728x90 AdSpace

Latest News
Jumat, 18 Juli 2014

Gotong Royong Kawal Pemilu 2.0

Oleh: Amir Sodikin

ANAK-anak muda yang berlatar belakang programer turun gunung menjawab tantangan mengawal suara Pemilu Presiden 2014. Belasan aplikasi berbasis web lahir di jagat maya dengan tujuan satu: mengawal kemurnian suara Pemilu Presiden 2014.

Inilah Pemilu 2.0, meminjam istilah bangkitnya Web 2.0, yaitu pemilu yang benar-benar dikawal pengguna internet atau netizen di media sosial. Salah satu aplikasi berbasis web yang kini hangat diperbincangkan di media sosial adalah Kawal Pemilu (www.kawalpemilu.org).

Relawan bergotong royong meng-input isian C1 (formulir rekapitulasi suara tingkat TPS) yang sebelumnya diunggah KPU di laman http://pilpres2014.kpu.go.id/c1.php. Kawal Pemilu paling cepat merekapitulasi C1, bahkan melebihi kecepatan penyelenggara pemilu.

Pendiri kawalpemilu.org, Ainun Najib, mengatakan, situs web ini lahir dari anak-anak muda yang suka dengan teknologi informasi (TI). Script laman ini hanya dibuat dua hari oleh dua rekan Ainun yang bekerja di Silicon Valley, San Francisco. Bandingkan dengan KPU yang sudah puluhan tahun berangan-angan memiliki sistem e-rekapitulasi, tetapi tak terlaksana.

”Hanya dua hari membuat script-nya. Yang lama itu membuat database-nya, harus dibuat sendiri, misalnya untuk nama-nama daerahnya,” kata Ainun yang tinggal di Singapura sebagai konsultan TI. Ainun adalah lulusan Nanyang Technological University, Singapura.

Ide Ainun dan teman-temannya yang tak mau disebutkan namanya adalah bagaimana memanfaatkan sumber data terbuka milik KPU berupa gambar-gambar formulir C1.
Berbasis relawan

Satu-satunya cara adalah meng-input secara manual ke sebuah sistem database. Akhirnya, melalui akun Facebook, Ainun dan teman-temannya merekrut relawan yang mau bekerja untuk memasukkan data. ”Ternyata responsnya bagus. Hanya beberapa hari kami sudah punya 700 relawan. Sekarang perekrutan sudah kami tutup,” kata Ainun.

Bagaimana dengan biaya laman dan sewa server? Ainun mengatakan, hampir tak keluar uang untuk mewujudkan embrio e-rekapitulasi ini. Server-nya pun menggunakan server berbasis cloud (komputasi awan) milik akun teman Ainun.

”Untuk biaya server sebenarnya masih gratis. Hanya saja, pas ada lonjakan pengunjung, billing-nya baru jalan dan itu pun baru keluar 10 sen,” kata Ainun.

Sekitar 700 relawan yang direkrut pun tidak dibayar. Mereka bekerja sukarela.

Kerja script di kawalpemilu.org adalah menampilkan snippet atau potongan C1 yang tepat menampilkan perolehan suara. Dari potongan ini, relawan langsung melihat angka-angka itu kemudian memasukkan ke kolom isian yang disediakan.

Kawalpemilu.org sama sekali tak mengonversi otomatis gambar-gambar C1 ke dalam angka numerik untuk tabulasi suara karena hal itu tak memungkinkan. ”Laman ini adalah program entri data yang diisi para relawan,” kata Ainun.

Ainun menjamin script yang dibangun murni hanya menjumlahkan angka-angka yang di-input para relawan. ”Kami independen. Kalau ada yang meragukan, silakan dibandingkan dengan data C1 KPU,” katanya.

Gabriella Alison adalah salah satu relawan Kawal Pemilu. Walaupun sedang sakit, ia rela membantu memasukkan data dari rumah. Ia bangga menjadi bagian dari partisipasi publik dalam mengawal pemilu.

”Dari dulu saya tak pernah perhatian dengan politik. Tetapi, tahun ini beda, saya terpanggil mengawalnya,” kata Gabriella.

