728x90 AdSpace

Latest News
Rabu, 05 Maret 2014

Raspberry Pi : Komputer Mungil dengan Ambisi Besar

Awal bulan Maret ini, komputer mungil yang sering disebut termurah di dunia, Raspberry Pi, berulang tahun yang kedua sejak peluncurannya pada 2012 lalu. Komputer dengan ukuran hanya sebesar kartu kredit ini telah terjual lebih dari 2,5 juta unit di seluruh dunia.

Komputer ini harganya hanya 25 dollar AS untuk Model A adapun 35 dollar AS utuk Model B per unit. Ia dikembangkan oleh yayasan nirlaba, Rasberry Pi Foundation yang digawangi sejumlah developer dan ahli komputer dari Universitas Cambridge, Inggris.

Ide dibalik komputer mungil ini diawali dari keinginan untuk mencetak generasi baru programer, pada 2006 lalu. Seperti disebutkan dalam situs resmi Raspberry Pi Foundation, waktu itu Eben Upton, Rob Mullins, Jack Lang, dan Alan Mycroft, dari Laboratorium Komputer Universitas Cambridge memiliki kekhawatiran melihat kian turunnya keahlian dan jumlah siswa yang hendak belajar ilmu komputer.

Dari situasi pada 1990-an saat kebanyakan siswa yang ingin belajar ilmu komputer bisa menjawab wawancara selayaknya programer berpengalaman, hal sebaliknya terjadi memasuki dekade 2000-an, dimana mereka kebanyakan hanya mengenal sedikit mengenai desain web.
Upton dan koleganya melihat ada yang berubah dari cara anak-anak berinteraksi dengan komputer. Anak-anak lebih akrab dengan konsol game dan PC, dari pada komputer untuk pemrograman.

Singkat cerita, mereka lantas mendirikan yayasan Raspberry Pi bersama dengan Pete Lomas dan David Braben pada 2009. Tiga tahun kemudian, Raspberry Pi Model B memasuki produksi masal.

Menurut Upton, nama raspberry diberikan sesuai tradisi menjadikan nama buah sebagai nama perangkat teknologi atau perusahaan komputer. Siapa tak mengenal Apple atau Blackberry?

Adapun Pi didapat karena Upton dan koleganya ingin membuat komputer yang bisa menjalankan Python.
Meski menangguk sukses yang tak terkira, Upton sebelumnya tidak pernah berpikir untuk membuat komputer. Dalam wawancara dengan ZDNet, Upton menyebut bahwa Yayasan Raspberry Pi didirikan dengan satu tujuan menginspirasi munculnya generasi baru para programer.

Mereka berpikir bahwa cara terbaik untuk melakukan hal itu adalah dengan menyediakan komputer yang cukup murah dan mudah untuk diotak-atik atau di-hack. “Dalam dokumen pendirian, kami tidak menemukan kata, ‘kami ingin membuat komputer’. Yang ada adalah ‘Kami ingin membuat anak-anak belajar pemprograman’,” kata Upton kepada ZDNet.

Raspberry Pi dalam beberapa hal mengingatkan pada program One Laptop Per Child (OLPC), sebuah proyek untuk memberikan anak-anak di negara berkembang laptop murah seharga sekitar 100 dollar Amerika Serikat per unit. Meski tak sesukses seperti tujuan awal, ide untuk mengembangkan komputer murah banyak disambut.

Keinginan untuk melahirkan generasi baru programer itu berasal dari keprihatinan Upton yang merasa bahwa minat untuk menjadi programer kian menurun. “Anak-anak (yang ingin belajar ilmu komputer), tidak memiliki kesempatan melakukan pemrograman sebelumnya,” ujarnya.

Hal ini memicu krisis skill dibidang pemrograman. Menurut Upton, ia melihat sendiri hal itu dalam kesehariannya sebagai arsitek chip di perusahaan semikonduktor Broadcomm tentang minimnya ilmuwan komputer, programer, dan software engineer, terutama dari sejumlah universitas di Inggris.

Meski Upton percaya bahwa anak-anak masih tertarik untuk belajar pemrograman, ia mengaku gelisah saat mengenalkan Raspberry Pi untuk pertama kalinya. Ketakutan itu muncul karena anak muda sepertinya lebih tertarik dengan tablet atau smartphone.

Kekhawatiran itu mereda setelah komputer ini mendapat sambutan luar biasa. Dalam peluncuran pertamanya, ribuan Raspberry Pi model B pada akhir Febuari 2012, terjual dalam beberapa jam saja. Pada hari pertama ini, 100.000 unit ludes terjual.
”Sejujurnya kami mengira hanya bisa menjual 1.000, mungkin 10.000 unit saja. Kami berpikir angkanya kecil dan akan memberikannya untuk orang yang mungkin tertarik datang dan membaca ilmu komputer di Cambridge,” lanjut Upton.

