Lapisan Budaya di Tapak Bencana Kelud

Bencana alam sejak lama dicurigai sebagai salah satu penyebab perpindahan atau keruntuhan sebuah kerajaan di Nusantara selain sebab-sebab seperti pertikaian internal kerajaan, persaingan antarkerajaan, dan pertimbangan ekonomi. Ibu kota Kerajaan Majapahit, Trowulan, di tepian Sungai Brantas, misalnya, ditengarai mengalami banyak gangguan dari alam, salah satunya dari banjir lahar Gunung Kelud.

”Trowulan terletak di dataran aluvial yang terbentuk oleh aktivitas aliran Sungai Brantas yang sering menimbulkan banjir,” tulis Sutikno, Guru Besar Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam tulisannya, ”Kondisi Geografis Keraton Majapahit”, dalam buku 700 Tahun Majapahit (1992). Selain itu, dataran di sebelah barat Trowulan juga tersusun dari material vulkanik kompleks gunung api Arjuna dan Kelud.

Single content advertisement top

Aliran Sungai Brantas pada masa lalu sering bergeser karena terdampak aktivitas letusan Gunung Kelud. Pada masa awal Majapahit, dasar sungai ini diperkirakan cukup dalam sehingga bisa dilalui perahu hingga daerah Kediri. Namun, sungai yang menjadi urat nadi Majapahit ini kemudian banyak mengirim masalah ke Trowulan, berupa banjir.

Arkeolog dan penulis buku Masa Akhir Majapahit: Girindrawarddhana dan Masalahnya (2009), Hasan Djafar, termasuk yang menduga bencana alam ikut melemahkan kerajaan tersebut. Dari berbagai prasasti, Hasan Djafar menyimpulkan, pusat ibu kota Majapahit telah bergeser atau berpindah dari daerah Trik di tepi Sungai Brantas ke arah barat daya, yakni daerah Trowulan sekarang.

Walaupun tidak diketahui pasti kapan dan sebab perpindahan itu. Salah satu kemungkinan yang menjadi pertimbangan perpindahan ibu kota itu adalah seringnya Sungai Brantas dilanda banjir. Banjir Sungai Brantas yang merusak daerah sekitarnya sudah terjadi sejak masa Raja Airlangga, seperti terungkap dalam prasasti Kamalagyan (1037 Masehi).

Namun, Trowulan tampaknya tidak bebas dari bencana. Beberapa laporan penelitian dari beberapa situs di daerah Trowulan menyebutkan, sejumlah sisa fondasi bangunan dan tembok bata ditemukan dalam keadaan tumpang tindih dan saling menyilang sehingga tidak menunjukkan adanya hubungan struktural.

Adanya tiga lapisan budaya di tempat yang sama itu, menurut Hasan, hanya dapat dimungkinkan oleh adanya pembangunan berulang-ulang di atas runtuhan bangunan sebelumnya. ”Ini dapat terjadi karena adanya bencana alam disertai lumpur ataupun karena peperangan,” ujarnya.

Beberapa lapisan budaya di lokasi yang pernah terkena bencana itu menunjukkan bahwa peradaban pada masa lalu tetap dibangun di kawasan rentan terdampak bencana. Hal ini kemungkinan terjadi karena lokasi tersebut dipandang strategis dari sisi spiritual ataupun politik sehingga faktor bencana diabaikan atau dianggap bisa dikendalikan. Kemungkinan lain terjadi karena minimnya pencatatan sejarah sehingga bencana yang pernah terjadi di suatu tempat tidak diketahui oleh masyarakat yang belakangan menempati kawasan itu kembali.

Sumber: KOMPAS Cetak edisi Sabtu, 21 Jan 2012

Single content advertisement bottom
Don't miss the stories followPortal Berita Indonesia and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
prev-next.jpg

Kelud Revolusi Gunung Api: Arti Kelud

prev-next.jpg

Kelud Revolusi Gunung Api: Teknologi Sudetan

Related posts