JANET LOUISE YELLEN: Perempuan Paling Berpengaruh di Fed

Oleh: JOICE TAURIS SANTI

TAMPUK kepemimpinan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, telah beralih dari Ben Bernanke kepada deputinya, Janet Louise Yellen (67), yang dilantik Senin (3/2) lalu. Yellen adalah perempuan pertama yang menduduki jabatan tertinggi dalam 100 tahun sejarah bank sentral yang paling berpengaruh itu.
Memangku jabatan tertinggi di bank sentral AS bukan perkara mudah. Segala tindakan dan ucapannya menjadi perhatian banyak orang. Tak hanya pejabat Pemerintah AS atau rekannya sesama pejabat bank sentral di negara lain, tetapi juga para bankir swasta, manajer investasi, analis, ekonom, bahkan investor di sejumlah pasar finansial. Ibaratnya, jika gubernur bank sentral AS bersin saja, pasar finansial global bisa terguncang.

Para analis, ekonom, dan investor berupaya menginterpretasikan kebijakan bahkan pernyataan dari Gubernur Federal Reserve (Fed). Ingat saat Mei 2013, Bernanke menyatakan kemungkinan bank sentral AS akan mengurangi stimulus jika data perekonomian AS menunjukkan perbaikan?

Single content advertisement top

Hanya beberapa saat setelah pernyataan itu dia ungkapkan, pasar finansial di negara berkembang yang sedang menanjak berbalik arah menjadi melorot dalam satu malam. Pelarian modal besar-besaran terjadi di pasar modal, mulai dari Brasil, Rusia, hingga Indonesia, kembali ke negara maju.

Harga saham berguguran, nilai tukar dari negara yang bergantung pada dana investor asing, seperti real Brasil, rand Afrika Selatan, dan rupiah melemah. Bank sentral negara berkembang seolah berlomba menaikkan tingkat suku bunga untuk menarik lagi dana asing. Salah satu konsekuensi tingkat suku bunga tinggi adalah berkurangnya pertumbuhan ekonomi.

Pada awal pemberlakuan stimulus Fed, investor mencari imbal hasil tinggi di negara berkembang, seiring pemberlakuan pelonggaran moneter dan tingkat suku bunga mendekati nol di AS dan Eropa. Para pemilik modal menerjemahkan pernyataan Bernanke dengan menarik dana dari negara berkembang untuk diinvestasikan lagi di negara maju karena lebih aman dan tak tergerus kerugian akibat kurs yang melemah terhadap dollar AS.

Fed baru tegas menyatakan mengurangi stimulus 10 miliar dollar AS menjadi 75 miliar dollar AS pada pertemuan Desember lalu. Keputusan sama diambil pada Januari sehingga belanja obligasi Fed kini tinggal 65 miliar dollar AS per bulan.

Menjaga
Tugas Yellen adalah menjaga Fed tetap dapat mengurangi stimulus tanpa membuat takut para pelaku pasar sehingga pengalihan arus modal tak menjadi krisis baru di negara berkembang, lalu menurunkan pertumbuhan ekonomi global. Tantangan lain, ia harus menghadapi anggota Kongres dari Republik yang memandang Fed adalah operator ekonomi yang berbahaya.

Perempuan berambut perak itu juga harus berkomunikasi dengan para trader di Wall Street yang kurang mengenalnya. Yellen akan menghadapi ujian pertama pada 11 Februari karena harus menjelaskan kebijakan Fed di hadapan anggota DPR AS dan pada 13 Februari di hadapan Senat.

Pada 19 Maret, dia akan menggelar jumpa pers pertama. Jelas, penampilan perdananya ini mendapat liputan berbagai media. Apalagi dia jarang melayani permintaan wawancara. Walaupun sudah lama di bank sentral, dia belum mendapat liputan besar.

Banyak orang berharap Yellen melanjutkan kebijakan yang sudah digariskan Bernanke. Dia dikenal sebagai penganut dove, kebalikan dari hawk dalam kebijakan moneter. Artinya, dia lebih senang meningkatkan jumlah tenaga kerja, tingkat suku bunga rendah, dan memperbaiki perekonomian.

