728x90 AdSpace

Latest News
Senin, 27 Januari 2014

Politisasi Agama Mulai Mengkhawatirkan

Politisasi agama untuk kepentingan politik Pemilu mulai marak digunakan oleh beberapa tokoh partai politik dan calon legislatif. Hal yang lebih menyedihkan lagi, isu-isu suku, agara, ras, dan antargolongan, bahkan tema-tema penistaan agama lain masih menjadi materi kampanye.

Jika hal seperti itu terus terjadi, dikhawatirkan kualitas Pemilu 2014 bukannya lebih bagus tapi lebih buruk lagi. Apalagi, berbagai data membuktikan, tahun-tahun terakhir kepimimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kasus-kasus pembiaran intoleransi terus meningkat.

Karena itu, elemen Gerakan Kebhinekaan untuk Pemilu Berkualitas, pada Kamis (23/1), mendatangi KPU untuk berdialog tentang isu-isu sensitif seputar pemanfaatan simbol-simbol agama untuk kampanye Pemilu. Mereka yang hadir adalah Koordinator Abdurrahman Wahid Centre for Inter-Faith Dialogue and Peace Ahmad Suaedy, Direktur Eksekutif The Indonesian Legal Resource Center Uli Parulian Sihombing, Deputi Direktur Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi, dan Koordinator Komite Pemilih Indonesia Jeirry Sumampouw.

Dalam pernyataannya, mereka menuntut KPU agar memberi sanksi serius bagi setiap peserta pemilu yang berkampanye dengan menyebar kebencian, tuduhan penghinaan terhadap kelompok minoritas, terutama agama dan keyakinan atau paham keagamaan di luar arus utama. “Kami juga mendesak Polri dan Bawaslu menindaklanjuti pelanggaran kampanye menggunakan isu penodaan agama dan ujaran kebencian,” kata Jeirry Sumampouw.

Kepada KPU, Jeirry berharap agar bisa mempublikasikan hal-hal yang boleh dan tidak boleh digunakan para peserta pemilu dalam materi kampanyenya. Hal itu penting karena hingga kini masih banyak tokoh parpol dan caleg yang benar-benar memanfaatkan isu agama sebagai komoditas politik dengan berharap sentimen positif dari pendukungnya.

Jeirry mencontohkan, ada seorang pimpinan parpol yang mencela kelompok agama lain dan menganggap kelompoknya sendiri lah yang benar dalam beragama. “Materi seperti itu ternyata masih dipakai dalam setiap kampanye, ini jelas tidak boleh tapi banyak pihak yang menganggap hal ini sudah biasa,” kata Jeirry.

Jeirry juga mengingatkan, saat ini ada tren para caleg rajin mengunjungi komunitas agamanya dan bahkan mendatangi rumah ibadah untuk kegiatan kampanye. “Caleg biasanya bagi-bagi kartu nama atau bagi-bagi bingkisan di rumah ibadah, harusnya tidak boleh,” kata Jeirry.

Veri Junaidi menambahkan, ada juga caleg yang dalam kampanyenya menjanjikan jika terpilih maka dirinya akan memperjuangkan pelarangan pendirian rumah ibadah agama tertentu. “Hal-hal seperti ini yang luput dari perhatian, isunya terlalu sensitif, sulit melaporkan dan media massa juga sulit memberitakan,” kata Very.

Gerakan Kebhinekaan untuk Pemilu Berkualitas berharap, meningkatnya pembiaran terhadap kasus-kasus intoleransi tak direduplikasi dalam kampanye-kampanye parpol dan caleg. Mereka berharap pemilu bisa diselenggarakan secara fair dan adil untuk mencari pemimpin-pemimpin berkualitas di semua tingkatan yang mampu menjaga kebhinekaan Indonesia. (endonesia.com)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Posting Komentar

Item Reviewed: Politisasi Agama Mulai Mengkhawatirkan Rating: 5 Reviewed By: Endonesia.COM