4:01 pm - Monday September 30, 9067

Soetrisno Bachir Bantah Tahu Aliran Dana dari Proyek Alkes

Pengusaha dan juga mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Soetrisno Bachir, dihadirkan sebagai saksi dalam sidang perkara dugaan korupsi alat kesehatan dengan terdakwa Ratna Dewi Umar. Dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu (20/6), Soetrisno ditanya soal aliran dana sebesar total Rp 1,4 miliar ke rekening dirinya dan rekening perusahaan Soetrisno, PT Selaras Inti Internasional.

Ratna Dewi Umar adalah Direktur Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan, sekarang Kementerian Kesehatan. Ia didakwa melakukan korupsi pengadaan alkes pada tahun 2006 dan 2007 yang merugikan keuangan negara Rp 50,4 miliar. Di persidangan, Soetrisno banyak mengaku tidak tahu atau lupa terhadap detail transfer uang tersebut. Ia membantah tahu bahwa uang itu berasal dari aliran keuntungan proyek alkes.
Sebagai Komisaris PT Selaras Inti Internasional, Sutrisno Bachir tidak mengetahui detail uang Rp 1,2 miliar yang ternyata berasal dari proyek alat kesehatan. Uang yang merupakan pengembalian utang dari adik iparnya, Nuki Syahrun, itu ditransfer oleh Nuki Syahrun sendiri.

“Uang itu untuk pengembalian utang, soal uang itu apakah dari hasil bisnis alkes saya nggak tahu,” kata Soetrisno. Nuki juga bekerja di yayasannya, yaitu Soetrisno Bachir Foundation. Menurut Soetrisno, Nuki memiliki utang Rp 3 miliar yang diajukan sebagai pinjaman ke perusahaan PT Selaras Inti Internasional. Pengajuan utang pun disampaikan ke jajaran direksi.
Tercatat bahwa utang tersebut dikembalikan Nuki dalam dua tahap, yaitu pertama Rp 225 juta ke rekening pribadi Sutrisno dan Rp 1,2 miliar ke rekening perusahaan PT Selaras. Soetrisno kembali menegaskan ia tak tahu detail pengembalian dana itu karena diurusi oleh direksi. “Yang mengelola board of director, makanya saya betul lupa detailnya,” kata Soetrisno.

Dalam sidang sebelumnya, Nuki yang juga staf pemasaran Heltindo mengatakan uang yang dikirim tersebut merupakan komisi dari pengurusan pengadaan alat kesehatan. Komisi sebesar Rp 1,7 miliar didapat setelah memasok rontgen dari PT Airindo Sentra.
Hakim sempat menguji kejujuran Soetrisno karena dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP), disebutkan uang itu sebagai investasi. ” Di dalam BAP saudara menerangkan uang itu sebagai investasi. Tapi di persidangan saudara bilang bayar utang,” tanya Hakim Anggota I Made Hendra.

Single content advertisement top

“Terus terang saya lupa. Tapi seingat saya buat membayar utang,” jawab Soetrisno. Soetrisno juga lupa soal detail konfirmasi pembayaran dari Nuki karena yang mengetahui detail keuangan adalah jajaran direksi.
Saksi dari pengurus Sutrisno Bachir Foundation, Yurida Adlaini, yang juga didatangkan di persidangkan membenarkan ada aliran dana ke rekening Soetrisno. “Betul memang ada aliran dana ke Soetrisno Bachir,” kata Yurida.
Jaksa Kiki Ahmad Yani sempat mengungkapkan bukti-bukti transfer pengiriman di depan majelis hakim yang kemudian diiyakan oleh Yurida. Yurida juga membenarkan bahwa ia tahu ada transfer uang Rp 222 juta dari Nuki ke rekening Soetrisno. (AMR)

Single content advertisement bottom
Don't miss the stories followPortal Berita Indonesia and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Pembeli Online Butuh Kenyamanan dan Pilihan

Galaxy NX, DSLR Samsung Berbasis Android

Related posts