Kelud Revolusi Gunung Api: Teknologi Sudetan

SELAMA lebih dari 1.000 tahun, upaya mengatasi letusan Kelud lebih terfokus pada lahar yang dikeluarkannya. Upaya pertama dan tertua yang tercatat dalam sejarah untuk mengatasi lahar Kelud adalah pembangunan sudetan dan bendungan dari Sungai Konto ke Sungai Harinjing atau sekarang dikenal sebagai Sungai Serinjing di Desa Siman, Kecamatan Kepung, Kediri.

Prasasti Harinjing yang ditemukan di sekitar Desa Siman mencatat upaya itu. Prasasti yang kadang disebut juga Prasasti Sukabumi dengan angka tahun 921 Masehi ini diperkirakan dibuat pada era pemerintahan Tulodong, memuat informasi tentang pembangunan bendungan (mula dawuhan) dan saluran sungai (dharmma kali) yang keduanya dibangun tahun 804 Masehi. Saluran sungai yang dimaksud adalah Sungai Harinjing, sekarang bernama Sungai Serinjing.

Menurut Dwi Cahyono, bendungan di Harinjing bertujuan untuk melindungi desa dari banjir dan terjangan lahar dingin. ”Dawuhan dan saluran sungai juga digunakan sebagai irigasi sawah basah maupun sawah kering atau pegagan,” katanya.

Pembangunan bendungan atau dawuhan dan saluran sungai merupakan strategi adaptasi terhadap kondisi lingkungan sekitar waktu itu. Walaupun, menurut Boomgaard dalam A World of Water: Rain, Rivers, and Seas in Southeast Asian Histories (2007), bendungan dan saluran sungai itu dibangun dengan alasan religius karena dibangun tokoh agama (pandita) dan kemungkinan terhubung dengan sebuah candi.

Single content advertisement top

Gunung-gunung aktif dan sungai-sungai yang fluktuatif membuat masyarakat zaman dulu harus menyiasati dan beradaptasi dengan berbagai keterbatasan. Meski demikian, di zaman dulu, mereka ternyata sudah memiliki rencana besar ke mana harus mengalirkan banjir dari hulu sungai di gunung hingga ke muara laut. Lombard sampai memetakan rencana besar penyaluran air tersebut sebagai salah satu strategi besar mengendalikan air dan mengurangi dampak bencana.

Pada era Belanda, upaya untuk mengendalikan letusan Kelud dilakukan dengan merekayasa Danau Kawah Kelud. Dengan berpatokan bahwa ancaman Kelud membesar seiring dengan besarnya volume air kawah, Belanda berupaya membuat saluran air guna mengurangi volume danau itu.

Kusumadinata (1979) mencatat, pada 11 Juli 1907, Belanda berupaya membuat saluran air di lereng barat Kelud. Dampaknya, tinggi muka air kawah turun 7,4 meter dan isi air berkurang 4,3 juta meter kubik. Namun, volume air danau saat itu, yang mencapai 40 juta meter kubik, masih dianggap menjadi ancaman besar.

Pada tahun 1919, penggalian terowongan untuk mengalirkan air danau kawah dilanjutkan. Air dari terowongan rencananya akan dialirkan ke arah Kali Bladak atau sering disebut Kali Badak. Namun, terowongan ini pernah runtuh dan pekerjaan terhenti. Pembuatan terowongan dimulai lagi pada 1923 dengan menggali 7 terowongan pembuangan utama dan beberapa saluran sekunder. Pembangunan ini sukses mengurangi volume air danau dari 40 juta meter kubik menjadi hanya 1,8 juta meter kubik.

Namun, seluruh terowongan itu rusak dan tersumbat saat Kelud meletus tahun 1951. Garis tengah danau yang semula 500 meter menjadi 700 meter, volume air danau pun bertambah menjadi 23,1 juta meter kubik.

