728x90 AdSpace

Latest News
Senin, 27 Januari 2014

Partai Reformis Berharap Angin Buritan

Respons para kader Partai Amanat Nasional memuncak ketika Ketua Umum mereka, Hatta Rajasa, memaparkan pandangan soal kapitalisme, sistem pasar, dan keberpihakan pada masyarakat lemah. “Di ruang pasar, agenda perubahannya tidak saja mendorong terjadinya pasar yang terbuka namun juga pasar yang adil. Not only a free market, but also a fair market,” kata Hatta.

Tepuk tangan berkali-kali membahana di ruangan Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, tepatnya setahun lalu, ketika Hatta menyampaikan “8 Pandangan PAN” untuk menghadapi Pemilu 2014. Pidato kebangsaan Hatta tersebut disampaikan dalam temu kader PAN tingkat nasional.

Pidato paling “menyengat” para kader PAN adalah soal penolakan terhadap kartel penguasa impor pangan. “Petani tak berdaya oleh pangan impor, petani kita harus berkebun di tanahnya sendiri. Keadilan atas lahan harus kita wujudkan. Dan yang penting, tak boleh di bumi ini, kartel menguasai pangan yang merupakan hajat hidup orang banyak,” papar Hatta.

Kader PAN kini tak asing lagi dengan isu-isu strategis ekonomi, mulai dari tema pragmatis sehari-hari hingga tema ideologis. Maklum, pemimpin mereka juga menjabat Menteri Koordinator Perekonomian. “Renegosiasi kontrak yang tidak adil harus kita lakukan. Hak-hak negara berupa royalti, divestasi, nilai tambang, dan keikutsertaan peran masyarakat harus diwujudkan,” katanya.

Hatta juga menjelaskan pandangan PAN yang tidak setuju dengan neoliberalisme dan pasar bebas karena cenderung tidak menghadirkan keadilan. “Sebuah mekanisme pasar, yang tidak mampu mengontrol keserakahan. Pasar bebas tidak mampu memperbaiki distorsi pada dirinya, diperlukan kehadiran negara untuk melindungi yang lemah. Keadilan harus dihadirkan bagi semua,” katanya.

Di pidato Hatta, sebenarnya tak ada jargon-jargon dan yel-yel yang digunakan untuk memancing sorak-sorai kader. Bahkan, pidato Hatta yang khas ‘Hattanomics’ itu kadang terlalu ilmiah untuk akar rumput. Namun, kader PAN ternyata menangkap pesan itu.

Gaya khas Hatta yang kental dengan perspektif ekonomi ternyata bisa diterima kader-kader yang makin muda usianya. Pandangan Hatta menjadi roh perjuangan PAN yang dituangkan dalam “8 Pandangan PAN”, terasa ideologis dan menjadi pembeda dengan program partai lain.

Kompas kembali mengkonfirmasi pandangan Hatta tersebut dalam sebuah wawancara khusus dengan Hatta di rumah dinasnya, Kompleks Widya Chandra, awal Januari. Hatta tetap menggebu-gebu ketika ditanya menyangkut neoliberalisme, pasar bebas, dan investasi asing.

“Saya sangat tidak percaya dengan neoliberalisme dan saya juga tak percaya dengan pasar bebas, saya menentang itu,” kata Hatta. Alasannya, sistem neoliberal meyakini negara itu tak boleh ikut campur dalam pasar, ini bertentangan dengan nurani Hatta karena baginya bisa melindungi betul orang yang tak berdaya adalah negara.

PAN percaya pada pasar sosial yang berkeadilan. PAN menegaskan tidak menolak investasi asing. “Kita tidak antiasing. Tapi negara harus mengendalikan agar masih bisa memproteksi orang-orang yang tidak mampu dan tak terlindungi. Kalau ada orang bilang hilangkan subsidi itu tak bisa, tugas negara memberikan subsidi,” kata Hatta.

Sikap Hatta dikritik analis Kevin O’Rourke di dalam Wall Street Journal Asia, yang menyebut ‘Hattanomics’ sangat nationalistic dan protectionist. “Saya dibilang antiasing. Itu terjadi karena saya yang paling keras mengatakan mulai 12 Januari 2014 tak ada lagi dari perut bumi Indonesia dijual tanah ke luar negeri,” kata Hatta.

“Tapi saya percaya betul, kalau kita masih menjual itu, kita akan jadi bangsa kuli terus, bayangkan 40 juta ton bauksit diekspor ke China tiap tahunnya. Saya meyakini Indonesia akan maju bukan karena sumber daya alam, tapi karena sumber daya manusia,” jelas Hatta.

