728x90 AdSpace

Latest News
Jumat, 20 Desember 2013

Antara Gus Dur dan Nelson Mandela

Tanggal 5 Desember 2013 terdengar di berbagai media meninggalnya Nelson Mandela, seorang tokoh dunia yang dipenjara selama 27 tahun karena memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan orang kulit hitam yang notabene menjadi penduduk asli Afrika Selatan. Namun akhirnya ia berhasil menjadi Presiden pertama kulit hitam di Afrika Selatan pada tahun 1994.

Kepergiannya meninggalkan duka tak hanya bagi negaranya, atau benua Afrika tapi seluruh dunia. Tengoklah, ada 91 Pemimpin Negara yang datang memberikan penghormatan terakhir di makamnya. Hebatnya lagi, acara pemakamannya juga menjadi ajang perhelatan agenda diplomasi mereka yang hadir.

Dalam sebuah wawancara dengan kantor berita CNN, anak lelakinya bercerita Nelson Mandela bukanlah orang terus menerus serius dalam hidupnya. Contohnya ketika hujan lebat, ia berkata pada anaknya, dahulu ia sering berlari telanjang ketika hujan. Rasanya enak dan harus dicoba. Tentu saja anaknya tertawa-tawa pada usulan sang ayah. Nelson ingin menjadikan orang di sekitarnya tidak tegang, nyaman dan senang.

Kisah itu mengingatkanku kembali kepada Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur. Akhir bulan Desember 2013 menjadikan tahun keempat peringatan alm. Gus Dur meninggalkan kita. Ini berarti baik Gus Dus dan Nelson Mandela sama-sama meninggal di bulan Desember.

Suatu ketika secara mendadak saya diminta untuk turut menyambut dan menemani Gus Dur yang sedang bertandang ke acara di kantor kami. Tentu saja Gus Dur akan memberikan pidato dan opininya nantinya. Namun di ruang tunggu itu, hatiku serasa grogi mengingat Gus Dur menjadi tokoh nasional, yang ketika itu menjabat sebagai Presiden RepubIik Indonesia.

Setelah mencoba bersalaman dengan Gus Dur, namun rupanya beliau tidak terlalu melihat, maka saya mengambil tempat duduk di sebelah kanan tangannya. Emm..orang kepercayaan? Saya? Oh…bukan! Bukan! Kebetulan tempat-tempat lain sudah ada yang menduduki sehingga saya harus segera duduk karena ada petugas yang akan segera menutup pintu. Jadi, singkatnya saya duduk persis di samping kanan Gus Dur.

Nah, karena suasana agak hening dan mungkin saja beberapa orang disitu tampak grogi seperti saya, maka Gus Dur pun melontarkan cerita-cerita. Ceritanya sering kali tentang kritik pada masyarakat Indonesia sendiri. Tapi juga tak jarang tentang orang muslim dan kehidupan pesantren. Nah, karena beliau wajahnya sering tampak serius waktu cerita yang terakhir ini, saya ragu-ragu untuk harus bersikap apa. Khawatir ada yang tersinggung, karena kisah para santri.

Tersenyumkah? Sedikit tertawakah? Atau tertawa bunyi juga boleh? Sepertinya yang lain juga merasa seperti saya, walau kami gak kompakan; karena ruangan jadi hening. Sampai, akhirnya Gus Dur mengeluarkan kata kuncinya:

“Gitu aja kok repot!”

Hahahahaha….. Oh My God, aku benar-benar mendengarkan istilah popular ini ‘live’ di sampingku. Bangga rasanya. Seketika semua orang tertawa-tawa bebas mendengarkan kalimat password Gus Dur yang menandakan ia sendang bercerita santai. Saya sungguh salut dengan Gus Dur, diantara berbagai keterbatasannya tapi secara spirit dan tekadnya kuat, serta berani.

Mungkin hanya Gus Dur yang bisa aman berseloroh tentang berbagai hal yang bagi sebagian orang cukup sensitive. Ia menunjukkan walaupun ia anak santri dan juga darah biru pendiri Nahdlatul Ulama, Gus Dur tak sekalipun menunjukkan arogansi dan minta dihargai secara berlebihan. Salut!

Kembali kepada Nelson Mandela, sayangnya aku tak punya kesempatan untuk bisa duduk di sebelah kanannya, walau aku juga bukan orang kepercayaan Mandela. Tapi, setelah kupikir dan kuyakini, Nelson Mandela dan Gus Dur kalau berjumpa pasti bisa gayeng. Mungkin tidak salah jika aku berharap mereka bisa jumpa di alam sana. Sampai jumpa Nelson Mandela dan Gus Dur.

Catatan Susanna Sunarno di Wina
Wina, 20 Desember 2013
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Poskan Komentar

Item Reviewed: Antara Gus Dur dan Nelson Mandela Rating: 5 Reviewed By: Endonesia.COM