728x90 AdSpace

Latest News
Rabu, 28 Mei 2014

Visi Misi Capres : Nawa Cita bertarung dengan Delapan Program Nyata


Komisi Pemilihan Umum telah mengunggah berkas pendaftaran para calon, termasuk visi-misi para bakal calon presiden di laman web www.kpu.go.id. Dalam visi dan misi resmi bakal calon presiden tersebut, banyak yang berubah dari yang sebelumnya diisukan di media massa.

Pasangan Joko Widodo – Jusuf Kalla, mengirim “Visi Misi dan Program Aksi” sebanyak 42 halaman dengan diberi judul “Jalan Perubahan Untuk Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian”. Sedangkan pasangan Prabowo Subianto – Hatta Rajasa, mengirim “Visi Misi dan Program” sebanyak sembilan halaman.

Dari visi misi yang disampaikan, pasangan Jokowi-Kalla membeberkan dalam 12 agenda strategis bidang politik, 16 agenda strategis bidang ekonomi, dan 3 agenda strategis bidang kepribadian dan budaya. Dari 31 agenda strategis itu, diperas menjadi sembilan agenda proritas atau mereka sebut nawa cita.

Secara ringkas, nawa cita itu adalah melindungi segenap bangsa, membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, membangun dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa, menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sstem dan penegakan hukum, meningkatkan kualitas hidup manusia, meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional, mewujudkan kemandirian ekonomi, melakukan revolusi karakter bangsa, dan memperteguh ke-Bhinega-an dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.

Pasangan Prabowo-Hatta menurunkan visi misi dalam Delapan Agenda dan Program Nyata untuk Menyelematkan Indonesia. Ringkasan agenda itu adalah membangun perekonomian yang kuat; melaksanakan ekonomi kerakyatan; membangun kembali kedaulatan pangan, energi, dan sumber daya alam; meningkatkan kualitas sumberdaya manusia; meningkatkan kualitas pembangunan sosial; mempercepat pembangunan infrastruktur; menjaga kelestarian alam dan lingkungan hidup; dan membangun pemerintahan yang melindungi rakyat.

Kedua pasangan sudah detail menyampaikan program kerja masing-masing dari berbagai bidang, mulai dari ekonomi, politik, sosial budaya, pendidikan, lingkungan hidup, birokrasi dan pemerintahan, dan energi. Hingga Rabu (21/5), kemarin, masih sedikit kalangan yang mengakses visi-misi tersebut karena minimnya sosialisasi. Keduanya bisa diakses di laman web goo.gl/AQlGTz .

Peneliti Senior Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Siti Zuchro, menilai kedua pasangan mengusung gagasaan yang mirip. “Jokowi-Kalla menjabarkan ide Trisakti Bung Karno dengan tekanan pentingnya menjaga Bhinneka Tunggal Ika dan Nasionalisme,” katanya.

Sementara Prabowo-Hatta menawarkan gagasan ekonomi sosialisme Indonesia dengan tekanan ketahanan/kemandirian pangan dan ekonomi. Semestinya, kata Siti, visi dan misi mereka dituangkan dalam kebijakan/program yang kongkrit dan realistis.

Visi, misi, dan program mestinya disampaikan dalam bentuk lebih terukur, misalnya dituangkan dalam bentuk penyusunan APBN, berapa anggaran yang akan diberikan untuk program-program unggulan tersebut. “Ini diperlukan agar pemilih bisa mempertimbangkan pasangan calon dengan jelas,” kata Siti.

Ditinjau dari sisi birokrasi keduanya kurang memberikan tekanan yang memadai, padahal isu reformasi birokrasi sangaat urgen dan signifikan dilakukan. “Sebagai penopang utama roda pembangunan, birokrasi yang tereformasi menjadi prasyarat penting,” kata Siti.