“8 Pandangan PAN” itu kemudian dijadikan acuan makro para kader PAN untuk bergerak menggaet pendukung dalam memenangkan Pemilu 2014. Para kader diserahi tugas masing-masing untuk menerjemahkan isu strategis tersebut dalam program kerja nyata.

Incar 70 kursi
Pada pemilu 2014 nanti, PAN mengincar 71 kursi di DPR RI dari sebelumnya 54 kursi pada Pemilu 2004 dan 46 kursi pada Pemilu 2009. “Sekarang kita ingin 70 kursi.Untuk mencapa sasaran itu kita telah buat program tadi. Program harus simpel dan mudah dipahami masyarakat, saya istilahkan kerja nyata untuk masyarakat,” kata Hatta.

“Saya tidak muluk-muluk. Misalnya, Jawa kita targetkan 30 kursi. Sumatera saya targetkan 19 kursi. Sulawesi 9 kursi. Kalimantan 3-4 kursi,” kata Hatta. Kader PAN harus bekerja keras untuk mengejar target itu.

Mesin-mesin politik PAN telah dihidupkan, dan bahkan para relawan PAN yang telah dikoordinasi para caleg PAN juga telah bekerja di lapangan. Ketua DPP PAN, Didi Supriyanto, mengatakan, tidak seperti di partai lain, para relawan PAN bekerja tanpa dibayar. “Mereka bekerja atas dasar kepercayaan saja kepada kami,” kata Didi.

Hatta menambahkan, hal yang kini menggembirakan, di semua survei, tren elektabilitas PAN selalu naik. “Walaupun besarnya variasi, ada yang 5 persen, 4 persen. Kalau ada yang memberi nilai 10 persen saya malah tertawa, berarti ada maksud tertentu. Bukan berarti PAN tidak bisa mencapai itu, ada ketidakcocokan antara survei dengan strategi caleg,” kata Hatta.

Diantara deretan pimpinan parpol lainnya, Hatta termasuk orang yang berpikiran positif terhadap survei. Bahkan, Hatta menggunakan survei untuk evaluasi dan berbenah. “Saya percaya terhadap survei, tentu survei yang benar. Oleh karena itu saya tak pernah apriori terhadap survei. Saya percaya dengan tren,” kata Hatta.

Kepercayaan parpol
PAN merasa ada kewajiban parpol dalam bidang pendidikan politik yang terbengkalai. Hal ini membuat apatisme masyarakat meninkat. “Saya akui parpol lalai mengerjakan pekerjaan besarnya pendidikan politik. Kalau rakyat mau mengaudit, bisa dilihat seberapa besar pengeluaran parpol untuk pendidikan politik,” kata Hatta.

Karena itu, PAN tetap akan mengedepankan pendidikan politik dalam berbagai kesempatan. Hatta merasa parpol harus meluruskan persepsi masyarakat yang salah tentang parpol. Parpol dianggap hanya mencari kekuasaan. “Inilah yang membuat pemilih pemula tak berhasrat menggunakan hak pilihnya,” kata Hatta.

Padahal semakin parpol dijauhi akan melahirkan orang-orang yang makin tak sesuai harapan publik. Oleh karena itu PAN mengajak media untuk membedah caleg-caleg itu agar adu kualitas bukan popularitas semata.

“Mestinya kalau mau melakukan survei, orang-orang itulah yang ditonjolkan. Jjika akan menuju ke sistem distrik ini akan jadi baik karena orang tak akan peduli kamu dari partai mana, yang penting kualitas orangnya,” kata Hatta. Jika kesadaran itu ada, maka parpol-parpol tak akan menempatkan caleg yang tidak baik.

Menggaet pemilih muda

Parpol harus mengajak pemilih muda untuk menggunakan hak suaranya tanpa harus mengajaknya masuk parpol. “Anak-anak sekarang makin kritis dan dia punya dunianya sendiri yaitu dunia digital, harus diajak. Ini salah satu strategi PAN untuk menggaet anak-anak muda dan aktivis,” kata Hatta.

PAN melibatkan aktivis karena mereka adalah orang-orang yang terseleksi di lingkungannya. Terseleksi pula dalam pendidikannya. Mereka sadar betul ketika memilih berorganisasi untuk mematangkan kualitas intelektual mereka. “Sejak mahasiswa mereka leader. Maka mereka harus diberi kesempatan,” kata Hatta.

Parpol harus membuka diri untuk publik dalam rekrutmen caleg. PAN membuka 30 persen untuk publik dengan seleksi dan tes psikologi. Menurut Hatta, cara inilah untuk memberi peluang dan kesempatan kepada anak-anak muda yang idealis.

