728x90 AdSpace

Latest News
Selasa, 04 Februari 2014

Manufaktur Sumbang 50% Investasi

Sektor manufaktur diperkirakan masih menjadi motor pertumbuhan investasi tahun ini, mengungguli tiga sektor lainnya, yakni perkebunan, pertambangan, dan jasa. Nilai investasi manufaktur tahun ini diperkirakan mencapai Rp 225 triliun atau 50% dari estimasi total investasi sebesar Rp 450 triliun.

Staf Khusus Menteri Perindustrian Benny Soetrisno mengatakan, investasi manufaktur tidak lagi terpusat pada industri padat karya, melainkan ke industri padat modal. Arus investasi diperkirakan mengalir deras ke sektor otomotif, baja, kimia, dan komponen. Adapun investasi di industri padat karya seperti tekstil dan alas kaki ditaksir rendah.

"Industri padat karya menghadapi berbagai tantangan, mulai dari masalah kenaikan UMP (upah minimum provinsi), tarif listrik, hingga gas. Akibatnya, investasi lebih mengarah ke industri padat modal," ujar Benny di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut Benny, politik kebijakan upah dan UU Ketenagakerjaan sangat tidak mendukung perkembangan industri padat karya. Sejalan dengan itu, perkembangan dan investasi industri yang banyak menggunakan mesin lebih pesat.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), nilai investasi manufaktur tahun lalu mencapai Rp 204 triliun. Perinciannya, sebanyak Rp 153 triliun merupakan penanaman modal asing (PMA), sedangkan sisanya penanaman modal dalam negeri (PMDN). BKPM menargetkan investasi tahun ini tumbuh 15% menjadi Rp 450 triliun.

Sementara itu, Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Benny Wachyudi mengatakan, investasi manufaktur akan terus melonjak. Salah satu penyebabnya adalah aturan larangan ekspor mineral mentah. Hal ini akan memacu investasi di industri penghiliran mineral.

Investasi penghiliran mineral, tutur Benny, akan memperkuat industri manufaktur nasional. Dia mencontohkan, investasi pabrik baja akan menambah jaminan pasokan bahan baku dari dalam negeri untuk industri baja hilir. Imbasnya, industri permesinan dan komponen dalam negeri akan kuat, karena bisa mendapatkan pasokan bahan baku lokal. "Dalam 2-3 tahun ke depan, kita memang masih akan impor barang modal," kata Benny.

Benny mengakui, investasi manufaktur bakal terkendala masalah pengupahan. Imbasnya, peningkatan investasi tidak diikuti penyerapan tenaga kerja yang signifikan.

"Misalnya, investasi untuk menambah kapasitas produksi sebesar terpasang sebesar dua kali lipat hanya menambah jumlah pegawai sebanyak 1,5 kali lipat. Hal ini terjadi karena investasi manufaktur mulai mengarah ke otomatisasi, karena lebih gampang menangani mesin dibanding manusia," ujar Benny.

Pertumbuhan Industri

Sementara itu, Kemenperin menargetkan pertumbuhan industri manufaktur tahun ini berkisar 6,4-6,8%. Perinciannya, pertumbuhan industri makanan, minuman, dan tembakau diprediksi mencapai 3,5-3,8%, industri tekstil, barang kulit, dan alas kaki tumbuh 5,5-5,8%, industri barang kayu dan hasil hutan lainnya tumbuh 5,9-6,2%, industri kertas dan barang cetakan tumbuh 4,1-4,8%, industri pupuk, kimia, dan barang dari karet tumbuh 5,9-6,1%.

Selanjutnya, industri semen dan barang galian bukan logam ditargetkan tumbuh 3,8-4,2%, industri logam dasar, besi, dan baja tumbuh 9,8-10,3%, industri alat angkutan, mesin, dan peralatannya tumbuh 9,7-10,2%, serta industri barang lainnya turun 0,41-1,06%.

Sementara itu, Benny Soetrisno memprediksi, nilai ekspor produk industri pada 2014 bisa mencapai US$ 125 miliar. Kemenperin memperkirakan ekspor elektronik tumbuh 10% menjadi sekitar US$ 8,5 miliar dari diprediksi 2013 sebesar US$ 7,5 miliar. Kemenperin juga menargetkan ekspor mobil dalam bentuk utuh (CBU) akan meningkat pada 2014 seiring penambahan kapasitas produksi industri mobil nasional.

Sumber: Investor Daily, http://kemenperin.go.id/artikel/8476/Manufaktur-Sumbang-50-Investasi
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Posting Komentar

Item Reviewed: Manufaktur Sumbang 50% Investasi Rating: 5 Reviewed By: Endonesia.COM