Pada tahun 1953, pekerjaan perbaikan terowongan kembali dimulai dan selesai pada tahun 1955. Tahun 1966 dibangun terowongan Ampera sepanjang 20 meter. Dengan terowongan Ampera, volume air danau menjadi 4,3 juta meter kubik.

Analisis yang dilakukan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menjelang krisis Kelud 2007 menunjukkan bahwa jumlah korban Kelud berbanding lurus dengan volume air danau kawah. Saat Kelud meletus pada 1919, volume air danau kawah saat itu mencapai 40 juta meter kubik. Jarak luncur lahar letusan saat itu mencapai 37,5 kilometer dan jumlah korban tewas mencapai 5.110 jiwa.

Pada letusan Kelud tahun 1915, dengan volume danau kawah 1,8 juta meter kubik, jarak luncuran lahar letusan hanya 6,5 kilometer. Jumlah korban tewas pun hanya 7 orang. Sedangkan saat Kelud meletus pada 1966, volume air danau kawah mencapai 21,6 juta meter kubik. Jarak luncuran lahar letusan mencapai 31 kilometer dan korban jiwa mencapai 210 orang.

Kini, danau kawah yang selama ini menjadi ancaman terbesar Kelud telah menghilang, digantikan kubah lava yang terus membesar. Namun, antisipasi bencana Kelud tampaknya belum berubah. Pemerintah masih terfokus untuk menangani lahar Kelud dengan membangun sabo dam, ditangani oleh Proyek Pengendalian Lahar Gunung Kelud di Kediri yang bekerja di bawah koordinasi Balai Besar Wilayah Sungai Brantas (BBWS).

Sudjati, pelaksana teknik Proyek Pengendalian Lahar Gunung Kelud, mengatakan, sejauh ini belum ada perubahan strategi penanganan dampak letusan yang dilakukan lembaganya. Pihaknya masih fokus mengelola dampak letusan berupa banjir lahar, dengan membangun sabo dam baru maupun merawat yang sudah ada.

Dia beralasan, sisa material bekas letusan Kelud terdahulu masih terhimpun di gunung tersebut. Material yang terhimpun pada letusan tahun 1990 diperkirakan mencapai 6,5 juta meter kubik. Selain itu, masih ada sisa material dari letusan-letusan sebelumnya. Jika hujan deras mengguyur gunung, sisa material itu dipastikan akan hanyut masuk ke dalam sungai. ”Ancaman banjir lahar masih besar,” katanya menambahkan.

Sejak 2008, dengan bantuan dana Pemerintah Jepang, pihaknya telah merenovasi 3 sabo dam dan membangun 5 unit sabo dam baru di Blitar. Kegiatan ini masih terus berlangsung karena saat ini 70 persen sabo dam telah penuh berisi material.

Berdiri di depan kubah Kelud, Surono terlihat gelisah. ”Kelud tak bisa diprediksi bagaimana letusannya ke depan. Peta KRB (Kawasan Rawan Bencana) Kelud harus sudah diubah, tapi kami belum tahu bagaimana perubahannya ke depan. Maka, latihan-latihan terkait mitigasi bencana bisa jadi sudah tak relevan dengan versi KRB-nya, skenarionya sudah berubah,” katanya.
”Jarak luncur lahar letusan saat itu mencapai 37,5 kilometer dan jumlah korban tewas mencapai 5.110 jiwa.”

Lihat Juga Video ”Harinjing, Kisah Sudetan Tertua” di vod.kompas.com/harinjing dan ”Pesan Misterius Arca Kembar Arcopodo” di vod.kompas.com/arcakembar

Sumber: KOMPAS Cetak edisi Sabtu, 21 Jan 2012

Single content advertisement bottom
Don't miss the stories followPortal Berita Indonesia and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
prev-next.jpg

Lapisan Budaya di Tapak Bencana Kelud

Seruling Purnama Penataran: Meredakan Amarah Kelud dan Napak Tilas Spirit Majapahit

Related posts