Untuk masa mendatang, parpol juga harus membuka peluang untuk putra terbaik bangsa yang tidak menjadi anggota parpol untuk menjadi presiden. Memang ada orang yang dibutuhkan bangsa ini tapi tidak mau atau tak memiliki kesempatan berada di partai. “Parpol yang ikut pemilu berapapun persen dia dapat suara, dia berhak mencalonkan presiden,” kata Hatta.

PAN telah memiliki program wirausaha muda Maju bersama PAN (MAPAN). Mereka juga menggalang dukungan di berbagai media sosial. Beberapa tokoh yang dikenal anak-anak muda dan akhirnya memenangkan Pemilihan Kepala Daerah adalah Bima Arya, yang sebentar lagi dilantik menjadi Walikota Bogor.

“Kita banyak memiliki tokoh yang bisa menggaet anak-anak muda, misal Mas Bima. Kalau kita enggak masuk ke anak muda, nanti kita dikatakan tidak gaul. Ngapain anak muda pilih partai yang tidak gaul?” papar Hatta.

PAN juga mengklaim, bupati/walikota muda paling banyak berasal dari partai berlambang matahari itu. “Bupati termuda di Indonesia usianya 26 tahun dan itu dari PAN, dia Bupati Bangkalan. Kita banyak punya bupati dan walikota yang usianya 30 tahun,” kata Hatta.

PAN memiliki 35 bupati/walikota yang merupakan kader-kader PAN. “Lebih banyak lagi kita punya wakil bupati/walikota. Kita hanya punya dua gubernur. Kita memang memberi peluang yang besar kepada anak muda. Ketua Fraksi termuda ya dari PAN, Catur Sapto Edi,” kata Hatta.

Hatta menyadari, anak muda biasanya tak mau yang ribet-ribet, maunya yang simpel dan masuk akal. “Kalau diajak ngomong politik, mereka tidak tertarik. Tapi bisa kita ajak bagaimana mengembangkan seni, budaya, mengisi dunia anak-anak muda, mereka tertarik,” kata Hatta.

Strategi itu membuahkan hasil di beberapa kota. Walikota Kediri, misalnya, juga masih muda dan dimenangkan oleh anak muda dan ibu-ibu. Bima Arya di Bogor juga dimenangkan anak-anak muda. “Jadi kalau anak muda itu, ada harapan karena dia bisa jadi motor, dia tak mau uang. Yang bisa menggerakkan anak-anak muda itu harapan dan mimpi. Bukan uang,” kata Hatta.

Lalu, apa alasan orang harus memilih PAN menurut Hatta? “Pertama, PAN memiliki program-program yang jelas dan kami meyakini betul apabila diberi kesempatan untuk itu, kita bisa membuktikan untuk memenuhi mimpi-mimpi masyarakat. Sebagai partai reformis, kita meyakinkan kepada calon pemilih bahwa kita pilihan tepat,” kata Hatta.

Angin buritan
Dalam sebuah acara di depan para caleg PAN setahun lalu, Ketua Majelis Pertimbangan Pusat PAN, Amien Rais, menargetkan PAN menyapu 11 persen suara. “Ini bukanlah sesuatu yang jauh dari kenyataan. Tentu saja, para kader harus melipatgandakan perjuangan. Dulu, PAN sukses dengan manuver menggalang poros tengah hanya dalam waktu beberapa bulan saja,” katanya.

Keyakinan itu, menurut Amien, didukung oleh “angin buritan” yang saat ini menerpa PAN. “Saat ini, angin buritan sedang berhembus kepada PAN karena PAN partai yang konsisten. Bukan karena partai lain bermasalah,” kata Amien.

Karena itu, ia berharap agar “angin buritan” yang mulai menyapi itu jangan disia-siakan. “Rakyat dengan logika dan harapannya akan menentukan partai mana yang lebih bisa memimpin negeri ini. Kita sudah berkomitmen mudah-mudahan jadi kenyataan,” katanya.

Hampir setahun kemudian, dalam acara pelantikan DPD PAN Jakarta Utara pada Sabtu (28/12), Amien Rais mengatakan PAN menargetkan masuk dalam empat besar perolehan suara pada Pemilu 2014. PAN masih konsistem mengusung tema kedaulatan ekonomi dan penegakan hukum yang tidak tebang pilih.

Semua itu diharapkan bisa terwujud jika PAN setidaknya bisa masuk peringkat empat besar dalam Pemilu 2014. Kini, pemilu tinggal menghitung hari, waktu akan membuktikan apakah angin buritan benar-benar berhembus menuju PAN. (AmirSodikin.com)

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Poskan Komentar

Item Reviewed: Partai Reformis Berharap Angin Buritan Rating: 5 Reviewed By: Endonesia.COM