ketua Fraksi terdakwa bisa pengaruhi untuk dapat proyek yang dananya dari APBN dan APBN-P?” tanya jaksa Yudi. “Sangat bisa pengaruhi karena kita semua bisa duduk di badan kelengkapan DPR,” kata Nazar.

Selain proyek Hambalang, kata Nazaruddin, banyak kamar-kamar bisnis Anas yang menyasar hampir semua sektor. Nazar sempat menyerahkan tulisan yang berisi daftar kamar-kamar usaha milik Anas untuk mengurus proyek-proyek pemerintahan dan BUMN yang berfungsi menerima fee-fee proyek.


Anas membantah
Anas membantah semua keterangan Nazaruddin. “Saya tak ingin bertanya ke saksi tapi ingin sampaikan tanggapan. Soalnya kalau ditanya jawabannya bukan jawaban yang sebenarnya,” kata Anas.

Terkait pemilik Grup Permai, kata Anas, jelas di persidangan sebelumnya para saksi yang dihadirkan seperti Rosa dan Yulianis mengatakan berbeda dengan Nazar. “Kalau saksi ditanya Neneng istri siapa, nanti bisa dijawab istri saya dipinjamkan Anas,” ledek Anas.

Anas juga membantah pertemuan soal Hambalang itu tidak benar. Saksi pada sidang lalu telah mengatakan, tak pernah ketemu dengan terdakwa apalagi sampai menyerahkan uang kepada terdakwa. Anas juga mencatat, ada ketidakkonsistenan keterangan Nazar dengan keterangan saksi-saksi sebelumnya walaupun saksi tersebut orang dekat Nazar.

“Pemberian dana 1 juta dollar, Rp 50 miliar, Rp 30 miliar, jelas beda dengan keterangan saksi Yulianis yang kredibel bicara karena punya catatan rapi dan jelas, otentik, yang jadi bahan KPK utk proses hukum lainnya,” kata Anas.

Anas juga membantah soal kantong-kantong dana miliknya. “Para saksi lain memberi penjelasan yang beda, termasuk Yulianis dan Rosa yang disebut kantong dana sudah membantah, keduanya anak buah Nazar,” kata Anas. Soal perusahaan tambang PT Arina Kota Jaya, kesaksian Yulianis dan Rosa mengatakan itu milik Nazar.


“Soal penentuan proyek multiyears Hambalang yang melibatkan pejabat Kemenkeu Agur Marto, itu keterangan ngawur karena saya baru kenal dan ketemu waktu Silaknas dan HUT demokrat 2012 di Sentul, sebelum itu belum bertemu,” kata Anas. (AMR)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Posting Komentar

Item Reviewed: Nazarudin Pojokkan Anas Rating: 5 Reviewed By: Endonesia.COM