728x90 AdSpace

Latest News
Selasa, 04 Februari 2014

Daripada Beli Lamborghini……

Muda, kaya raya, mati masuk surga. Pemeo sindiran, yang ditujukan untuk memotret cita-cita cara hidup anak-anak muda itu ternyata tak cukup bagi sebagian orang. Mereka juga butuh ruang ekspresi yang serius: menjadi calon legislatif (caleg).

Bagi yang kebetulan sudah memiliki modal kapital, entah hasil usaha sendiri atau warisan keluarga, tak menjadi soal untuk masalah pencalegan ini. Namun, bagi yang tak memiliki cukup dana, mereka harus kreatif mengolah modal sosial menjadi keunggulan.

Aryo Djojohadikusumo adalah sedikit diantara caleg dari kalangan anak muda yang mau berterus terang tentang dana kampanye. Keponakan Prabowo Subianto yang menjadi caleg dari Parta Gerindra ini buka-bukaan masalah dana yang dia keluarkan untuk menjadi caleg.

“Demokrasi itu tidak murah,” begitu kata putra Hasyim Djojohadikusumo ini membuka pembicaraan. Ia merujuk pada Barack Obama yang biaya kampanyenya mencapai triliunan rupiah.

Kata Aryo, Gerindra sudah capai dengan calon-calon legislatif yang tidak berkualitas namun tetap diajukan sebagai caleg. Karena itu, langkah Aryo adalah sebagai bagian untuk berusaha masuk dalam pertarungan bursa caleg.

Sayangnya, Aryo bukanlah siapa-siapa yang belum dikenal oleh publik, dan kebetulan ia memiliki segalanya dari sisi materi. Apa ada yang salah? Begitulah kira-kira logika yang ingin disampaikan Aryo di hadapan publik.

Di samping Aryo juga ada caleg petahana, Didi Irawadi caleg dari Partai Demokrat, caleg muda dan baru Charles Bonar Sirait dari Golkar, juga caleg muda dan baru dari PDIP Charles Honors. Diantara mereka, hanya Aryo yang terus terang masalah dana kampanye.

“Kenapa saya keluar begitu banyak uang? Ya karena saya bukan Jokowi. Kalau saya Jokowi, tak perlu keluar uang banyak, bahkan bisa surplus karena dapat sumbangan,” kata Aryo. Upaya lebih itu harus dilakukan Aryo agar publik tahu rekam jejak dirinya, setidaknya tahu dirinya sebagai pengurus Yayasan Arsari Djojohadikusumo.

Maka, hitung-hitungan Aryo menjadi sangat matematis dengan konsekuensi rupiah di ujungnya. “Di dapil saya ada sekitar 2,8 juta pemilih. Ada 150 tim inti yang digaji sejak April, total gaji mereka Rp 100 juta per bulan,” katanya.

Belum lagi sosialisasi di sekitar 1.000 RW, per RW dianggarkan Rp 500.000 sekali kunjungan. Belum lagi cetak spanduk, brosur, kaos, kartu nama.

“Saya cetak 210.000 kaos karena saya butuh 210.000 suara, cetak 210.000 kartu nama, 210.000 stiker, dan 210.000 selebaran visi misi. Total lebih dari Rp 6 miliar,” kata Aryo.

Tak hanya itu, Aryo juga memiliki pelayanan delapan unit ambulans gratis untuk warga. Biaya pengoperasian Rp 5 juta per hari. Beli mobil ambulansnya sendiri Rp 135 juta per ambulans. “Daripada belim lamborghini, lebih baik untuk rakyat,” kata Aryo menyindir.

Charles Honoris, caleg muda dari PDIP, tak mau buka kartu soal pengeluaran untuk kampanye. Charles Bonar Sirait, caleg muda dari Golkar, juga tak mau membuka kartu soal biaya kampanye.

Charles Honoris pun berusaha mengimbangi keyakinan Aryo dengan pernyataan diplomatis. “Kita dapat rezeki punya Jokowi. Dengan pola blusukan, biaya tak sebesar beli lamborghini. Bersyukur punya kader yang dicintai Jakarta,” kata Charles.

Didi Irawadi, caleg petahana dari Demokrat, mengatakan target pengeluaran kampanyenya tak akan lebih dari Rp 1 miliar. Memang rekan-rekannya di DPR kini sudah keluar biaya hingga Rp 5 miliar, namun menurut Didi, sudah tak realistis jika biaya pencalegan mencapai lebih Rp 1 miliar.

Akan ada konsekuensi yang dikhawatirkan bisa kontraproduktif dengan kinerja seseorang jika nantinya terpilih menjadi anggata legislatif. Bukan berarti Didi tak bisa mengeluarkan dana hingga Rp 5 miliar. “Lebih dar Rp 1 miliar sudah tak realistis,” begitu kalkulasi Didi.

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Bulan Bintang, Samsudin, mengatakan di PBB tak semua caleg mengeluarkan dana besar. “Di PBB, kisarannya puluhan juta sampai ratusan juta. Ada juga yang hingga kini belum keluar dana untuk sosialisasi, mungkin caleg seperti ini mainnya pas injury time,” kata Samsudin

Caleg dari Partai Amanat Nasional, yang kini menjabat sebagai Ketua DPP PAN, Didi Supriyanto, mengatakan untuk menekan biaya yang mahal, dirinya mengandalkan modal sosial partai yang sudah terbentuk hingga pelosok. Karena itu, tak jarang Didi hadir di acara-acara pengajian atau peringatan hari besar keagamaan.

Dengan demikian, tak semua pertemuan dengan calon pemilih ia agendakan sendiri. “Banyak yang mengundang saya, saya tinggal datang. Kalau dituruti, satu hari bisa tiga kali,” kata Didi.

Didi pun juga punya barisan relawan di berbagai daerah yang bisa menjadi koordinator sosialisasi di lingkungan sekitarnya. “Mereka tak saya bayar, bekerja karena kepercayaan saja dengan saya,” katanya.

Ketua Bidang Advokasi DPP Gerindra, Habiburokhman, mengatakan, Gerindra bahkan kini sudah membayar para saksi yang akan ditempatkan di TPS. “Saksi ini dibiayai caleg dan biaya caleg ini salah satu komponen yang menguras dana caleg,” kata Habib.
“Mereka ini sekaligus akan berperan mengorganisir dan mengkonsolidasi kekuatan,” kata Habiburokhman. Biaya yang ia keluarkan berkisar Rp 300 juta – Rp 400 juta. Masih cukup mahal dibanding caleg-caleg lain yang tak berduit.

Apakah demokrasi itu sedemikian mahalnya? Habiburokhman mengakui, dana yang dikeluarkan tiap caleg memang besar dan membuat biaya politik terlalu mahal. Namun, mereka rata-rata tak mau disalahkan. “Sebenarnya kita tak suka dengan kondisi sistem seperti ini. Kondisi ini sudah telanjur dibuat oleh rezim lama, kami sebenarnya menginginkan perubahan,” kata Habib. (AmirSodikin.com)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

2 comments:

  1. Cape mikirin yang begitu pejabat sudah dipastikan kampanye keluar uang banyak makanya setelah menjabat harus balik lah

    BalasHapus
  2. capek mikirin politik.
    entah mana yang benar entah mana yang salah.
    entah mana yang pencitraan & entah mana yang betul-betul ikhlas berjuang untuk rakyat.
    makhluk tuhan paling cantik

    BalasHapus

Item Reviewed: Daripada Beli Lamborghini…… Rating: 5 Reviewed By: Endonesia.COM