728x90 AdSpace

Latest News
Senin, 24 Februari 2014

Jelang Pemilu, Hujan Somasi Mengkhawatirkan


Jelang pemilu, somasi yang berujung pada penuntutan ke ranah hukum yang dilakukan oleh sejumlah elit kian merebak. Sejumlah kalangan menilai, tren somasi dengan berlindung di balik Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik ini makin tidak sehat dan mengkhawatirkan.

Demikian disampaikan Direktur Lingkar Madani (LIMA) Indonesia Ray Rangkuti, aktivis Save Our Soccer yang juga Divisi Politik Anggaran Indonesia Budget Centre Apung Widadi, aktivis Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Uchok Sky Khaddafi, dalam sebuah diskusi di Jakarta, Minggu (23/2). Apung dan Uchok hadir dalam diskusi sebagai pihak yang pernah mendapat somasi dan gugatan.

Ray Rangkuti mengatakan, somasi yang berlanjut ke masalah hukum sebenarnya hal biasa. Namun, yang mengkhawatirkan adalah somasi ini sudah menjadi tren yang dilakukan oleh elit untuk membungkam pihak lain yang mengkritiknya.

“Walaupun semua orang sama di mata hukum, elit yang melaporkan selalu mendapat akses yang lebih baik di mata hukum,” kata Ray. Sudah belasan orang disomasi dan digugat karena kritik dilontarkannya, ada dari kalangan aktivis, jurnalis, dan politisi.

Ada yang digugat karena pernyataannya di media massa, di media sosial, dan ada yang hanya gara-gara statusnya di BlackBerry Messenger. Ray menandai, tren somasi ini berlangsung sejak Susilo Bambang Yudhoyono membentuk tim pengacara dan mensomasi sejumlah nama yang mengkritiknya.

“Tren ini menuju arah pembunuhan kritik. Pengaduan oleh elit akan cepat diproses, tapi belum tentu kalau orang biasa akan diproses,” kata Ray. Menjelang pemilu, tren somasi ini benar-benar bisa makin meningkat dan siapapun bisa jadi korbannya.

“Ini yang kami khawatirkan, somasi ini bisa mematikan daya nalar dan daya kritik kita, apalagi jelang pemilu,” kata Ray. Dulu, aktivis dijerat dengan pasal-pasal karet misalnya mengganggu ketertiban umum. Tuduhan itu mudah dipatahkan. “Kini mereka menggunakan UU ITE,” kata Ray.

Tradisi Susilo Bambang Yudhoyono yang sering mensomasi, kata Ray, sebaiknya dipikirkan masak-masak. “Banyak alternatif untuk menjelaskan posisinya sebelum masuk ke ranah hukum yang bisa berakibat buruk pada efek lanjutan,” kata Ray.

Aktivis Save Our Soccer, Apung Widadi, menceritakan dirinya yang disomasi dan dilaporkan ke kepolisian oleh PSSI. Padahal, ia mengkritik bukan di ruang publik, yaitu di sebuah grup diskusi dengan keanggotaan terbatas di Facebook.

Ia akan dijerat dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). “Dalam satu bulan di Januari 2014, sudah ada 15 kasus serupa yang akan dijerat dengan UU ITE,” kata Apung.

Ada yang karena mempertanyakan transparansi anggaran sebuah parpol, ada yang mengkritik penggunaan anggaran lembaga publik, ada pula yang hanya dianggap mencemarkan nama baik politisi. “Di tengah tumbuhnya keberanian mempertanyakan transparansi, misal soal dana partai, kita mulai diintimidasi dengan hujan somasi,” kata Apung.

Banyak aktivis yang mengkritik atau meminta kejelasan informasi dengan cara benar dan sesuai konstitusi tapi akhirnya digugat, misal mempertanyakan anggaran parpol. “Tren somasi ini sudah mengarah ke pembungkaman kritik,” kata Apung.

Uchok mengatakan, Fitra pernah dua kali disomasi. Pengalamannya disomasi oleh partai dan politisi, membuat dirinya dan Fitre terancam karena itu berarti dia disuruh diam. “Harusnya mereka yang dikritik lebih dewasa, masyarakat kita makin terbuka,” kata Uchok.

Uchok mencontohkan gugatan yang diterima Fitra Nusa Tenggara Barat. “Di NTB kita ingin dialog dengan menanyakan dana partai. Harusnya politisi itu menjelaskan ke publik bukan mensomasi. Publik ingin tahu dari mana dana parpol dan itu dijamin oleh undang-undang. Jangan akhirnya menakuti kita agar kita diam dan tunduk pada kekuasaan,” kata Uchok. (AMR)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Posting Komentar

Item Reviewed: Jelang Pemilu, Hujan Somasi Mengkhawatirkan Rating: 5 Reviewed By: Endonesia.COM