728x90 AdSpace

Latest News
Sabtu, 31 Mei 2014

Sarinah dan Kisah Mbok-Mbok Istana Tempo Dulu

Selasa (27/5) kemarin, di acara Rakernas Partai Nasdem, Megawati Sukarnoputri kembali menyinggung spirit perempuan dalam dunia politik. Secara terang-terangan, Megawati menyebut dirinya bukan hanya anak biologis Sukarno tapi juga anak ideologis Sukarno, yang diberi amanat untuk tetap menjaga ajaran Sukarno.

Salah satu ajaran Sukarno untuk para perempuan Indonesia di ranah politik, kata Megawati, telah dijabarkan dalam buku berjudul Sarinah. Siapa sebenarnya Sarinah itu? Banyak yang tak menyangka, dia adalah seorang Mbok-Mbok, sang pengasuh Sukarno.

Saya pekan lalu mengikuti diskusi peluncuran buku Sarinah yang digelar Yayasan Bung Karno bekerjasama dengan Penerbit Media Pressindo, di Gedung Joang 45, Jakarta. Secara khusus, Ketua Umum Yayasan Bung Karno, Guruh Sukarnoputra, meminta agar ejaan nama ayahnya ditulis sesuai permintaan ayahnya, yaitu Sukarno, bukan Soekarno. Karena itu, tulisan ini konsisten menulis proklamator tersebut dengan ejaan Sukarno.

Di salah satu ruangan di Gedung Joang 45, sedianya hanya digelar peluncuran buku Sarinah karya Ir Sukarno, presiden pertama RI. Namun, bedah buku itu berubah menjadi nostalgia mengenang para Mbok-Mbok pengasuh para putra pejuang RI.

Forum itu menghadirkan dua anak proklamator Sukarno yaitu Guruh Sukarnoputra dan Sukmawati Sukarnoputri, putri Jenderal Ahmad Yani yaitu Amelia Yani, mantan anggota DPR yang juga adik Gus Dur, Lily Wahid. Di barisan pengunjung tampak putri proklamator Bung Hatta, Gemala Hatta, dan aktivis perempuan lintas parpol.

Guruh Sukarnoputra, Ketua Umum Yayasan Bung Karno, pertama yang memulai membuka forum. Guruh mengatakan, di buku Sarinah yang juga pernah diterbitkan tahun 1947, kita banyak memahami arti perempuan di mata Sukarno.

Tak seperti yang dilekatkan orang, Sukarno mencintai perempuan bukan hanya secara lahiriah. Ia mencintai perempuan dan mengharapkan peran aktif perempuan dalam pembangunan Indonesia. “Sukarno tak mau perempuan hanya konco wingking, teman di belakang,” kata Guruh.

Kemudian, Guruh berkisah mengapa buku tersebut diberi nama Sarinah. Sukarno sendiri dalam tulisannya mengakui, penamaan Sarinah sebagai tanda terima kasih kepada pengasuh Sukarno ketika masih kanak-kanak.

“Pengasuh saya itu bernama Sarinah. Ia Mbok saya. Dari dia, saya banyak mendapat pelajaran mencintai orang kecil. Dia sendiri pun orang kecil, tetapi budinya selalu besar,” kata Guruh, mengutip teks buku yang ditulis Sukarno.

Para pengasuh
Di ruang diskusi dengan latar belakang sebingkai teks proklamasi, Guruh kemudian menceritakan Mbok-Mbok pengasuh anak-anak Presiden pertama Indonesia, termasuk mbok-mbok yang mengasuh Guruh. Sukarno sering bercerita pada anak-anaknya ketika di meja makan.

“Bapak pernah ceritakan Mbok Sarinah. Sarinah itu bukan fiktif tapi benar-benar ada,” kata Guruh. Semua anak-anak Sukarno diasuh oleh Mbok-Mbok yang biasanya usianya tua, bukan oleh baby sitter atau pengasuh bayi khusus.

“Kami, dari Guntur sampai saya, ketika masih kecil semuanya dapat Mbok. Yang namanya keluarga Presiden enggak pakai baby sitter, semua pake Mbok,” kata Guruh. Guruh kemudian menyebutkan satu per satu para Mbok di lingkungan istana.