Selain itu, yang tak kalah penting dikedepankan adalah supremasi hukum. Keberpihakan capres-cawapres terhadap supremasi hukum diwujudkan dalam membuat lembaga-lembaga hukum bermartabat. “Sehingga ungkapan Indonesia sebagai negara hukum tidak menjadi jargon kosong,” kata Siti.


Inisiator Dekrit Rakyat Indonesia yang juga Ketua Institut Hijau Indonesia, Chalid Muhammad, mengatakan, secara tekstual kedua visi misi dan program kerja capres sangat kuat menunjukan semangat proteksi kepentingan nasional. Dekrit Rakyat Indonesia adalah gabungan beberapa LSM yang sejak awal mendesak para capres bertarung dalam program kerja dengan mengedepankan masalah kebangsaan.

“Isi kemandirian menjadi isu di kedua kubu yg menjadi bukti bahwa isu tersebut sangat laku dijual pada khalayak pemilih, karena selama ini kemandirian sangat jauh dari realitas,” kata Chalid. Secara spesifik, kata Chalid, Jokowi-Kalla mengangkat isu negara kemaritiman yang merupakan antitesa atas bias darat yang selama ini terjadi dalam mengelola politik, kemanan dan eksploitasi alam.

Namun, bagi Dekrit Rakyat Indonesia, masih ada pertanyaan penting apakah visi misi dan program itu bisa dilaksanakan dengan mudah? “Menurut saya, jika melihat koalisi di kubu Prabowo yang didominasi partai pendukung pemerintahan sekarang, hal itu akan menjadi sulit,” kata Chalid.

Alasannya, beberapa instrumen dan kebijakan pemerintah sekarang seperti MP3EI tidak memungkinkan visi dan misi Prabowo-Hatta tercapai. “Kecuali ada pernyataan tegas bahwa kebijakan-kebijakan itu akan direvisi dan diganti dengan masterplan baru,” kata Chalid.

Khusus untuk kebijakan pertambangan dan energi, di kedua belah kubu belum menunjukan pemahaman yang dalam atas isu itu sehingga yang dijawab baru pada soal pembenahan tatakelola produksi. “Untuk tambang, kedua kubu sangat kental bernuansa eksploitatif tanpa ada sedikit pun menyinggung strategi penghematan dalam penggunaan sumber daya yang tidak terbarukan,” kata Chalid.

Secara tegas, Dekrit Rakyat Indonesia menuntut kedua kubu segera merevisi program pertambangan dan energi agar kedaulatan bidang pertambangan dan energi bisa terwujud. “Kritik ini untuk kedua kubu, agar tak eksploitatif terhadap sumber daya alam, ini bahaya,” katanya.

Isu pemulihan lingkungan hidup sebagaimana mandat UU Perlindungan Lingkungan Hidup juga belum terlihat jelas dalam program mereka. Padahal isu ini sangat urgen untuk direspons. “Untuk isu konflik dan sengketa lingkungan hidup, baru kubu jokowi yang menyatakan akan mendorong pelembagaan penyelesaian konflik,” kata Chalid.

Direktur Lingkar Madani Indonesia, Ray Rangkuti, menyoroti soal visi misi salah satu partai yang kental dengan nuansa intoleransi, seperti yang sudah ramai dibicarakan di media massa. Partai Gerindra, kata Ray, memiliki visi misi yang menyingggung soal pemurnian ajaran agama dan sudah menjadi perdebatan banyak kalangan.

Namun, dalam visi misi yang disampaikan ke KPU, hal tersebut tampaknya sudah tak lagi dicantumkan dalam visi misi sebagai pasangan capres dan cawapres. Pada misi kelima terkait agama, kekhawatiran banyak pihak tersebut sudah tak ada. “Sudah tidak ada karena sudah diprotes sebelumnya,” kata Ray.
(AmirSodikin.com)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Poskan Komentar

Item Reviewed: Visi Misi Capres : Nawa Cita bertarung dengan Delapan Program Nyata Rating: 5 Reviewed By: Endonesia.COM