Akan tetapi, selama 12 tahun di Fed, dia tak pernah memberikan pendapat berbeda mengenai kenaikan tingkat suku bunga atau pengetatan moneter. Hal ini menunjukkan Yellen berada di tengah-tengah dan sosok yang yakin dengan konsensus di Fed.

Sebagai Deputi Gubernur Fed, Yellen adalah pendukung stimulus agresif Fed. Dia juga memelopori penetapan target inflasi Fed sebesar 2 persen. Dia yakin ada hubungan terbalik antara pengangguran dan inflasi.

Yellen mengatakan, membuat inflasi naik dengan bertahap dapat dianggap sebagai kebijakan yang bijaksana dan manusiawi jika kebijakan itu dapat meningkatkan produktivitas.

Keluarga ekonom

Setelah disumpah Gubernur Daniel K Tarullo di ruang sidang Dewan Gubernur Fed, Yellen berbaur dengan anggota staf bank sentral. Dia mengatakan tak ingin dipanggil chairwoman, tetapi dipanggil chair. Dia memberikan sinyal jabatan yang diembannya tak terkait jender.

Selama ini, Yellen biasa menjadi sedikit perempuan dalam kelompok lelaki. Mulai saat dia masuk program PhD ekonomi di Yale 1971 hingga bergabung dengan Dewan Penasihat Ekonomi Presiden Clinton.

Ayah Yellen adalah dokter yang membuka praktik di rumah. Dia bertemu profesor ekonomi dan penerima Nobel Ekonomi 2001, George Akerlof (73) saat bekerja di Fed, musim gugur 1977. Mereka menikah Juni 1978.

Ini pernikahan kedua bagi Akerlof, yang sebelumnya menikahi Kay Leong, seorang arsitek. Akerlof pada otobiografinya sebagai penerima Hadiah Nobel menyatakan, tak hanya kepribadian Yellen dan dirinya mudah melebur, mereka juga sependapat soal ekonomi makro. Perbedaannya, Yellen lebih mendukung perdagangan bebas ketimbang dia.

Keduanya memutuskan segera menikah karena tak mau berpisah setelah Akerlof mengajar di London School of Economics. Untungnya, Yellen berkesempatan mengajar juga di tempat sama. Mereka kembali ke Berkeley, Agustus 1980. Anak mereka, Robert, lahir Juni 1981. Robert kini berusia 32 tahun, seorang profesor ekonomi yang mengajar di Universitas Warwick, Inggris.

Yellen menggambarkan suaminya adalah mitra sepenuhnya. Akerlof mengatakan, saat Yellen sibuk di bank sentral, dia mengerjakan hampir semua pekerjaan rumah. Keduanya sering menulis bersama tentang berbagai topik, mulai soal orangtua tunggal hingga ketenagakerjaan. Salah satunya kajian pasar tenaga kerja dan tentang gaji rendah tak selalu meningkatkan lapangan pekerjaan.

Masalah ekonomi sudah mendarah daging pada dirinya. Banyak harapan dibebankan di pundak Yellen. Semoga dia dapat memenuhi harapan itu.

(Reuters/Time)
—————————————————————————
Janet Louise Yellen
♦ Lahir: Brooklyn, New York, AS, 13 Agustus 1946
♦ Pendidikan:
– Brown University bidang ekonomi 1967
– Yale University bidang ekonomi (PhD) 1971
♦ Karier:
– Periset pada Massachusetts Institute of Technology 1974
– Pengajar di Harvard University 1971-1976
– Ekonom divisi Keuangan Internasional Federal Reserve 1977-1978
– Pengajar di London School of Economics 1978-1980
– Pengajar di University California, Berkeley 1985-kini
– Anggota Federal Reserve System 1994-1997
– Ketua Dewan Penasihat Ekonomi Gedung Putih 1997-1999
– Pimpinan Federal Reserve Bank San Francisco 2004-2010
– Deputi Gubernur Federal Reserve 2010-2014
– Gubernur Federal Reserve 2014
♦ Suami: George Akerlof (73)
♦ Anak: Robert Akerlof (32)

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000004713711
Kompas 11 Feb 2014

Single content advertisement bottom
Don't miss the stories followPortal Berita Indonesia and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
prev-next.jpg

Menuntaskan Reformasi Birokrasi

prev-next.jpg

Merasa Gagal, Mashudi Mundur Dari Petrokimia

Related posts