“Pengasuhnya Mas Guntur itu Mbok Joyo. Mbok Joyo kemudian dilungsurkan ke saya,” kenang Guntur. Megawati dan Sukmawati mendapat Mbok Citro. Rachmawati mendapat Mbok Atmojo.

“Mbok Joyo dan Mbok Citro itu buta huruf, enggak sekolah, sangat sederhana,” kata Guruh. Walaupun buta huruf, mereka tetap diberi kesempatan mendapat pekerjaan, bahkan mengasuh anak-anak presiden. Mereka kemudian diberi kursus membaca di istana, seiring program pemberantasan buta huruf yang dicanangkan pemerintah.

“Kenapa Bapak yang seorang Presiden memilihkan pengasuhnya orang tradisional bukan baby sitter? Mbok-Mbok itu seperti Sarinahnya Bapak. Kesetiannya mengabdi luar biasa,” kata Guruh. Dari Mbok-Mbok itulah, anak-anak proklamator belajar memahami orang kecil.

“Mereka orang yang sangat sederhana. Tak ada kamus mengkhianati.
Saya diajar mereka untuk menjadi sabar,” kata Guruh.

Sukmawati mengaku tak sempat bertemu dengan Sarinah. Ia hanya mendapat cerita Sarinah dari keluarga ketika di Blitar. Namun, Sarinah adalah nyata, orang biasa yang martabatnya diangkat Sukarno menjadi sesuatu yang mendapat tempat khusus.

Bahkan, buku Sarinah, kata Sukmawati, kini menjadi buku pegangan wajib bagi para perempuan aktivis yang ingin mempelajari ajaran Sukarno. Keberadaan Sarinah, seperti Marhaen, petani biasa yang diangkat martabatnya oleh Sukarno dan kemudian bahkan menjadi ajaran Marhaenisme.

Mbok Mangun

Putri Jenderal Ahmad Yani, Amelia Yani, tak mau kalah berkisah soal Mbok-nya anak-anak Ahmad Yani. “Keluarga kami juga punya Mbok, namanya Mbok Mangun. Dia bersama Ibu kami sejak revolusi 1940an, mulai dari kakak saya lahir hingga adik saya kedelapan,” katanya.

Mbok Mangun tak hanya mengasuh, tapi sering menjadi penyelamat keluarga. Ketika Amelia lahir tahun 1949, ketika itu pecah Perang Kemerdekaan II (Clash II), bayi merah Amelia dibungkus perlak dan dibawa lari dengan digendong bersama kedua kakak Amelia dan Ibunya.

“Dibawa lari ke gunung karena waktu itu Magelang dibumihanguskan tentara sekutu. Ayah pergi bergerilya bersama pasukan di sekitar Merapi-Merbabu,” kata Amelia. Mbok Mangun, perempuan desa asal Mertoyudan dekat Magelang, telah menjadi penjaga keluarga Ahmad Yani selama 30 tahun.

Jasanya tak sekadar menjadi pengasuh, namun juga mengajarkan banyak hal soal kesederhanaan hidup serta berjuang dan memberi tanpa pamrih. “Lugu dan sederhana, seluruh hidupnya membantu Ibu saya dan anak-anaknya. Bagi kami, dia seperti Mbok Sarinah,” kata Amelia.

Amelia menegaskan, Sukarno dengan “Sarinah” telah mengajarkan tentang feminisme Indonesia, bukan feminisme ala barat. Amelia ingat ketika menonton televisi di tahun 1962-1962. Bung Karno ketika pidato, di barisan depan diisi perempuan-perempuan.

“Bung Karno kemudian melepaskan jasnya, kemudian meminta perempuan tua memangku jas. Perempuan itu memangku jas dengan bangganya, karena itu jas kebesaran Bung Karno. Sementara Bung Karno berpidato berapi-api,” kata Amelia.

Perempuan tua itu juga sosok Mbok-Mbok Sarinah yang tak pernah punya pamrih terhadap perjuangan hidup. Di balik pemikiran Mbok-Mbok yang sederhana itu, di mata Bung Karno, api revolusioner justru akan bisa terus dinyalakan. Seperti kata Bung Karno, tiada kemenangan revolusioner jika tiada wanita revolusioner. (Amir Sodikin, amirsodikin@gmail.com)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Poskan Komentar

Item Reviewed: Sarinah dan Kisah Mbok-Mbok Istana Tempo Dulu Rating: 5 Reviewed By: Endonesia.COM