Elisa Sutanudjaja adalah salah satu administrator di Kawal Pemilu. Sebelumnya ia memulai inisiatif mengumpulkan C1 janggal di http://bit.ly/CekJanggalC1 bersama 200 relawan lainnya. Ia kemudian dikontak Ainun untuk koordinasi pekerjaan.

”Takutnya, kerjanya sama, ternyata berbeda,” kata Elisa. Akhirnya Elisa menjadi admin Kawal Pemilu dan kumpulan C1 janggal menjadi referensi.

Niat Elisa terjun sebagai relawan awalnya didasari pemikiran bagaimana memanfaatkan data terbuka milik KPU. ”Kalau tak dimanfaatkan, tak ada gunanya transparansi itu,” kata Elisa.
Kejutkan semua pihak

Kekuatan crowdsourcing mengejutkan semua pihak karena hanya dalam hitungan hari, capaian C1 yang di-input lebih dari 96 persen. Orang-orang yang tak percaya crowdsourcing menuding apa yang dicapai Kawal Pemilu tidaklah realistis.

Mereka tak percaya para relawan bisa cepat menyelesaikan input C1 dengan kekuatan hanya 700 orang. Ada juga yang menganggap tak mungkin para relawan itu tak dibayar untuk memasukkan data.

Salah satu relawan Kawal Pemilu, Stefanus Rakhmat Andrianto, tertawa mendengar cibiran itu. Editor di Wikipedia ini terbiasa dengan pekerjaan keroyokan tanpa dibayar.

”Di Indonesia, jutaan orang bekerja tanpa dibayar. Ketika ada vandalisme artikel di Wikipedia, misalnya, ramai-ramai mereka memperbaiki artikel itu, tanpa dibayar. Demikian juga kerja kami di Kawal Pemilu, tak ada yang dibayar,” kata Stefanus.

Dengan crowdsourcing, apa pun bisa dikerjakan dengan bergotong royong sehingga ringan. Stefanus bangga menjadi bagian dari proyek keroyokan ini demi mengawal suara pemilu.

Penghitungan di Kawal Pemilu juga menarik data formulir rekapitulasi tingkat kecamatan (DA1) dan juga rekapitulasi tingkat kabupaten/kota (DB1), yang berkolaborasi dengan aplikasi di http://rekapda1.herokuapp.com. Penghitungan versi C1 di Kawal Pemilu kemarin mencapai 96,59 persen dengan perolehan suara Prabowo-Hatta 47,19 persen dan Jokowi-Kalla 52,80 persen.

Sementara penghitungan menurut http://rekapda1.herokuapp.com, DA1 mencapai 74,41 persen dengan perolehan suara Prabowo-Hatta 47,78 persen dan Jokowi-Kalla 52,22 persen. Untuk penghitungan DB1 mencapai 77,46 persen dengan perolehan suara Prabowo-Hatta 47,96 persen dan Jokowi-Kalla 52,04 persen.

Selain laman-laman itu, bermunculan aplikasi berbasis web yang menarik data dari laman KPU secara otomatis. Beberapa di antaranya goo.gl/ZR8xII, goo.gl/3w8Lcy, http://bowoharja.biz/, goo.gl/8ZYtof, goo.gl/Se1Fch, dan goo.gl/UVz6Ww.

Meski kerja keroyokan ini tanpa dana miliaran rupiah, anak-anak muda ini secara sukarela mampu mewujudkan embrio e-rekapitulasi yang selama ini jadi mimpi KPU. Berkaca pada mereka, kita makin yakin akan siap menggelar e-voting pada pemilu selanjutnya.

Gegap gempita netizen memantau suara pemilu ini memberikan keyakinan bahwa masyarakat telah siap memanfaatkan TI dalam pemilu. Sebuah kekuatan yang terlupakan di negeri ini.

Berbekal Pemilu 2.0, kita akan menuju Demokrasi 2.0 yang lebih partisipatoris.

Sumber: Harian Kompas, Jumat 18 Juli 2014
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

1 comments:

  1. mainan.tokooonline.com toko online jual mainan anak dan bayi

    BalasHapus

Item Reviewed: Gotong Royong Kawal Pemilu 2.0 Rating: 5 Reviewed By: Endonesia.COM