Kini, sekitar dua tahun kemudian, Rasberry Pi telah terjual lebih dari 2,5 juta unit ke seluruh dunia kepada hobbyist, anak-anak, siswa, guru, dan developer.

Di tangan mereka, komputer liliput ini tidak hanya dipakai untuk belajar pemrograman. Namun, dengan imajinasai tak terbatas, Rasberry Pi ada yang dikirim ke luar angkasa, ke bawah air, mengendalikan robot, dan berbagai macam proyek lain yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.


Menghidupkan Raspberry Pi

Melihat pertama kalinya, Raspberry Pi hanyalah sebuah papan board dilengkapi dengan port USB, ethernet, slot SD card, HDMI, RCA, dan audio.

Meski kecil, komputer ini cukup kapabel mampu untuk memainkan 1080p video, berselancar di internet, menulis dokumen, dan tentu saja sesuai tujuan awalnya, pemprograman.
Jujur saja, ini bukan komputer yang dimaksudkan menggantikan dekstop yang jauh bertenaga. Harap diingat ini adalah komputer murah untuk menarik minat anak-anak atau orang muda kembali menggeluti pemrograman.

Raspberry Pi ditenagai prosesor ARM-11 700 MHz dengan RAM sebesar 256 MB untuk model A dan 512 MB untuk Model B. Model B juga dilengkapi dua port USB ports, HDMI, RCA, audio, dan ethernet.

Bagaimana mendapatkannya? Di Indonesia, ada sejumlah orang yang menjualnya melalui internet. Anda bisa mencoba Gerai Cerdas yang juga melayani COD di Jakarta.

Untuk menjalankan komputer ini, ada sejumlah perangkat tambahan yang harganya bisa saja melebihi board ini. Jika ingin menjajal Raspberry Pi, dibutuhkan SD Card (sebaiknya minimal 8 Gb), card reader, power suply (bisa dengan charger kebanyakan smartphone saat ini).

Berikutnya adalah keyboard dan mouse (sebaiknya memakai bluetooth agar tidak menghabiskan dua port USB/jika terpaksa pakai USB hub), kabel HDMI (jika ingin menjadikan televisi HD sebagai monitor, tambahan konverter HDMI ke DVI jika memakai monitor komputer, atau memakai kabel RCA jika ingin memakai televisi analog). Jangan lupa, wi-fi adapter atau kabel ethernet jika ingin tersambung ke internet.

Setelah perangkat keras tersedia, langkah berikutnya adalah memasang sistem operasi ke SD Card. Ada sejumlah sistem operasi yang semuanya berbasis Linux seperti Raspbian, XBMC, Pidora, RaspBMC, OpenELEC, RISC OS, ARCH.
Bagi pengguna pertama, Raspberry Pi Foundation dalam situsnya menyarankan untuk mengunduh saja New Out of Box Software (NOOBS) dari situs http://www.raspberrypi.org/downloads. Seluruh OS yang tersebut di atas tersedia dengan sekali mengunduh NOOBS. Gratis!

Harap sabar karena besar file-nya sekitar 1,3 Gb yang dikompres dalam bentuk zip. Usai mengunduh, ekstrak file ini ke dalam SD Card dari PC. Setelah selesai, pasang SD Card ke slot di Raspberry Pi.

Setelah semua terpasang di board Raspberry Pi, colokkan power suply. Berikutnya, akan muncul pilihan sistem operasi apa saja yang Anda inginkan. Pilih Raspbian untuk keperluan seperti berselancar internet, belajar pemrograman (bahasa Python), atau menulis.
Jika ingin menjadikannya sebagai pusat hiburan di rumah, bisa dipilih XBMC atau OpenELEC. Ambisi besar Upton dan kawan-kawan untuk menjadikan Raspberry Pi mesin edukasi pemrograman, ternyata berkembang sangat jauh.

Anda bisa mencari inspirasi mengenai proyek-proyek Raspberry Pi di internet seperti menjadikannya penambang Bitcoin, pengendali robot, dan masih banyak lagi.

Setelah booting pertama, terserah mau dijadikan apa komputer mungil ini. Tak ada batasan. (Prasetyo Eko P)

Sumber: Kompas cetak, 5 Maret 2014
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Poskan Komentar

Item Reviewed: Raspberry Pi : Komputer Mungil dengan Ambisi Besar Rating: 5 Reviewed By: Endonesia.COM